Bocil Imutnya Om Tentara

Bocil Imutnya Om Tentara
Part 19


__ADS_3

Cempaka keluar dari dalam mobil Naskala. Ia pun hendak memberi salam kepada Naskala dan bahkan sudah menjulurkan tangannya.


Naskala menghembuskan napas kasar dan membuang pandangannya. Cempaka lantas tertawa cengengesan karena melupakan satu hal.


"Cempaka lupa kalau belum jadi istri Om. Makanya cepat halalin Cempaka dong Om!" pinta Cempaka sambil tersenyum genit dan mengedipkan matanya beberapakali. Padahal itu hanya tampilan luar berbeda jauh dengan isi hatinya yang penuh rasa khawatir.


Naskala menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Cempaka. Ia pun lantas memberikan beberapa lembar uang kepada Cempaka.


"Nanti kalau sudah menikah jangan kaya gini ke orang lain. Nih buat kamu dan sikap kamu tadi hanya boleh ditunjukkan ke saya," ujarnya dengan nada yang menunjukkan penuh ke posesif-an. "Satu lagi kamu ini masih kecil dan masih anak-anak sudah memikirkan menikah. Nanti pernikahan nanti saya yang urus."


"Aww makasih Om! Om so sweet banget sih sama calon istri."


Naskala bisa mati berdiri lama-lama jika dihadapkan dengan sikap Cempaka yang seperti ini.


"Dikurang-kurangi gilanya."


Setelah mengatakan itu Naskala pergi dan hal itu sangat dibenci oleh Cempaka. Bisa-bisanya Naskala menghinanya terlebih dahulu sebelum dia kabur. Jika dilihat-lihat itu lebih mirip dengannya.


"Ciehhh diantar sama om-om tampan nih!"


Cempaka melirik Nanda yang meledeknya sembari menyenggol dirinya. Ia pun memasang wajah masam kepada dirinya.


"Apaan sih Nanda?" tanya Cempaka namun terlihat jika wajahnya sangat salting parah.


Nanda pun memelas melihat kemunafikan Cempaka yang sangat terlihat jelas. Ia pun menarik napas panjang dan berjalan lebih dulu dari temannya.


"Kamu itu gak malu apa bersikap seperti itu kepada om kamu?" tanya Nanda yang mengetahui jika Cempaka bersikap sangat genit kepada Naskala tadi pagi di parkiran.


Ketika ia tak sengaja melihat hal itu dari kejauhan ingin sekali Nanda mengumpati Cempaka. Cempaka yang bersikap seperti itu tapi dirinya yang malu.


"Hah?"


"Pura-pura bego yah sekarang," senggol Nanda sembari mencubit perut Cempaka. Cempaka tertawa gelak dan membalas perlakuan Nanda.


"Apaan sih sok tahu banget kamu."

__ADS_1


"Ya tahu dong kan tadi aku lihat," ucap Nanda yang malah mengejutkan Cempaka. Cempaka langsung menutup wajahnya malu. Ia pun terbayang kembali adegannya yang begitu centil. Apakah setelah ini Naskala akan membenci dirinya? Atau jijik dengannya?


Oh Tuhan tidak! Cempaka tidak tahu akan meletakkan di mana wajahnya setelah pulang nanti dan bertemu dengan Naskala. Rasanya pasti sangat canggung.


"Kenapa? Tadi penuh percaya diri aja! Kenapa sekarang malah malu-malu kucing kayak gitu? Cie ada orang yang munafik nih," ucap Nanda yang malah membuat kesal Cempaka.


Ia tak mengerti kenapa ada sahabat seperti Nanda di dunia ini. Wanita itu begitu menyebalkan dan tak pernah mendukung dirinya. Apakah Nanda benar seorang teman sejati?


"Nanda! Kamu itu sebagai sahabat aku harus mendukung penuh dan jangan malah membuat diriku malu seperti ini!"


"Ya masalahnya kamu itu keterlaluan banget Cempaka! Dia itu om kamu! KAKAK KAMU!"


Menanggapi Nanda hampir saja membuat Cempaka keceplosan ia baru teringat jika Nanda tak tahu bahwa Naskala dan dirinya akan segera menikah.


"Ya nggak papa lah. Selama om Naskala itu nggak pernah peduli sama aku. Biarin dia kesal sama aku, itu adalah pembalasan dari perbuatan dia bertahun-tahun ini."


Nanda menggelengkan kepalanya dan berjalan masuk ke dalam kelasnya. Sebenarnya Cempaka ini bego atau tolol? Atau bahkan sama saja? Yang ada sikapnya seperti itu malah akan menciptakan sebuah perasaan yang tidak seharusnya ada di antara mereka.


"Aduh sayangku cintaku! Asal kamu tahu ya Cempaka! Sikap kamu itu malah akan membuat kaum Adam itu tertarik dan memiliki perasaan yang lebih.


"Ya bagus dong!"


_________


Cempaka pun masuk ke dalam rumah. Ia baru saja pulang sekolah dan menuju ke dapur. Ingin melihat makanan apa yang sudah dibuat oleh bibi.


Cempaka langsung menutup mulutnya karena melihat makanan yang tersaji di meja makan adalah semua makanan kesukaannya.


Iya pun langsung mengambil piring dan memasukkan nasi ke dalam piringnya dan mengambil lauk-lauk itu komplit tanpa tertinggal.


Tiba-tiba Naskala datang. Cempaka yang baru saja hendak memasukkan sendok ke dalam mulutnya langsung berhenti.


"Sebelum makan itu jangan lupa untuk berdoa!" nasehat Naskala kepada Cempaka. "Makan terburu-buru itu sama kayak setan. Kamu mau seperti setan?"


Cempaka pun langsung berpura-pura jika dirinya hanya menunda berdoa saja. Dia tak mau dipandang buruk oleh Naskala. Lantas Cempaka langsung berdoa dan memohon kepada yang maha kuasa.

__ADS_1


Naskala yang melihat itu menarik sudut bibirnya. Ia pun ikut berdoa dan kemudian memasukkan nasi dan beberapa lauk ke dalam piringnya.


"Ngomong-ngomong kok Om cepat banget datang? Bukannya Om jam segini masih tugas? Om aja tadi nggak jemput Cempaka loh!? Kenapa udah pulang aja?" heran Cempaka.


"Jadi kamu tidak senang jika saya sudah pulang?" Cempaka lekas menggelengkan kepalanya.


Bukan itu yang ia harapkan. Ia hanya bertanya dan Naskala malah menganggap itu adalah sebuah stetment yang tidak mengenakan.


"Is bukan gitu Om! Om selalu saja salah sangka sama aku," kesal Cempaka dan menarik napas panjang.


Cempaka pun langsung menyantap makanan itu sambil dengan wajah ditekuk.


"Kamu mau tahu jawabannya?"


"Hm."


"Saya sengaja menyiapkan ini semua untuk kamu. Saya juga mengambil cuti hari ini dan bisa memasakkan makanan kesukaan kamu. Semua ini saya lakukan untuk kamu dan merayakan kemenangan mu." Cempaka langsung berhenti mengunyah.


Ia menatap ke semua makanan yang tersaji. Pantas saja rasanya sangat familiar. Ternyata benar ini semua buatan Naskala.


"Beneran semua ini Om yang masak?" Terlihat dari tatapan Cempaka dia begitu terharu dengan Naskala.


Ia tersenyum dan bertepatan air matanya pun terjatuh. Cempaka mengusap lalu tersenyum menampakan deretan giginya. Pipinya menggabung karena Cempaka belum menelan makanannya.


"Kalau mau senyum dan bicara itu ditelan dulu." Cempaka pun meraih air putih dan menegaknya.


"Om!"


"Hm?"


"Makasih untuk semua ini. Cempaka cuman punya Om yang sangat baik kepada Cempaka. Om harus janji tidak akan pernah meninggalkan Cempaka kapanpun."


"Saya berjanji," ujar Naskala mantap dan wajahnya yang serius.


________

__ADS_1


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2