
Sukar memang untuk memerintahkan para anggota yang lainnya serta institut kepolisian untuk menyelidiki pengiriman barang yang akan dilakukan ke Mexico di Tanjung Priok. Semuanya membutuhkan kekuasaan sementara Naskala tak memiliki itu. Walau jabatannya tergolong lumayan tinggi tapi dia juga tak kuasa untuk mengendalikan kemiliteran. Terlebih ada orang dalam yang berkuasa.
Naskala bukan lagi anak jendral yang menjabat dan berpengaruh yang masih bisa memberikan beberapa pendapat. Ia hanyalah tentara biasa yang mungkin laporannya tak akan pernah dianggap karena sudah sangat jelas ada salah satu dari jendral besar di sini yang berusaha untuk mengkhianati negara. Jenderal itu berusaha untuk menutup akses orang-orang yang ingin membongkar kejahatan dirinya.
Sudah pasti Naskala kalah telak dan tak akan bisa memerintahkan untuk penyelidikan, kecuali ia mengembangkan kariernya hingga naik pangkat. Naskala pun diam-diam mengambil keputusan sendiri dan melakukan semuanya tanpa sepengetahuan atasan mereka.
Ia diam-diam mengirim surat ke Jakarta untuk pihak kepolisian dan juga tentara di sana. Ia membawa nama besar ayahnya agar suratnya itu diterima. Jika ia berhasil maka torehan besar untuknya. Apalagi Reyhan mengatakan sabu yang akan dikirim ke Mexico cukup banyak.
Naskala mengirim surat itu penuh dengan sangat hati-hati sebab di dalam kepolisian di sana juga terdapat beberapa anggota yang nyeleneh. Tentunya masih dari kaki tangan mereka yang melebarkan perjalanan mereka sehingga bisa lolos saat pemeriksaan di pelabuhan.
Kali ini rencana itu dilakukan dengan sangat hati-hati dan dijaga ketat. Hanya ada dari beberapa orang di sana yang melakukan penyelidikan namun kesiapan tentunya tak perlu diragukan.
Naskala sebagai orang yang sudah membocorkan rencana itu berusaha untuk mengantisipasi pemeriksaan dari Bandung karena ia bertanggung jawab penuh atas laporannya.
Ia juga sudah memastikan jika Reyhan tak berbohong. Sebelum melakukan itu juga Naskala melakukan penyelidikan bersama Nasuha dan Aiden.
"Aku tidak sabar ingin melihat wajah mereka yang terkejut nantinya," ucap Nasuha sembari mengetuk jarinya di atas meja.
Mereka bertiga berkumpul di suatu ruangan untuk menunggu kabar baik. Naskala harap-harap cemas sementara Aiden sangat yakin jika penyelidikan itu akan membuahkan hasil yang manis.
"Kenapa kau terlihat sangat khawatir? Sudah pasti dapat ditemukan dan kamu tidak perlu cemas berlebihan seperti itu kawan," ucap Aiden dan menepuk pundak Naskala beberapa kali.
Naskala menghela napas panjang dan mengusap wajahnya kasar. Ia menatap sahabatnya itu dan tersenyum tipis. Kedua temannya tersebut sangat optimis entah kenapa ia sangat deg-degan. Bukan Naskala yang seperti biasa saat ini.
"Mana Naskala yang tegas dan tak kenal takut yang kami kenal?" tanya Nasuha yang berusaha memulihkan kepercayaan diri Naskala.
"Baiklah. Aku kali ini akan yakin."
Mereka bertiga juga terhubung dengan kepolisian di sana di mana para polisi di sana sedang melakukan penyelidikan. Informasi yang diberikan kepada Naskala untuk menunjukkan tempat mereka cukup dibutuhkan.
__ADS_1
Dan tiba waktunya untuk menyelidiki sebuah kapal besar yang mengangkut beras ke Mexico. Kapal itu diperiksa dan cukup lama hingga mereka pun akhirnya menemukan benda haram itu di tempat yang tak terduga.
Tempat itu bahkan tak terpikirkan ada di dalam kapal tersebut. Ber ton-ton sabu di dalam kapal itu yang siap untuk dibawa ke Mexico. Lantas mereka langsung membekuk para tersangka dan langsung diborgol di tempat. Ada beberapa yang berusaha untuk melarikan diri namun suara tembakan nyaring yang berasal dari sebuah pistol anggota polisi dan menembus salah satu kaki dari orang tersebut.
Timah panas pun bersarang di sana hingga sukar untuk bergerak hingga mereka pun memutuskan untuk menyerah. Darah segar tak perlu ditanya karena merembes keluar dan berceceran di tanah.
Ia pun tak bisa lari lagi hingga terjatuh ke tanah. Para polisi lantas menangkap mereka dan membawanya.
Semua itu tak luput dari arahan Naskala yang memang tahu di mana mereka menyimpan barang itu. Hal tersebut berasal dari pengakuan Reyhan yang memberikan rahasia milik salah satu kapal ayahnya. Tak hanya itu banyak rahasia kejahatan sang ayah yang ia beberkan dengan suka rela.
Ia tak Sudi menjadi anak dari salah satu penjahat dan juga bandar narkoba. Ia lebih senang menjadi orang yang berbakti kepada negara.
"Semuanya sudah berhasil dan kita juga sudah menangkap para tersangka. Huh aku tak sabar ingin melihat reaksi dari wajah mereka."
Nasuha, Naskala, dan Aiden keluar dari ruangan mereka. Sengaja untuk melihat rekasi jendral bintang satu itu yang tampak tak tenang.
Tentunya untuk menangkap penjahatnya harus melumpuhkan kaki tangan mereka yang dianggap tak berguna tersebut tapi mampu membuat mereka goyah sedikit demi sedikit.
"Benar-benar jahat. Pantaskah jendral seperti dia mendapatkan bintang?"
Tentunya jawaban itu adalah tidak. Nasuha juga bertanya bukan untuk dijawab akan tetapi ia sungguh tak percaya meraka benar-benar penjahat yang kurang ajar dan bersarang di kemiliteran yang harusnya menghentikan pengendara dan mengabdi kepada negara dengan sungguh-sungguh.
_____________
Cempaka menonton berita dan ia melihat penangkapan yang dilakukan oleh para kepolisian terhadap jaringan narkoba kelas kakap. Sabu-sabu yang mereka bawa tentunya tak sedikit dan sangat mengejutkan.
Cempaka sebenarnya tak tertarik dengan pembahasan di tv tersebut. Ia lantas mematikan televisi yang ia anggap sangat membosankan tersebut.
"Apa tidak ada berita yang lebih menyenangkan lagi?" tanya Cempaka kepada benda mati tersebut yang pasti tak akan menjawab dirinya.
__ADS_1
Cempaka menghela napas panjang dan memilih untuk pergi dari ruangan santai tersebut. Namun saat ia berbalik ia terkejut melihat kedatangan sang suami yang tengah berpakaian santai. Sejak kapan pria itu datang dan sudah berpakaian lengkap? Kenapa Cempaka baru tahu?
"Kapan Om datang?" tanya Cempaka seraya memperhatikan Naskala dengan seksama.
"Sudah dari tadi. Kamunya aja yang keasikan sendiri hingga suami dari tadi sudah datang juga gak sadar."
Cempaka memasang wajah cemberut. Ia pun mengangguk dan memang dirinyalah yang sangat tidak peka kepada suaminya. Baiklah kali ini Cempaka kalah.
"Oh iya Om, bentar lagi Cempaka bakal melaksanakan ujian akhir. Itu artinya Cempaka akan tamat."
"Bagus. Lebih baik kamu cepat tamat supaya kita bisa menikah secara negara dan bisa membuat bayi." Ucapan frontal sang suami mengejutkan Cempaka.
Oh Tuhan benarkah di depannya ini adalah Naskala? Suami Cempaka yang sangat alim dan bahkan tak kepikiran kepada hal-hal tersebut.
Melihat reaksi Cempaka Naskala hanya bisa terkekeh. Ia pun memeluk tubuh istrinya itu yang masih syok.
"Om!" ujar Cempaka dan mendorong tubuh keras Naskala. Ia masih takut dengan apa yang diucapkan oleh suaminya tersebut.
"Kenapa ekspresi nya seperti itu?"
"Cempaka takut."
"Kenapa takut? Kata orang-orang nanti bakal merasakan kenikmatan."
Cempaka makin lagi dibuat ngeri oleh suaminya sendiri. Bahkan ia tak percaya jika ini adalah suaminya.
"Om benar-benar yah!!"
________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. Terima kasih semuanya.