
Cempaka benar-benar sangat bahagia bermain bersama teman-temannya menikmati pasar malam yang sangat indah dan tentunya menyenangkan.
"Ishhh main itu yuk biar bisa dapat handphone," ucap Cempaka penuh semangat dan menghampiri tempat permainan lempar gelang.
Siapa yang berhasil melempar dengan batas tertentu akan mendapatkan beberapa hadiah mulai dari tv, handphone, ac, dan juga kulkas. Bahkan juga ada mobil dan Honda.
Tentunya hal itu banyak membuat antusias para masyarakat untuk bermain permainan tersebut. Namun tentunya tiket untuk masuk bermain tidak murah.
Tapi bagi Cempaka itu sangatlah murah sebab hanya 50.000. baginya itu masih terjangkau mengingat uang jajannya setiap hari lebih dari itu. Apalagi Naskala memberikannya uang.
"Kamu kaya orang kekurangan barang aja mau main itu."
Cempaka cemberut. Ia menatap teman-temannya dengan pandangan cukup sedih. Mereka baru saja bermain kincir angin dan sekarang Cempaka menarik mereka semua untuk bermain lempar gelang.
Reyhan yang peka dengan suasana hati Cempaka lantas menyetujui keinginan wanita itu. Selain itu Reyhan sudah banyak memberikan hadiah kepada Cempaka yaitu berupa boneka dan benda lainnya yang ia dapatkan dari hasil bermain di pasar malam.
"Yaudah aku bakal main dan berusaha buat dapatin itu untuk kamu!" Reyhan menunjuk ke sebuah boneka besar dan sangat imut yang dimaksud oleh Cempaka.
Cempaka menatap kepada boneka itu dengan girang dan tak sabar ingin memeluknya dan ia setuju Reyhan mendapatkan boneka tersebut untuknya.
"Iya Cempaka pengen boneka itu!" Reyhan tersenyum lebar dan menarik tangan Cempaka mendekati tempat permainan.
Sementara yang lainnya hanya terperangah menatap kedua pasangan tersebut. Kedekatan mereka benar-benar di luar nalar mereka semua.
"Benar-benar sangat romantis. Kapan lagi kita kaya gitu," ucap Patrica sembari mengode Vincent.
Vincent disenggol oleh William dan pria itu hanya tertawa malu. Mereka pun menghampiri Reyhan dan Cempaka.
Yang lainnya menunggu Reyhan membeli tiket. Sementara itu Reyhan dan Cempaka membeli beberapa tiket. Mereka pun bermain meski awalnya selalu mengalami kegagalan.
Tak hanya Cempaka, ternyata teman-temannya yang lain juga ikut bermain permainan itu walaupun awalnya tak setuju.
"Katanya tadi gak mau," sindir Cempaka kepada teman-temannya.
"Kan tadi bukan sekarang," ucap Yohana tak mau kalah. "Kita juga mau romantis-romantisan. Emang kamu aja yang boleh?"
Cempaka mengercutkan bibirnya dan menatap Reyhan yang masih merogoh beberapa kocek uang untuk membeli tiket dan berusaha mendapatkan boneka yang ia janjikan.
"Bismillahirrahmanirrahim!" ucap Reyhan dan melempar gelang tersebut dan berhasil masuk.
Cempaka sangat senang dan langsung melompat-lompat sangat bahagia. Akhirnya Reyhan mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Yey dapat!!"
"Yey!" teriak Reyhan dan bertos ria dengan Cempaka.
Mereka menjadi seorang yang sangat bahagia dan juga paling tersorot oleh beberapa pasang mata saking menariknya.
Di sisi lain Naskala terus ditarik oleh Nasuha untuk melihat pasar malam. Padahal mereka ke sini untuk bertugas tapi Nasuha malah mengajaknya untuk bolos.
"Nanti ketahuan atasan bakal dihukum lho!"
__ADS_1
"Tidak akan ketahuan. Kau takut sekali dengan atasan."
"Apa yang kamu ingin lakukan itu adalah hal yang tidak baik dan bisa menurunkan reputasi kerja kita."
Naskala menarik napas panjang dan menyapu pandangannya ke seluruh pemandangan di pasar malam. Ia pun terdiam saat melihat salah satu sosok yang sangat ia kenali.
Itu adalah Cempaka yang tengah bersama Reyhan yang menyerahkan boneka yang ia dapatkan kepada Cempaka. Napas Naskala memburu.
Nasuha yang heran lantas mengikuti arah pandang Naskala dan ia terkejut melihat ada Cempaka di antara keramaian.
"Gak salah liat aku? Itu kan adik kamu?"
Naskala menghampiri mereka. Tampak saat Naskala menghampiri para anak muda itu dengan raut marah. Mereka sangat terkejut dan tak menyangka jika Naskala juga ada di sini.
Apalagi Cempaka yang hampir syok setengah mati melihat sosok yang sangat ia hindari untuk saat ini.
"Om! Kok om ada di sini juga?" tanya Cempaka berbasa-basi.
"Pulang sama siapa?"
"Hah? Sama Reyhan!"
Naskala menatap Reyhan sekilas lalu beralih kepada Cempaka. Ia pun meminta Cempaka untuk mengikutinya dengan lirikan mata.
"Ikuti saya!"
"Hah?"
Cempaka pun terpaksa menuruti Naskala dan berjalan di belakang pria itu. Sebelum dia benar-benar pergi Cempaka menyempatkan untuk mirip teman-temannya dan meminta maaf melalui matanya.
"Maafin aku."
Meski Reyhan tampak sangat kecewa namun pria itu lebih berbesar hati.
Ia kemudian berjalan dan masuk ke dalam mobil Naskala.
"Sudah malam saya yang antar. Kalau teman kamu nanti bahaya."
Cempaka mengangguk malas.
_________
"Loh udah pulang sayang? Pulang sama siapa?" tanya Adhila yang melihat Cempala baru pulang. Ia kira akan lebih lama lagi dari ini. "Sudah puas main di pasar malam?"
Tak lama Naskala pun muncul. Ia juga kaget melihat anak bujangnya juga sudah pulang.
"Pulang sama Om."
"Kamu juga ke pasar malam Kak?"
"Bunda kebetulan ada tugas keamanan di pasar malam. Sudah minta izin sama atasan untuk antar pulang Cempaka."
__ADS_1
"Haduh kenapa repot-repot. Cempaka bisa diantar pulang sama temannya."
Naskala tampak tak senang dengan ucapan sang ibu.
"Bunda! Temannya adalah cowok. Naskala tak mungkin membiarkan adik Naskala pulang sama cowok dan apalagi ini malam Bunda."
Adhila pun mengangguk. Benar juga apa yang dikatakan oleh Naskala.
"Iya benar. Bagus deh kamu cepat masuk ke kamar dan kamu Kak cepat bertugas. Jangan nambah maslah lagi, belum lagi masalah yang awal selesai. Tambah lagi Ayah mu gak bisa pulang di Papua. Ada masalah. Mama teh pusing pisan."
Naskala memeluk ibunya untuk menangkan wanita yang sangat ia cintai itu.
"Bunda! Bunda tenang saja. Terus lah sabar dan doakan Kaka bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat dan juga Papa cepat pulang."
"Aamiin."
Cempaka yang melihat kedekatan itu sangat terharu. Tiba-tiba ia teringat dengan ibu dan ayahnya yang selalu ada untuknya.
Naskala yang sadar dengan perubahan Cempaka langsung melepaskan pelukannya dari sang ibu.
"Jangan sedih. Orang tua mu pasti sudah tenang. Anggap saja Bunda dan Ayah adalah orangtua mu."
Adhila melirik Cempaka yang tampak sangat sedih. Ia mengusap punggung Cempaka memberikan ketenangan.
"Bunda sangat ingin kamu memanggil dengan sebutan Bunda."
Air mata Cempaka pun tumpah. Ia menangis keras di dalam pelukan Adhila. Ia merindukan sosok ibunya dan itu ada pada Adhila.
"Bunda!"
Adhila tersenyum tak percaya jika Cempaka memanggil dirinya dengan sebutan Bunda. Tidak hanya Adhila namun Naskala juga sangat senang.
"Saya senang kamu memanggil Bunda sama seperti saya."
"Hiks Bunda! Maafkan baru kali ini Cempaka nyebut Bunda kaya gitu! Cempaka belum bisa menganggap orang lain sebagai pengganti ibu Cempaka."
"Saya mengerti dengan perasaan kamu. Kamu juga harus bisa nyebut Kakak ke Kak Naskala."
Cempaka menatap ke arah Naskala. Untuk itu mungkin panggilnya tak akan berubah.
"Gak mau tetap mau manggil Om! Soalnya Om gak pantas dipanggil Kaka terlalu tua."
Naskala mengembuskan napas kasar.
"Maksud kamu apa?"
Cempaka lebih dulu melarikan diri sebelum dirujak oleh Naskala.
_________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.