Bocil Imutnya Om Tentara

Bocil Imutnya Om Tentara
Part 48


__ADS_3

Cempaka kira menjadi seorang mahasiswa yang baru saja masuk di tahun pertama lumayan enak dan bisa bersantai. Nyatanya ketika ia sudah menginjak masa SMP ternyata kehidupannya yang penuh dengan kesibukan ternyata sudah dimulai.


Dan ini tak akan berakhir hingga akhir hayatnya. Di mana dirinya harus bekerja setelah selesai kuliah. Cempaka menghela napas panjang dan menatap tugas-tugas yang menumpuk padahal ia baru saja beberapa hari masuk tapi dosen tampaknya tak memiliki toleransi sedikit pun kepada orang yang baru menjadi mahasiswa.


Cempaka tak habis pikir tapi jika dipikirkan lebih jauh lagi maka dirinyalah yang terlalu lebay. Apalagi tempatnya mengabdi adalah universitas yang sangat terkenal dan memiliki nilai akreditas yang cukup tinggi. Tentunya sekolah di sini bukanlah untuk main-main dan mahasiswa yang ada pun didominasi oleh orang-orang yang pintar dan juga cerdas. Tampaknya sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang bahkan hanya memiliki otak yang pas-pasan. Terlebih lagi menurut Cempaka keberhasilannya masuk dengan cara direkomendasikan adalah salah satu hoki seumur hidup yang takkan pernah dilupakan olehnya.


Wanita itu mendesah panjang. Sudah di tengah jalan seperti ini barulah muncul rasa pesimis tak percaya diri untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Bahkan Cempaka ragu jika ia bisa bertahan di sini. Benar kata Naskala jika ia terlalu memaksakan keadaan hingga akhirnya dia lelah sendiri.


Naskala yang kebetulan melintas di depan Cempaka berhenti sejenak dan menatap istrinya itu. Ia yang mengerti dengan kecemasan Cempaka hanya bisa menggelengkan kepala. Pria itu mengamati istrinya dan menghampiri wanita itu. Ia menatap ke arah tugas-tugas Cempaka dan tersenyum tipis nyaris tak terlihat.


"Kalau pusing istirahat. Jangan dari tadi di sana tugas tidak dikerjakan dan hanya dilihat. Mending di sini, di pangkuan Mas." Naskala menarik kursi dan duduk di samping Cempaka lalu kemudian menepuk pahanya memberikan kode kepada wanita tersebut


Cempaka hanya memutar bola matanya malas. Mendengar suara suaminya yang merusak konsentrasi berpikirnya saja sudah membuat Cempaka marah besar dan tak mood.


"Mas dari tadi ngomong terus. Coba diam sebentar. Cempaka lagi pusing."


"Memang apa yang sudah kamu lakukan sampai pusing? Mas liat kamu dari tadi cuman diam dan tidak mengerjakan tugas kamu." Meskipun terdapat sindiran dari ucapannya tapi tak menghentikan perhatian Naskala kepada wanita itu. Ia berdiri kemudian meletakkan tangannya di kedua pundak Cempaka lalu memberikan pijatan halus.


Cempaka yang merasakan pijatan tersebut tak bisa menampik bahwasannya ia sangat menikmatinya hingga matanya pun terpejam saking nikmatnya. Suaminya benar-benar pengertian walau terkadang juga sangat mengesalkan.


"Enak banget Mas."


"Mas kayaknya cocok buat pindah profesi." Cempaka langsung menatap suaminya. Ia tahu jika Naskala bercanda.


Akan tetapi Cempaka tak akan mengenal candaan dalam menunjukkan rasa cemburunya. Jika Naskala menjadi seorang tukang pijat maka tentunya pria itu nantinya akan banyak membantu wanita yang ingin diminta pijat dengan suaminya. Membayangkannya saja sudah membuat dada Cempaka sesak.


"Mas awas aja kalau berani."


"Pijat plus-plus!"


"MAS!!" Habis sudah kesabaran sang istri. Cempaka berteriak di depan Naskala. Matanya memerah menunjukkan jika ia sedang tak bercanda.


Naskala terkekeh dan menjauhkan poni Cempaka yang menutupi sebagian wajahnya. Kemudian Naskala menarik napas panjang dan meletakkan tangannya di bahu wanita tersebut.

__ADS_1


"Sayang jangan nangis. Mas hanya bercanda."


"Dari tadi Mas bilang bercanda mulu. Gak tahu kalau hati Cempaka ini sakit?"


"Iya-iya mas tahu. Maaf yah. Kamu sekarang mau minta apa dari mas?"


Bukannya bahagia Cempaka malah kian cemberut dan menjauh dari suaminya itu.


"Mas sok banget. Semalam aja setuju kalau kita mau jalan-jalan. Tapi pas Cempaka udah siap-siap Mas malah ke kantor. Cempaka gak percaya lagi."


"Kamu maunya jalan-jalan?" Yang paling susah ditaklukkan oleh seorang Naskala hanyalah Cempaka. Ia bahkan sampai kehilangan ide tatkala membujuk wanita itu. Mendadak Naskala memiliki pikiran yang buntu.


"Gak."


"Terus maunya apa?"


"Tidak mau apa-apa."


Ia berpura-pura cuek seakan tak menerima apa yang diberikan oleh Naskala. Padahal hati dan sikapnya bertolak belakang. Tapi untungnya Naskala mengetahui hal itu makanya ia tampak biasa saja.


"Gak mau yah? Mas makan sendiri aja."


Cempaka mendelik tajam. Ia pun merebut Silverqueen dari tangan Naskala langsung membawanya pergi.


"Mas gak dibagi."


"Gak mau!!"


Naskala menatap tak menyangka istrinya itu. Ia berkacak pinggang lalu tertawa kecil sambil diiringi tersenyum tipis di wajahnya.


________


Teror yang sebenarnya tak pernah berhenti dan malah makin menjadi terus menghantui kehidupan Naskala. Seakan nyawanya hanya di ujung kuku.

__ADS_1


Tapi pria itu tak pernah gentar maupun takut sedikitpun ketika orang-orang mengancam kehidupannya. Fokus Naskala saat ini adalah mengungkap kejahatan mereka. Kemarin Naskala tak bisa menjebloskan bos utama mereka yang kejahatannya sudah mendarah daging di dalam lingkaran para tentara.


Lagi-lagi ayah Reyhan harus lepas dari hukum. Naskala benar-benar tak mengerti kenapa mereka sehebat itu dan melawan hukum dengan uang. Tapi untungnya hukum netizen tak pernah lepas dari kehidupan mereka. Tapi yang lebih kasihan adalah Reyhan yang hidup dalam lingkaran kesedihan. Di mana dirinya menjadi anak yang broken home serta beberapa hujatan bekas kejahatan ayahnya melayang kepada dirinya yang tak tahu menahu. Sangat geram dan ingin marah tapi Reyhan hanya bisa menerima itu dengan lapang dada.


Ia juga sudah menikah dengan wanita yang menjadi korban dari sepupunya. Mereka hidup tentunya tak bahagia karena tanpa cinta dan materi yang cukup. Untungnya wanita itu sedikit sabar menghadapi suaminya. Tapi dia juga perlu dikasihani sebab sedang mengandung dan hamil besar.


"Kenapa melamun?"


"Akhir-akhir ini teror semakin jadi. Saya khawatir kepada Cempaka Mas."


Teman satu profesi Naskala itu mengangguk. Ia tahu mengenai Maslaah tersebut dan orang itu adalah orang yang membantu Naskala untuk mengungkap kejahatan yang mereka perbuat.


"Kali ini kita harus bergerak lebih cepat. Apalagi target mereka bukan hanya satu. Tidak hanya kau tapi banyak jenderal besar. Sebelum pemberontakan dilakukan kita harus bisa menghentikan mereka lebih dulu."


"Itu yang ku maksud."


"Malam ini." Naskala menatap temannya itu dengan kening yang mengerut. Apa maksud dari ucapan laki-laki itu yang menggantung.


"Maksud kamu?"


"Malam ini akan ada penyerangan yang akan mereka lakukan di salah satu rumah jenderal besar. Tidak tahu bagaimana cara mereka melakukan aksinya nanti. Tapi teman-teman yang lain sudah melakukan persiapan rahasia. Oh iya satu lagi, kau perlu berhati-hati dan bisa saja ini hanyalah akal-akalan mereka untuk mengalihkan perhatian kita."


"Ini cukup rumit. Kapan aku bisa bertemu dengan atasan?" Untungnya atasan mereka kali ini adalah orang yang benar. Walau ada sebagian temannya yang termasuk dalam jaringan hitam.


"Kebetulan atasan tadi memanggil kamu untuk menyusun strategi." Seperti yang dilihat, sebenarnya banyak dari mereka yang tahu perbuatan teman-teman satu rekannya tapi berusaha tampak baisa saja agar tak ada kecurigaan dari diri mereka. Dan bisa mengungkap kejahatan yang mereka buat.


"Terimakasih." Naskala pun pergi dari sana dan bergegas untuk menemui atasannya itu.


___________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.

__ADS_1


__ADS_2