Bocil Imutnya Om Tentara

Bocil Imutnya Om Tentara
Part 31


__ADS_3

Cempaka berjalan dengan gembira memasuki gedung sekolahnya. Ia pun menyapa teman-teman yang ia kenal saat melewati koridor. Tak ada yang aneh dari ekspresi Cempaka karena memang biasanya dirinya seperti itu.


Cempaka menarik napas panjang dan masuk ke dalam kelas dengan tingkat percaya diri penuh. Ia pun menyapa teman-teman sekelasnya.


Saat hendak duduk di kursinya dia pun menatap ke arah meja belajar Reyhan yang kali ini tak diisi oleh pria itu. Seketika mata Cempaka berubah menjadi sedih.


Nanda yang melihat rekasi itu juga ikut memasang ekspresi sedih. Ia menarik tangan Cempaka dan menyuruh wanita itu duduk di dekatnya.


Cempaka pun mengangguk dan duduk di samping Nanda. Ia pun menatap wanita itu dengan pandangan yang sangat dalam.


"Ada apa dengan Reyhan? Apakah dia berhenti?"


Nanda mengangguk lemah dah hal itu mampu membuat ******* panjang dari mulut Cempaka.


Cempaka menggenggam tangannya lalu tersenyum hambar. Ia membayangkan bagaimana keadaan Reyhan saat ini.


"Kasihan banget Reyhan."


"Kamu tau sendiri kan, dunia itu benar-benar kejam. Penuh dengan ketidak adilan. Padahal manusia diciptakan untuk menjadi hakim yang adil di dunia."


Cempaka membenarkan apa yang dikatakan oleh Nanda. Ia juga merasakan hal yang sama. Cempaka pernah berada di posisi yang benar-benar cukup menyakiti hingga membuat dirinya tak yakin jika ia bisa hidup di dunia ini.


Memang Cempaka sudah melewati masa-masa itu, tapi dirinya sering terkenang saat-saat menyedihkan yang membuatnya kembali merasakan betapa sakitnya hidup di dunia ini.


"Aku pernah merasakan sakit. Cuman situasi kita yang berbeda."


"Aku juga."


Cempaka mengangguk membenarkan ucapan Nanda. Mereka pun membayangkan nasib mereka yang sebenarnya tak baik-baik saja.


"Tapi bagaimana Reyhan sekarang yah?"


"Dia pengen kabur. Kemarin dia nelpon, katanya sih kaya gitu," ucap Nanda mampu membuat Cempaka kaget bukan main.


"Hah kabur? Bagaimana mungkin, Astaghfirullah. Kenapa harus kabur?"


"Aku juga dukung dia. Sebab di rumahnya dia benar-benar tersiksa. Sebagai orang terdekat dia tentunya pasti juga aku tidak mungkin tega melihat Reyhan seperti itu. Apalagi dia disuruh nikah. Dia itu sukanya sama kamu, mana mungkin dia mau nikah sama cewek itu."


Cempaka merasa tidak nyaman bagaimana dirinya yang secara tak langsung ikut terseret ke dalam masalah ini.

__ADS_1


"Kenapa aku? Aku tidak akan bisa menerima dia. Jika Reyhan tidak ingin tanggung jawab, si cewek juga kasihan."


"Mau bagaimana lagi. Aku juga gak bisa membuat kamu untuk bersama Reyhan. Tapi Reyhan juga kasihan."


"Suruh dia untuk menerima dirinya sendiri dan menenangkan diri lebih dulu," ucapnya berusaha memberikan solusi.


"Hm, nanti aku bilang ke dia. Suruh ke tempat orang-orang yang taat agama dan mencari pencerahan."


Cempaka mengangguk membenarkan.


"Oh iya, Om Naskala katanya ingin ketemu sama kamu. Aku tidak tau apa yang ingin dia bicarakan," ucap Cempaka dengan nada yang terlihat sangat cemburu.


"Hah?" tanya Nanda terkejut.


Tak biasanya Naskala memintanya untuk bertemu. Yang ia tahu pria itu benar-benar sangat dingin dan sukar untuk diajak berbicara dan sekarang dengan sangat tiba-tiba dia meminta untuk bertemu.


"Kaget ya? Aku juga gitu pas Om bilang pengen ketemu kamu."


"Tapi buat apa?" tanyanya.


"Ya mana aku tau, tapi aku kemarin ditanyain tentang orangtuanya Reyhan. Jadi aku ceritakan kondisi keluarganya dia saat ini. Trus aku bilang kalau kamu dekat sama dia. Mungkin karena itu. Tapi tetap aja aku gak tau kenapa."


________


Tak berselang lama saat Cempaka baru saja pulang dari sekolah, Nanda pun datang dan mengetuk pintu rumah mereka.


Cempaka yang tahu jika itu Nanda dengan cepat berlari ke ruang tamu dan membukakan pintu untuk sahabatnya tersebut. Senyumnya pun mengembang melihat Nanda yang datang.


Cempaka langsung menyambut Nanda dengan lemah dan penuh dengan candaan ringan.


"Aku kira kamu bakal telat datang. Ternyata gercap juga yah. Apa jangan-jangan pengen ketemu sama Om ya?" tanya Cempaka yang niatnya hanya ingin menjahili sahabatnya tersebut.


"Ntar pas aku bilang iya, nanti kamu bakal ngambek ke aku lagi," ucap Nada yang menyindir sahabat karibnya tersebut.


Hal itu langsung membuat wajah Cempaka muram dan wanita itu langsung memasang wajah cemberut serta pergi dengan langkah yang sedikit dihentakkan.


Melihat hal itu membuat Nanda tak bisa menahan tawanya. Kenapa temannya terlalu menggenaskan apalagi Cempaka ini tampak masih kekanak-kanakan.


Mungkin di antara kebanyakan wanita hanya dialah salah satu wanita yang telat puber. Nanda menggelengkan kepala dan mengejar Cempaka dan merangkul wanita itu layaknya sahabat sejati.

__ADS_1


"Tuh kan aku lagi yang salah padahal yang cari gara-gara duluan juga siapa," ucap Nanda apa adanya dan sesuai fakta.


Cempaka pun akhirnya tergoda dan wanita itu menyambut Nanda dengan ramah. Kemudian ia pun membawa temannya tersebut ke ruang tamu.


"Sana panggil Om nya! Aku mau pulang nih. Gak cuman bahas urusan Om kamu aja," ucap Nanda sebagai bentu sarkas.


"Awas kedengaran Om ntar dia bakal marah. Kamu gak tau aja kalau dia tuh tukang ngambek!" ucap Cempaka yang niatnya menyindir pria tersebut dan tak menyangkal jika orang yang ia bicarakan ada di dekatnya.


Naskala yang kebetulan di situ menyentil kening Cempaka hingga membuat wanita tersebut terkejut dan menatap Naskala tak menyangka.


Kemudian ia pun tersadar dan langsung tersenyum ramah yang menampilkan deretan giginya yang bersih.


"Eh ada Om ternyata. Cempaka baru tau," ujarnya berbasa-basi.


Naskala yang melihat itu hanya menggelengkan kepala. Kenapa ada wanita yang seperti ini. Dan menjadi pertanyaan apakah dirinya beruntung sudah menikah dengan Cempaka atau tidak? Naskala rasa lebih beruntung meskipun Cempaka jauh dari kriterianya yang pernah ia inginkan.


"Sudah bicara apa tadi kamu?" tanya Naskala dengan nadanya yang sedikit ringan tapi mematikan.


"Hah? Bicara apa? Yang mana?" Cempaka berpura-pura tidak tahu untuk mencari jalur aman.


"Dasar kamu yah."


Naskala menghela napas panjang dan mengacak rambut Cempaka dengan gemas. Mereka tak menyadari jika di tengah-tengah mereka saat ini ada orang lain. Nanda yang melihat semua kejadian itu hanya bisa melongo tidak percaya.


Bisa-bisanya ia melihat adegan yang benar-benar di luar nalar manusia. Mungkin bagi orang itu adalah hal biasa karena mereka adik kakak, tapi ini tatapan Naskala ke Cempaka tampak ada yang beda seolah menunjukkan mereka tampak seperti pasangan.


Naskala yang sadar pun langsung menatap Nanda yang seolah sedang tertangkap basah tengah mengintip. Seketika suasana berubah menjadi hening beberapa saat. Tak ada satu pun yang membuka suara sebelum Nanda yang akhirnya angkat bicara.


"Eh maaf."


"Ini bukan yang seperti kamu lihat," ucap Naskala yang berusaha untuk mengubah pemikiran Nanda setelah melihat kedekatan mereka.


"Hah bagaimana? Bukannya biasa untuk seorang adik dan kakak? Ada yang salah?" tanya Nanda sambil menggaruk tengkuknya.


Naskala dan Cempaka gelagapan dan saling pandang. Apakah setelah ini semuanya akan terungkap dengan mudahnya kepada teman-temannya?


__________


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


 


__ADS_2