Bocil Imutnya Om Tentara

Bocil Imutnya Om Tentara
Part 37


__ADS_3

Usai pembicaraan tadi, Naskala langsung pergi ke kantor. Tak tahu apa yang dikerjakan oleh pria itu karena Cempaka pun tak peduli. Tapi bagaimanapun caranya dia berusaha untuk mengusir pikirannya mengenai pria itu dan tak peduli dengan semua yang Naskala lakukan rupanya tak semudah itu.


Ada satu lagi yang masih mengganjal di otaknya. Ia sedang memikirkan bagaimana cara dirinya yang lemah ini menyelamatkan Naskala. Jika jalan satu-satunya ia harus mengorbankan nyawanya ia tak peduli.


Yang ingin Cempaka lakukan adalah membantu orang. Ia ingin menggoreskan kebaikan di hati seseorang, jadi tatkala setiap mendengar namanya, hanya ada kebaikan yang dilakukan Cempaka di otak mereka.


Cempaka tak ingin hanya ada citra buruk di hati seseorang setiap kali mengingat dirinya. Apalagi Naskala, jika ia hidup tanpa pria itu maka tidak ada artinya. Tetapi jika ia yang tidak ada ia pun tak peduli meksipun dirinya lebih dulu merasakan siksa kubur, mengingat Cempaka orang yang banyak dosa. Karena sering berbohong kepada Naskala jika ia telah mengerjakan sholat. Itu dulu, dan sekarang ia sudah berubah. Mengingat itu membuat Cempaka ingin tersedak liurnya sendiri.


Cempaka menghela napas gusar. Di rumah membuat dirinya bosan. Ia ingin keluar namun Cempaka juga merasa jika dirinya juga mager untuk melakukan itu.


"Cempaka, bingung mau ngapain." Cempaka menahan napasnya.


Ia pun keluar dari kamar dan ketika membuka pintu, Cempaka terkejut melihat Naskala yang berdiri di depan pintu.


Cempaka berusaha untuk melewati Naskala tapi pria itu juga tentunya tak akan membiarkan Cempaka lolos begitu saja.


Cempaka menatap kesal sang suami. Kenapa ia bisa bersuamikan Naskala? Akan tetapi dirinya bahagia bersama pria itu.


"Om awas ih!!"


"Kamu tahu jika aku merindukan kamu dan pulang juga demi kamu karena khawatir sama kamu. Dan sambutan kamu seperti ini." Naskala hanya bercanda.


"Gak tau dan gak mau tau. Om juga gak peduli sama aku, kan?"


Cempaka berdecak dan mengacak rambut istrinya itu. Ia memeluk tubuh Cempaka dengan sangat erat. Masih teringat jelas di benaknya jika Cempaka adalah wanita yang sangat ia cintai dan ia takut meninggalkan wanita itu sendirian di rumah.


"Aku selalu tidak bisa tenang jika kamu hanya sendiri di rumah."


Cempaka terdiam. Ia pun tak bisa tenang jika Naskala tak ada di rumah.


"Itulah yang Cempaka rasakan jika tidak ada Om di rumah ini."


Naskala menarik sudut bibirnya. Pelukannya makin mengerat kepada wanita itu. Hati mereka ternyata sama dan saling mengkhawatirkan hal yang sama.


Ketakutan yang entah kapan akan berakhir.


"Kamu ini kenapa sangat lama dewasa? Aku tidak sabar ingin menjadi suami yang sesungguhnya."


Cempaka tahu ke mana arah pembicaraan Naskala. Kenapa Naskala yang alim dan selalu berpikir bersih bisa berbicara seperti itu, pasti ada yang mempengaruhinya.

__ADS_1


Cempaka menarik napas panjang. Dan menatap sengit sang suami.


"Apa maksud Om?"


"Gak tahu kenapa kepikiran aja, hehehe istri aku yang cantik jangan marah dong."


Cempaka pun tak bisa menahan godaan tersebut. Masih teringat jelas bagaimana ciuman mereka sebelumnya. Naskala yang juga sedang mengingat dan Cempaka juga yang berpikir hal tersebut membuat mereka sama-sama salting.


Mereka berdua tertawa bersama. Apalagi ternyata mereka juga memikirkan hal yang sama.


"Hayo Om lagi mikirin apa?"


"Dan kamu juga lagi mikirin apa?" tanya Naskala kepada istrinya tersebut hingga mereka tak bisa menyembunyikan raut malu-malu kucing yang terlihat jelas.


"Sudah ih."


Cempaka pun pergi dan Naskala yang makin hari semakin berani menarik pinggang Cempaka dan menyambar bibir wanita itu. Awalnya Cempaka sangat terkejut namun ia tetap membiarkan bibir mereka saling menyatu.


Naskala tak pernah melakukan hal itu dengan sangat dalam seperti ini. Melihatnya juga tak pernah, akan tetapi naluri seorang pria yang membawanya ke tahap seperti ini di mana nalurinya tersebut juga yang menuntun dirinya untuk memperdalam ciuman mereka. Seakan hasratnya itu mengajarkan pria polos itu.


"Om!!" Cempaka mendorong tubuh Naskala dan mereka pun menarik napas panjang setelah pergulatan bibir yang sangat lama.


"Nih liat semuanya gara-gara Om!" ucap Cempaka dan menunjuk bibirnya.


Naskala menatap bibir yang dimaksud oleh Cempaka. Ia terkejut melihat itu. Sebrutal itu kah dirinya?


"Maafkan aku!" Naskala pun menyentuh bibir Cempaka dan mengusapnya pelan.


"Ish tuh kan kalau udah kejadian bisanya minta maaf doang."


Naskala terkekeh dan menyentil bibir tersebut pelan. "Abisnya ini imut banget sih."


"Om tuh tentara dan tentunya Om tuh kuat. Dan Cempaka ini anak kecil dan tentunya gak kuat." Entah kenapa itu seperti pujian bagi Naskala. Setiap pria pasti akan tersanjung mendengar hal itu.


"Saya bangga."


"Malah senang." Naskala pun mengangkat tubuh Cempaka dan mengecup pipi wanita itu. Ia meletakkan tubuh Cempaka di atas kasur dan kemudian menatapnya dengan sangat dalam.


"Om kesambet apa sih hari ini? Kok pikirannya beda?"

__ADS_1


"Gak tahu kenapa aku hari ini memang sedikit lain dan menginginkan sesuatu."


Naskala pun mendekatkan wajahnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.


"Om ini gak aman!" Bahkan hembusan napas mereka pun bisa dirasakan oleh keduanya.


Naskala tertawa hingga tampak sekali ketampanan yang luar biasa milik Naskala. Ia pun menjauhkan tubuhnya dari atas Cempaka dan berbaring di samping.


Naskala menatap ke atas dengan pandangan kosong. Hari ini cukup melelahkan dan begitu banyak masalah yang datang dan Naskala harus menyelesaikan itu.


"Om capek?" tanya Cempaka dan memijat tangan berurat Naskala.


Cempaka selalu saja salah fokus setiap kali memijat tangan pria itu.  Tangan yang penuh dengan urat-urat tersebut tak tahu kenapa sangat menggoda di mata Cempaka.


Ia pun menarik lengan baju Naskala dan menyentuh aliran urat tersebut hingga membuat Naskala yang mulai tenang pun mendesis.


"Cempaka!" Naskala memberi peringatan.


"Om kok bisa punya urat kaya gini? Kenapa Cempaka tidak?"


"Karena aku laki-laki dan kamu tidak."


Cempaka pun menaikkan lengan baju itu. Ia menyusup ke dalam dan mengusap otot Naskala.


"Om juga punya otot."


"Iya itu aku buat untuk kamu." Naskala menatap Cempaka penuh arti, "dari tadi kamu yang terus nyentuh aku bagaimana jika aku sentuh balik?" ancam Naskala yang membuat bulu kuduk Cempaka naik.


Cempaka tak biasa membayangkan jika itu terjadi. Sebelum hal tersebut dilakukan oleh Naskala ia cepat-cepat menarik tangannya dan berekspresi tanpa rasa bersalah.


"Dasar kamu!"


Naskala menarik kepala Cempaka dan memeluknya.


"OM LEPASIN!!"


______


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2