
Bahkan sampai ia pulang sekolah Cempaka tetap tak fokus sama sekali. Ia terus kepikiran dengan ucapan Nanda. Benarkah Cempaka menyukai Naskala?
Cempaka pun terus berpikir lebih cermat lagi. Mengingat semua yang terjadi padanya ia yakin jika dirinya sudah jatuh cinta dengan Naskala.
"Masa iya aku cinta sama Om?" Cempaka menatap foto yang terpajang di kamarnya. Itu adalah foto dirinya bersama dengan Naskala pada saat ia kecil. "Tapi gak mungkin banget."
Cempaka berhenti menulis pr nya. Ia termenung sambil memikirkan tentang perasannya. Tapi jika benar dia mencintai Naskala lalu apakah pria itu akan menerima dirinya?
Jika dipikir-pikir lagi Naskala yang sangat alim dan taat agama dan yang anti wanita sekarang, pasti akan menolaknya mentah-mentah apalagi dengan status mereka yang merupakan keluarga angkat.
Cempaka hanya bisa pasrah dengan keadaan ini.
"Kenapa sih aku harus suka sama Om?" yang lebih parahnya lagi Cempaka bahkan pernah bermimpi menikah dan memiliki anak dengan Naskala.
Mulai saat itu ia pun merasakan ada desiran aneh di dadanya. Diperkuat lagi dengan ucapan Nanda membuatnya yakin jika Cempaka memang benar-benar mencintai Naskala.
"Cempaka! Jangan lupa turun makan!"
"Iya Tante!"
Cempaka pun menghela napas panjang dan menutup bukunya. Seperti biasanya Cempaka selalu lupa mengenakan hijab. Wanita itu keluar dengan pakaian pendek dan juga tak mengenakan hijab.
Cempaka memasuki ruang makan dan Naskala yang melihat pakaian Cempaka langsung menarik napas beberapa kali. Ia langsung beristighfar dan menundukkan pandangan.
Adhila yang melihat anak bujangnya yang berusaha menghindari Cempaka pun langsung tertawa tipis.
"Cempaka! Tante dan Kak Naskala juga sudah sering ingetin kamu buat pakai baju yang menutup aurat dan pakai hijab kamu."
Cempaka pun beristighfar karena melupakan hal itu. Ia menundukkan kepalanya dan berbalik menuju kamar.
"Sudahlah! Nungguin kamu nanti makin lama kita makan. Pakai baju itu aja nanti abis makan langsung ganti," ujar Naskala yang membuat Cempaka langsung berhenti berjalan.
__ADS_1
Ia tertawa tipis dan berbalik didik di meja makan bergabung dengan yang lainnya.
"Om Toha di mana Tante?"
"Om gak pulang beberapa hari ini. Ini juga Kak Naskala sebenarnya gak bisa pulang tapi Tante paksa."
Cempaka melirik tips Naskala yang dengan wajah dinginnya menyantap hidangan di depan.
Mereka pun makan dengan hikmat hingga akhirnya Cempaka selesai makan. Ia pun lebih dulu pergi dari ruang makan.
Naskala yang juga sudah selesai makan langsung meninggalkan ruang makan. Pria itu membuka jaketnya dan menghampiri Cempaka. Ia memakaikan jaketnya di pinggang Cempaka.
Cempaka tersentak dan langsung menatap ke arah Naskala yang menyapanya dengan tajam.
"Sudah diingatkan beberapa kali."
"Maaf lupa."
"Ha'em." Cempaka menatap penuh kagum ke arah Naskala. Justru apa yang dilakukan Naskala membuatnya makin jatuh cinta. Sebagai mana Naskala yang berusaha untuk melindungi dirinya.
"Bagus." Naskala lantas pergi dan Cempaka masih terperangah melihat Naskala yang baru saja memberikannya perhatian kecil.
Tanpa bisa dikontrol Cempaka pun langsung berteriak, "om Naskala, Cempaka suka sama Om!"
Naskala yang baru berjalan beberapa langkah langsung berhenti. Ia terkejut mendengar pernyataan Cempaka.
Ia menoleh ke belakang dan Cempaka tengah tersenyum padanya. Ia melirik Cempaka dari bawah hingga atas.
"Masih bocil juga sudah mikir cinta-cintaan. Bocil itu harusnya belajar yang benar baru mikirin cinta-cintaan."
Cempaka mengercutkan bibinya. Ia mengepalkan tangannya mendengar jawaban Naskala.
__ADS_1
"Om gak suka sama Cempaka?"
"Cempaka! Kamu itu belum mengerti dengan perasaan cinta! Jadi stop berpikir kalau kamu itu suka sama saya. Lagipula saya tua dari kamu dan kita juga keluarga angkat. Kita tidak bisa menikah dan saya berhak dengan pilihan saya sendiri dan kamu juga."
"Tapi kan Om kita gak sedarah," keras Cempaka yang membuat Naskala harus lebih bersabar menghadapi Cempaka.
"Cempaka kamu belum mengerti dengan cinta."
"Cempaka ngerti kok! Nanda jelasin kalau cinta itu adalah rasa sayang kita dan gak mau liat orang yang kita sukai dekat dengan wanita lain dan juga kita rela berkorban untuk orang yang kita cintai dan itu yang dirasakan Cempaka ke Om."
Naskala terkejut dengan ucapan Cempaka.
"Cempaka! Saya sudah bilang kalau kita ini saudara angkat. Meskipun kita tidak sedarah tetap saya tidak bisa mencintai kamu. Saya punya pilihan saya dan saya tidak bisa bersama kamu dan selamnya saya akan menjadikan kamu adik saya dan saya akan menjadi ajudan kamu. Tapi tidak dengan menikahi mu. Berhentilah untuk mencintai saya. Kita serumah dan fitnah dengan mudah masuk."
Cempaka meneteskan air mata. Ia pun menangis tersedu-sedu lalu meninggalkan Naskala begitu saja.
"Om jahat!"
Naskala menatap punggung Cempaka dengan sangat dalam. Ia menundukkan kepalanya dan menghalau air matanya yang hendak keluar.
"Selamanya kamu tidak akan pernah bisa bersama saya. Saya hanyalah ajudan yang mengawal kamu. Ayah mu sudah merelakan nyawanya demi ayah ku, dan saatnya aku membalas kebaikan ayah mu."
Bohong jika dikatakan Naskala tidak tertarik kepada Cempaka. Mereka sudah hidup bersama sangat lama, selain itu Naskala juga pria maka dari itu ia selalu tak tahan melihat kecantikan Cempaka saat tak mengenakan hijab dan membuka auratnya.
Naskala pun pergi dengan perasaan bersalah. Cempaka sangat imut dan ia juga tertarik dengan wanita menggenaskan itu.
__________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA
__ADS_1