
Tiba saatnya hasil nilai ujian pun keluar. Cempaka merasakan jantungnya ingin lepas dari tempatnya saking tak tenangnya. Wanita itu berusaha untuk tetap percaya diri dan menyakinkan dirinya untuk melihat ke papan Mading.
Di sana ia melihat banyak orang yang sudah berkerumun ingin melihat hasil ujian mereka. Apakah memuaskan.
Cempaka pun melakukan hal yang sama dan dirinya menghampiri tempat itu. Ia berdesak-desakan dan menatap ke nama yang tertera paling atas. Cempaka terbelalak bukan main saat di sana tertuliskan Aileen Candramaya Putri Cempaka. Ini bak mimpi di alam nyata. Sungguh Cempaka masih syok dan menutup mulutnya.
Para murid yang di sana yang mengenal Cempaka lantas langsung memberikan selamat kepada wanita itu. Cempaka merasa bahagia dan berpikir jika ini adalah hari terbaiknya.
Wanita itu tak bisa menyembunyikan senyumnya dan langsung pergi dari tempat itu sambil melompat-lompat.
Di tengah jalan Cempaka bertemu dengan guru yang kemarin mengawas dirinya pada saat ujian terkahir. Ia sudah mendengar dari para murid siapa yang berhasil menjadi murid terbaik.
Senyum guru itu terbit apalagi melihat ada orangnya yang sedang kesenangan.
"Wah selamat yah Cempaka! Kamu benar-benar hebat dan itu artinya kamu sudah berusaha sangat kuat."
"Terimakasih."
"Tapi tetap saja kamu jangan senang dulu. Kebanyakan orang yang masuk dengan cara direkomendasikan mereka tak terlalu belajar tapi memang sudah dari otaknya yang pintar dan tak perlu belajar banyak. Tapi kamu harus yakin, apalagi di sana tugasnya tidak main-main. Intinya harus giat."
Lalu guru itu pergi membuat Cempaka langsung terdiam. Guru itu benar sebab Naskala juga begitu. Sama sekali ia tak pernah melihat Naskala belajar namun ia bisa lolos dan menjadi murid terbaik.
Harapan itu membuat Cempaka tak lagi semangat. Sementara dirinya penuh dengan perjuangan. Naskala yang menjemput menaikkan alisnya melihat wajah muram Cempaka.
Ia pun mulai mengerti jika Cempaka tak mendapatkan nilai yang memuaskan yang ia inginkan. Sebagai suami terbaik, Naskala langsung memeluk Cempaka dan mengusap punggung wanita itu dengan penuh kasih sayang.
"Tidak apa-apa. Masih banyak cara untuk masuk ke universitas Gadjah Mada."
"Om! Nilai Cempaka yang terbaik."
Naskala terkejut dan mengamati wajah Cempaka yang sama sekali tak bahagia. Ia kebingungan sendiri jadinya. Ataukah Cempaka hanya ingin mengerjai dirinya?
"Lalu? Kenapa wajah kamu tidak senang?"
"Cempaka sedih karena Cempaka tak bisa mendapatkan nilai itu dengan cara yang tak terlalu berusaha seperti Om. Om tinggal duduk dengan santai dan ujian lalu lolos. Tadi guru Cempaka nyindir kaya gitu."
Naskala menarik napas panjang. Ternyata itulah keresahan sang istri. Ia kira tadi ada apa.
__ADS_1
"Siapa bilang? Kemarin aku berusaha sebaik mungkin supaya bisa menjadi yang terbaik. Cuman kamu yang tidak melihat perjuangan suami mu ini."
"Hah beneran?"
"Hm. Sampai tidak tidur semalaman buat belajar. Kamu masih kecil," ucap Naskala yang membuat harapan Cempaka kian tinggi sebab ia tak pernah sampai tidak tidur hanya untuk belajar.
"Beneran Om?"
"Iya sayang."
Naskala pun menyerahkan bunga yang dibawanya. Bunga itu sudah ia siapkan untuk bertemu dengan Cempaka. Cempaka tampak bahagia mendapatkan bunga itu dan langsung memeluk Naskala.
"Bunga ini buat Cempaka? Terima kasih Om. Om emang baik." Cempaka menerima bunga tersebut dengan suka rela.
Ia merasa senang sebab bunga pemberian Naskala adalah bunga yang sangat berharga untuknya. Ia tak akan pernah menyia-nyiakan bunga itu.
"Kita makan dulu untuk merayakan kelulusan kamu."
Cempaka mengangguk.
"Kapan wisudanya?" tanya Naskala.
"Katanya sih 3 hari lagi."
________
Makan bersama pun berjalan dengan sangat romantis. Kali ini mereka benar-benar berkencan layaknya pasangan suami istri yang benar-benar sudah resmi.
Cempaka tampak bahagia. Perhatian Naskala kepada dirinya benar-benar tak main-main. Seperti saat ini dengan hati-hati Naskala pun memasukkan makanan ke dalam mulut Cempaka.
Cempaka mengunyah dengan suka cita. Ia tersenyum seraya memperhatikan Naskala.
"Om Cempaka bahagia."
"Saya juga," ucapannya dengan pandangan yang tak bisa lepas dari Cempaka.
Mereka pun makan dengan hikmat sembari bercengkrama. Tawa dan candaan yang tak bisa dilewatkan dan juga dilupakan.
__ADS_1
"Om kita mau ke mana lagi?" Cempaka heran tatkala Naskala menarik tangannya dan membawanya ke sebuah tempat yang ia tak ketahui.
Ini adalah gedung yang sudah tak terpakai lagi. Namun gedung itu tampak sangat indah meksipun tak berpenghuni. Naskala menarik tangan Cempaka naik ke lantai paling atas.
Tidak ada kengerian karena gedung ini tampak penuh dengan keindahan dan masih bagus. Apalagi sudah dihias oleh Naskala.
Bangunan ini tidak terpakai hanya untuk beberapa hari. Pemandangan dari atas menyuguhkan sebuah pemandangan yang tak biasa.
Mereka pun masuk menerobos pintu-pintu. Apalagi melihat pemandangan dari atas saat malam hari membuat pemandangan berkali-kali lipat sangat indah.
Seperti saat ini. Setelah menunaikan sholat Isya Naskala membawa Cempaka kemari. Tempat ini sudah ia rencanakan dan juga beberapa lampu hias yang bertengger menerangi jalan mereka yang membawa kesan indah luar biasa.
Naskala menarik tangan Cempaka ke sisi tembok. Di atas rooftop Cempaka melihat kota Bandung yang sangat luar biasa.
"Om indah banget!" Cempaka bahkan sampai berjingkrak kesenangan di bawa ke tempat ini.
Ia menatap papan iklan yang sangat besar di depan sana yang langsung berhadapan dengan dirinya. Cempaka menatap Billboard tersebut yang tiba-tiba berubah dan menampilkan beberapa kenangan dan penuh dengan video serta fotonya. Lalu di sana tertuliskan I Love You di silde terakhir.
Cempaka terkejut dan menatap Naskala. Ia menutup mulutnya tak menyangka. Kemudian tak lama kembang api meletus di udara dan membentuk namanya.
Ini benar-benar kejutan yang luar baisa. Naskala merayakan keberhasilan Cempaka dengan sangat indah. Wanita itu menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Kemudian ia pun memeluk Naskala dengan sangat erat.
"Terima kasih Om."
"Sama-sama sayang."
Cempaka mendongak hingga mata mereka bertemu pandang. Cempaka menarik kepala Naskala supaya lebih dekat dan kemudian ia pun menyatukan bibirnya dengan bibir Naskala.
Mereka menikmati ciuman itu. Naskala merup bibir Cempaka dan kemudian memperdalamnya.
Ciuman itu diiringi oleh suara letusan kembang api yang angkat meriah di udara.
________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.
__ADS_1