
Naskala hampir tersedak ludah sendiri saat melihat undangan yang ia dapatkan. Jantungnya berpacu sangat cepat dan kertas undangan yang ada di tangannya tersebut jatuh begitu saja.
Rasa syok mengiringi pria itu. Napas penuh amarah bergemuruh. Omar telah membangkitkan jiwanya yang lain. Naskala dikenal sangat lembut dan penyabar, tapi jika sekalinya marah maka tidak akan ada yang menghalanginya.
"Aku tidak akan membiarkanmu. Sialan itu tidak akan pernah selamat. Omar! Kau mencari masalah dengan orang yang tidak tepat," rumahnya dengan gigi yang bergesek. Semua orang kontan menatap dirinya.
Sang Jenderal yang paling dekat dengan Naskala menghampiri pria itu dan menatap undangan yang jatuh di lantai. Ia pun memungut undangan tersebut.
Kemudian sang jenderal membacanya dengan sangat teliti. Saat melihat nama yang tertera di dalam undangan itu sontak membuatnya terkejut dan langsung menatap ke arah Naskala.
"Naskala," gumam Jenderal itu sembari mengusap bahu laki-laki tersebut. "Kita akan melakukan apapun untuk mu dan sudah pasti akan membantu mu. Jangan khawatir."
Naskala menghela nafas panjang lalu kemudian menenangkan dirinya beberapa detik. Dia tersenyum miring seolah meremehkan ucapan atasannya.
"Omar tidak semudah itu untuk dilumpuhkan. Kita harus melakukan sesuatu agar tidak terjebak pada siasat pria itu."
Jenderal itu tampak berpikir. Apa yang diucapkan Naskala sangat masuk akal. Tidak mungkin Omar mengundang Naskala secara semajuma jika tidak ada yang ia inginkan.
"Ini gawat." Mereka memiliki pemikiran yang sama.
Baru saja mengucapkan kata-kata tersebut tiba-tiba ada ajudan dari sang Jenderal yang berlari ke arahnya. Naskala menatap orang itu memperhatikan pria tersebut yang membawa laporan penting.
"Lapor komandan ada teror di depan gerbang. Dua personel tentara yang berjaga di depan terkena ledakan dan mengalami luka parah." Laporan itu menyadarkan keduanya jika bahaya sudah sangat dekat di depan mereka.
"Mungkin sudah saatnya."
Mereka pun saling pandang dan segera keluar untuk memeriksa kejadian itu.
_________
Cempaka hanya menatap nanar kaca yang tengah menampilkan wajahnya. Wajah yang sama sekali tak pernah ia harapkan. Ia begitu cantik hingga membuatnya berada di posisi saat ini.
Riasan indah menambah kecantikannya. Tapi sayang kecantikan itu bukan tertuju untuk orang yang sangat ia cintai. Mengingat hari ini Cempaka rasanya ingin mati di tempat. Tak pernah terbayangkan olehnya akan berada di posisi yang saat ini sangat dibencinya.
Terkadang ia bertanya-tanya kenapa ia ada di tempat ini. Cempaka marah kepada dirinya yang tetap membukakan pintu pada waktu itu.
Tangisnya tak henti hingga membuat sang perias kalang kabut memperbaiki riasan Cempaka.
__ADS_1
"Berhentilah menangis. Jangan membuat kami seperti ini. Jika kamu terus menangis Tuan akan marah kepada kami. Tolong lah kami."
Seketika lidah Cempaka kelu untuk digerakkan. Apa yang diucapkan oleh sang perias membuatnya sadar bahwa bukan dirinya saja yang terancam tapi banyak orang di sini juga merasa ketakutan dengan Omar.
"Maafkan aku," gumam Cempaka pelan.
Cempaka menghapus air matanya dan membiarkan sang perias kembali memperbaiki make up nya.
"Nona sangat cantik jika tidak menangis seperti ini." Cempaka tersenyum samar.
"Terima kasih."
Tiba-tiba Cempaka merasa perutnya bak diaduk-aduk dan kepalanya berkunang-kunang.
"Ada apa Nona?"
"Perut ku sangat sakit." Cempaka langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan cairan kental dari mulutnya. "Ada apa dengan ku? Apakah aku sakit?"
"Nona!" Perias itu sangat panik dan langsung mengurut tengkuk Cempaka.
"Nona kenapa? Apakah Anda telah memakan sesuatu."
"Tidak tahu." Cempaka pun berusaha untuk tenang dan menarik napas panjang sembari menahan rasa sakit di perutnya yang terus mengaduk-aduk perutnya.
"Tahanlah. Nona saya akan mencarikan obat untuk Nona."
Cempaka mengangguk. Perias itu kemudian langsung pergi saat Cempaka memberikannya izin.
Cempaka diam dengan air mata yang kembali berkumpul. Ia berusaha menahan tangis karena merasa tak enak kepada sang perias. Ia tak ingin sang perias tak bersalah itu menjadi sasaran amukan Omar. Ia tak ada salah sama sekali.
"Dunia ini benar-benar kejam," ucap Cempaka dengan pelan. Ia menghela napas panjang.
Wanita itu langsung membuka matanya lebar saat ia menyadari sesuatu. Ia sudah lama tak datang bulan.
"Apa mungkin aku?" Cempaka menggelengkan kepalanya tapi ia juga sangat bahagia.
"Hiks! Mas kamu di mana? Sepertinya kamu akan memiliki keturunan yang sedang ku kandung," ucap Cempaka tersedu-sedu. "Andai Mas ada di sini. Mas pasti bahagia mendengar kabar ini."
__ADS_1
Cempaka bisa menjaminnya. Tapi semua itu hanyalah sebuah harapan. Ia tak bisa memberitahukan kehamilannya padahal dia sangat ingin.
"Nona!"
Perias itu datang kembali sambil membawa obat. Ternyata perias itu datang bersama Omar.
Cempaka langsung mundur beberapa langkah ke belakang melihat Omar yang ada di situ. Ia ketakutan jika Omar akan melakukan sesuatu apalagi saat ini ia tengah mengandung.
"Kenapa kamu ada di sini? Pergi sana! Aku tidak ingin melihat mu!"
"Yakin?" tanya Omar dengan nada yang menusuk ke jantungnya. "Cempaka tidak ada waktu untuk membahas masalah itu. Aku mendengar jika kau muntah-muntah. Apakah terjadi sesuatu? Aku tidak mungkin diam saja saat mendengar kau tidak baik-baik saja."
Omar menyentuh kening Cempaka. Cempaka langsung menepis tangan Naskala yang berada di keningnya.
"Aku tidak Sudi disentuh oleh Om-om tua seperti mu!!"
"Masih melawan heh?"
Brakk
Pintu dibuka lebar. Cempaka terkejut dan menatap bawahan Omar yang tampak gugup dan juga berjalan tergesa-gesa.
"Ada apa?" tanya Omar dengan lirikan matanya.
"Beberapa polisi dan tentara menuju ke sini. Sepertinya keberadaan kita sudah diteksi."
"Kenapa ini bisa terjadi. Di mana penjaga yang lain? Kenapa mereka bisa mengetahui keberadaan kita."
Omar menatap ke arah Cempaka. Ia diam dan memperhatikan wanita tersebut yang merasa lega dan juga senang.
"Jangan merasa kamu akam diselamatkan. Kamu tidak tahu aku yang memancing mereka kemari. Tapi aku tidak menyangka jika mereka datang dengan personel yang banyak. Tapi meski begitu aku tidak akan mungkin kalah!" peringat Omar yang sengaja menghentikan rasa senang Cempaka.
__________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.
__ADS_1