
Naskala dengan senyum mengembang terus melawan musuh yang mencoba untuk membunuhnya. Ia menatap Omar yang hanya menyaksikan pertemuan antara pemberontak dengan pihak aparat.
Wajahnya tampak tenang dan tak ada beban sama sekali. Naskala membenci pria itu. Omar benar-benar angkuh dan juga sombong. Naskala tak akan membiarkan orang seperti itu berkeliaran di luar sana.
Ia menghampiri pria itu dan berusaha untuk melumpuhkannya. Tentu saja menangkap Omar bukanlah sesuatu yang mudah.
Omar tak membiarkan dirinya tertangkap. Ia pun melawan Naskala.
"Kau benar-benar keparat. Kau telah membunuh ayah dan ibu ku dan sekarang kau mau mencoba merebut istri ku. Kamu pikir kamu bisa melakukan itu?! Aku akan memenjarakan mu dan membuat mu jera dengan semua perbuatan mu. Kau tahu mungkin bisa saja kau dihukum mati."
"Aku tidak peduli. Apa yang kamu katakan hanyalah omong kosong belaka. Kamu pikir bisa melakukan itu?" Tampak Omar sangat meremehkan Naskala.
Ia percaya jika dirinya bisa melawan pemerintah. Maka dari itu tak ada penyesalan sama sekali di wajahnya.
"Kamu pikir aku akan menyerah ketika semua orang memburu ku?"
Dor
Tiba-tiba Omar menembakkan pistolnya ke arah Naskala. Tapi untung refleks Naskala sangat baik hingga ia pun bisa menghindari tembakan itu.
Omar tertawa tipis dan kemudian pergi yang lalu dikejar oleh Naskala.
Tidak hanya Naskala yang mengejar Omar akan tetapi anggota yang lain juga memburu pemeran utama yang sudah menghancurkan pemerintahan dengan ulahnya yang tak bisa termaafkan.
Tembakan serta dentuman keras terus memenuhi ruangan itu. Bahkan Masyarakat di luar sana ramai-ramai berkumpul untuk menyaksikan penangkapan penjahat kelas kakap.
Tapi ada di antara merek berusaha untuk bersembunyi.
"Jenderal!"
Naskala sangat terkejut saat Jenderal Ahsan tertembak. Ia menghampiri jenderal Ahsan dan menyentuh punggungnya.
"Pergilah Naskala. Tangkap dia. Jangan hiraukan aku. Aku pasti selamat. Jangan buat perjuangan kita berakhir dengan sia-sia."
Naskala mengangguk dan kembali mengejar Omar yang sangat cepat bahkan para polisi pun kewalahan. Ini adalah kali pertamanya dalam sejarah ada pemberontak selincah ini.
Dibutuhkan waktu dan tenaga yang sangat banyak untuk melawan mereka.
Dor
Naskala menembak kaki Omar hingga membuat pria itu pun lari terseret-seret.
Para polisi lain siap untuk menangkap Omar yang sudah tak berdaya. Tapi meraka langsung terhenti saat melihat banyak pasukan Omar yang datang dan melawan aparat.
__ADS_1
"Ini gawat."
Naskala terkejut menatap ke arah gerombolan itu yang begitu banyak membawa senjata.
"Kita harus menambah personil lagi."
Naskala berusaha untuk mendekati Omar yang sudah roboh tapi masih percaya diri.
"Kamu pikir akan selamat?" tanya Naskala dan hendak memborgol tangan Omar.
Omar tampak membiarkan Naskala mendekatinya. Naskala waspada jika ada bahaya yang tengah mengincarnya.
"Kamu pikir kamu akan selamat?"
Srashhhh
Omar menusukkan belatinya di perut Naskala hingga darah muncrat ke wajah Omar. Naskala menatap Omar yang hanya tersenyum miring ke arahnya.
"Naskala! Selamat tinggal."
"Kau!!" Naskala pun menembak beberapa kali tubuh Omar hingga ia langsung tersungkur ke tanah hingga membuat Omar pun langsung tak berdaya dalam keadaan yang sekarat. Naskala berusaha untuk berdiri akan tetapi baru saja ia hendak melangkah tiba-tiba 3 peluru menembus belakangnya sekaligus.
Naskala berbalik dan hendak menatap orang yang sudah melakukan hal tersebut kepadanya. Akan tetapi tikaman di wajahnya hingga membuat luka besar di sana sontak membuat Naskala langsung roboh ke tanah.
"Cempaka! Maafkan Mas. Mas tidak bisa menepati janji Mas. Jaga anak kita sayang."
Tiba-tiba tubuhnya merasa melayang. Lalu setelahnya Naskala merasa jika ia berada di dalam air. Ia pun tenggelam dan hanyut di bawa arus sungai yang sangat deras.
Orang-orang Omar baru saja membuang Naskala ke dalam sungai.
_________
Cempaka menangis histeris di depan tempat TKP. Garis polisi di sana terpasang dan Cempaka tak tahu harus bagaimana lagi saat ia tak sengaja mendengar jika Naskala hilang.
"Hiks MAS!!" Cempaka berteriak nyaring.
"Cempaka tenanglah Nak."
Cempaka dengan penampilan yang penuh urak-urakan pun menatap orang yang baru saja memberikannya nasehat. Ia tertawa getir dengan mata yang berkaca-kaca.
"BAGAIMANA AKU BISA TENANG JIKA SUAMI KU HILANG!"
"Lapor!!" Cempaka menatap tim sar yang memberikan laporan kepada polisi.
__ADS_1
Ia memberikan sepatu Naskala yang ditemukan di sungai. Cempaka yang melihat itu langsung berlari dan merebut sepatu milik Naskala yang dibelikannya saat ulang tahu pria itu.
Cempaka tersengal-sengal dan menangis menatap sepatu tersebut yang sudah sobek-sobek.
"Ini sepatu Naskala."
"Maaf Mbak kita harus membawa sepatu ini sebagai barang bukti."
Cempaka menyerahkan sepatu itu kepada pihak aparat.
"Di mana suami saya? Di mana?!!!" teriak Cempaka dan menarik baju sang tim SAR itu.
"Tenanglah Cempaka."
"Tidak aku tidak bisa tenang!! Suami ku. Aku sedang mengandung! Aku butuh suami ku." Cempaka tersungkur di tanah.
"Tolong bawa Cempaka ke rumah sakit."
"Baik Pak."
"Apa Naskala suami ku hanyut?" tanya Cempaka kepada sang suster yang memapahnya.
"Belum tahu. Tapi semoga saja Bapak Naskala bisa selamat."
Cempaka mendengar bisik-bisik orang yang sangat prihatin terhadap meninggalnya beberapa perwira juga dari pihak musuh.
"Sangat kasihan yah."
"Apalagi Bapak Naskala. Istrinya direbut dan dia ingin menyelamatkan istrinya tapi mengorbankan dirinya. Aku rasa dia tidak akan bisa selamat dengan luka-luka di tubuhnya."
"Ah ad yang melihat katanya dia ditembak beberapa kali dan bahkan ditikam."
"Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak."
Cempaka yang mendengar bisik-bisik itu kian terganggu mentalnya. Ia pun menangis tanpa suara lalu kemudian pingsan.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit."
Cempaka di masukkan ke dalam mobil ambulan lalu dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk ditangani.
________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.