
Cempaka mengehela napas panjang dan berlari mengejar taksi manakala mobil yang ia tumpangi tiba-tiba macet di tengah jalan. Wanita itu panik bukan main dan berusaha untuk mengejar taksi yang kebetulan melintas.
Cempaka tak menyadari jika di depannya ada orang. Ia pun menubruk bahu seseorang hingga membuat dirinya hampir terjatuh. Merasa kaget yang luar biasa, Cempaka pun menatap kepada orang yang ia tabrak sekaligus yang telah menolong dirinya yang hampir terjerembab ke tanah jika tak ada dia.
"Terimakasih. Maaf, saya buru-buru."
Cempaka hendak berlari tapi si pria yang sudah ditabrak oleh Cempaka tersebut tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Ia menarik tas Cempaka hingga Cempaka pun lari di tempat. Merasa jengah, Cempaka berbalik dan menaikkan satu alisnya.
"Begitu kah cara anak zaman sekarang meminta maaf?" tanyanya dengan nada yang dingin.
Jika seperti ini Cempaka ingat akan seseorang. Persis seperti Naskala di saat ia menjadi orang judes yang amat dibenci oleh Cempaka.
"Emang kenapa? Cempaka buru-buru."
"Cempaka?" tanyanya dan ia pun mengangguk seakan telah mengerti. "Nama yang cukup bagus."
"Terima kasih. Tapi Cempaka buru-buru."
"Etss!!" Dia pun menarik tangan Cempaka. Cempaka terkejut dan refleks melepaskannya.
"Astaghfirullah bukan mahram Om."
"Maaf."
"Kenapa lagi sih Om?"
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja dengan mudahnya."
"Terus Cempaka harus ngapain."
"Kamu kenapa lari-lari?" Orang itu merasa sangat kagum dengan Cempaka. Terlihat dari tadi dia tak bisa menghentikan matanya untuk tak menatap wanita cantik di depannya ini.
"Buru-buru."
"Kenapa buru-buru?"
"Kejar taksi."
"Ikut saya saja," tawarnya yang ditolak mentah-mentah oleh Cempaka. Ia adalah istri yang tahu agama dan dimana dirinya tak boleh bersama pria lain yang bukan mahramnya tanpa seizin suaminya.
Demi memberikan kehormatan kepada suaminya sendiri Cempaka menolak orang yang sudah memberikan niat baik padanya. Lagipula Cempaka tak mengenal pria ini dan juga orang ini sangat membuatnya takut.
"Maaf Om. Cempaka buru-buru. Cempaka pake taksi aja."
"Kenapa tidak mau ikut saya?"
__ADS_1
"Bukan mahram," tegas Cempaka yang membuat pria itu tampak kagum kepada Cempaka.
"MasyaAllah. Haruskah saya bilang seperti itu?"
"Serah Om aja."
Orang itu mengangguk dan menyehatkan kartu namanya kepada Cempaka. Cempaka tampak bingung dan mengambil saja kartu nama pemberian pria itu.
"Di situ lengkap tentang data saya. Yang pastinya nama saya adalah Omar."
Cempaka terkejut saat melihat marga dari pria itu. Sama seperti marga Reyhan dan selain itu alamat rumahnya juga sama.
Deg
Cempaka tak percaya dan langsung menatap ke arah Omar. Ia mengulum ludahnya dengan susah payah. Dikira oleh Omar jika saat ini Cempaka terkejut karena ia merupakan orang kaya, alih-alih kagum tapi malah sebaliknya, Cempaka sangat takut dan ada rasa benci serta marah di wajahnya saat mengetahui jika inilah sosok yang sudah menjebak sepupunya sendiri.
"Orang Bandung?" Cempaka harus berakting sebaik mungkin. Agar tak dicurigai maka dirinya harus lebih tenang sedikit.
"Ya. Kebetulan sedang ada kerjaan di sini."
"Kerjaan apa?" tanya Cempaka dengan penuh waspada.
Akan tetapi pria itu terdiam beberapa detik. Tampak wajahnya tegang tapi tak lama kembali normal.
"Kerjaan sesuatu. Biasa pengusaha."
"Oh. Tapi saya buru-buru dan harus pergi ke kampus sekarang."
Kebetulan ada taksi yang melintas dan Cempaka langsung memberhentikannya.
"Maaf Om saya pergi dulu."
Ia pun mengangguk. Pandangan Omar tak bisa berhenti dari sosok Cempaka. Ada senyum miring di wajahnya. Ia pun merogoh kantong celananya lalu kemudian mengambil ponsel miliknya.
Ia menekan nomor seseorang untuk dihubungi.
"Kau ada tugas kali ini."
"Siapa yang akan diselidiki?"
_________
Rasa khawatir Naskala pun meningkat saat ia mengetahui jika pelaku utama di balik kejadian besar yang meneror keluarganya adalah Omar. Tak pernah disangka-sangka oleh siapapun jika dialah dalang utamanya.
Omar adalah sepupu dari Reyhan, yang Naskala tahu. Ia menertawakan kebodohannya yang bisa terkecoh akan hal ini. Selama ini Naskala menganggap jika ayah dari Reyhan lah pelaku utamanya, akan tetapi ada lagi sosok yang lebih hebat dan bisa mengendalikan ayahnya Reyhan, yaitu Omar. Mungkin selama ini Omar tengah menertawakan kebodohannya yang salah mengira orang.
__ADS_1
Apalagi saat ia mengetahui daftar riwayat hidup Omar yang tidak main-main. Ia adalah penjahat besar dan tak ada yang mengetahui identitasnya. Selian itu pengalaman yang tak terduga ternyata ia banyak meraup keuntungan dengan cara memperjual belikan data milik seseorang.
Itu artinya Omar bukan orang sembarangan, ia adalah seorang hacker yang sangat jahat tapi tak tercium. Selain itu ia juga seorang pisikopat.
"Kali ini benar-benar sangat mengejutkan. Fakta yang kita temukan adalah sebuah hal yang tak terduga. Ku dengar dia juga ada di sini. Apa mungkin ada kejutan yang akan dia berikan kepada kita yang tak bisa kita prediksi?" tanya jenderal Ahsan masih menerka-nerka.
"Benar-benar penjahat kelas kakap. Ku kira hanya ayah dari Reyhan yang dalang utama dan jenderal..." Naskala diam tak ingin menyebut namanya karena ini masih perduga walau buktinya sudah sangat kuat. "Ternyata mereka lebih kuat."
"Rapat hari ini selesai. Ingat tim inti harus melaksanakan tugas malam ini. Kita harus berjaga sebelum sesuatu yang tak diinginkan terjadi."
Segala daya upaya dilakukan untuk mengantisipasi. Semoga tak ada kejahatan yang akan merajalelanya seperti ini.
Karena rapat sudah selesai satu persatu orang keluar dari ruangan itu. Naskala pun masih diam di tempat dengan tangannya yang mengepal.
"Aku tahu jika kau sangat dendam kepada dia."
"Bagaimana tidak dendam. Dia benar-benar sangat licik. Dia telah membunuh banyak orang terdekat ku."
"Aku tahu. Tapi kau tidak boleh terbawa emosi. Ini bukan hanya masalah pribadi mu akan tetapi ini juga masalah negara. Tidak hanya kau yang ingin menangkap penjahat itu tapi juga kita sebagai penjaga negara juga akan melakukan itu. Terlebih dia telah membunuh jenderal besar."
Naskala menarik napas panjang dan memejamkan matanya. Ia pun beberapa kali mengucap tatkala hatinya meronta-ronta ingin balas dendam.
"Astaghfirullah."
"Banyak-banyak mengucap mungkin itu lebih baik."
Derrttt
Ponsel Naskala bergetar. Ia pun menarik napas panjang dan berusaha lebih tenang lagi saat melihat siapa yang telah menelponnya. Ia tak ingin Cempaka curiga kepada-nya.
"Iya Assalamualaikum?"
"Wa'alaikumussalam. Mas tadi Cempaka ketemu sama sepupunya Reyhan itu. Dia seperti natap Cempaka terus dan dia juga sangat aneh. Cempaka takut, tapi pas saat itu Cempaka pengen banget ngamuk ke dia karena udah buat jahat ke Reyhan." Cempaka memang sangat suka bercerita mengenai pengalaman yang telah ia lewati sebagai bahan candaan di waktu gabut.
Sedangkan reaksi Naskala berbeda dengan Cempaka yang hanya menganggap itu adalah sebuah cerita biasa. Naskala sangat tegang dan langsung menatap Jenderal Ahsan.
Kebetulan jenderal Ahsan mendengar cerita Cempaka di seberang sana.
"Ini gawat," gumam sang jenderal.
Jantung Naskala mencelos dan ia mengulum ludahnya untuk mengalihkan perasaan gugupnya. Ia harus bisa mengendalikan diri agar tak terpancing.
________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.