
Kali ini Cempaka bukan hanya disibukkan untuk persiapan masuk kampus Gadjah Mada saja akan tetapi Cempaka juga disibukkan dengan menandatangani beberapa berkas yang sudah diurus oleh ayahnya untuk mereka menikah secara resmi.
Setelah ini tak perlu lagi Naskala dan Cempaka untuk menyembunyikan hubungan mereka secara diam-diam dari publik. Meksipun pernikahan mereka diadakan tertutup dan hanya orang-orang tertentu saja yang diberitahukan tapi tetap saja membuat mereka lega hingga bisa bermesraan di depan umum.
Beberapa teman Cempaka dan Naskala sangat terkejut jika mereka akan menikah apalagi masih ada ikatan saudara. Walau hanya saudara angkat.
Ada beberapa hal yang membuat Cempaka dan Naskala masih sedikit menyembunyikan pernikahan neraka yaitu untuk mengindari segala Bullyan. Bagaimana pun juga Meraka adalah anak dari Jendral besar dan sangat terkenal. Pasti ada pikiran yang tidak-tidak dari masyarakat dan mengolok-olok pernikahan mereka.
Memang kapanpun hubungan ini bisa saja terungkap tapi tidak sekarang. Karena mengingat bahwa Cempaka masih memiliki mental yang masih lemah. Itulah yang dikhawatirkan oleh Naskala. Kesehatan dan keselamatan Cempaka adalah hal nomor satu baginya.
"Mas! Ini kenapa banyak banget sih berkasnya. Kaya orang mau cari pekerjaan aja. Nikah kok ribet." Naskala hendak menyemburkan tawanya mendengar segala keluhan Cempaka yang dari tadi hanya itu didengarnya dari wanita tersebut.
Cempaka dipenuhi dengan rasa lelah saat ia menanda tangani segala berkas-berkas untuk mereka menikah nanti. Apalagi ia harus membacanya lebih dulu agar tak ada tipuan di sana. Padahal mana mungkin Naskala tega melakukan itu, tapi Cempaka tetap ingin membacanya. Sebut aja Cempaka ingin mempersulit diri sendiri.
"Ini benar tidak ada tipuan sama sekali, kan?" tanya Cempaka sembari mendelik dengan tatapan tajam ke arah suaminya.
Naskala meyakinkan jika memang tak ada tipuan di sana. Makanya dari tadi ia memberikan saran jika Cempaka tidak percaya maka ia harus membacanya lebih dulu. Hal itu benar-benar dilakukan oleh wanita itu. Naskala bahkan tak menyangka.
"Dari tadi Mas bilang jika tidak ada tipuan. Cuman kamu yang dari tadi masih aja tidak percaya kepada Mas."
"Iya-iya Cempaka percaya." Cempaka pun menanda tangani berkas tersebut tanpa melihat apa yang sudah ia tandatangani. Kali ini ia percaya penuh kepada suaminya tersebut.
Semoga saja Naskala tak melakukan hal yang sangat mengecewakan kepadanya. Memang pikiran Cempaka sudah terlalu jauh tapi ia harus tetap waspada.
"Mas teror ini sudah tidak ada ya?" tanya Cempaka kepada suaminya untuk memastikan jika mereka semua sudah bersih dari marabahaya dan itu artinya Naskala tak lagi menjadi target dari pembunuhan. Membayangkan hal itu terjadi kepada keluarganya membuat dada Cempaka tak tenang dan ia merasakan cemas yang berlebih. Ia masih muda dan belum siap menjanda.
"Mas!"
"Hm."
"Jawab."
"Tidak ada sayang." Naskala pun mendekat dan mengelus kepala Cempaka untuk menenangkan sang istri yang sudah berpikir terlalu jauh.
Entah apa yang membawa Cempaka hingga tiba-tiba ia bertanya seperti itu.
Pada kenyatannya Naskala tak menjawab yang sebenarnya. Ia sengaja menyembunyikan hal besar itu dari sang istri dengan beberapa alasan. Teror itu sebenarnya tak pernah berhenti apalagi kali ini lebih parah dari teror sebelum-sebelumnya. Semua ini terjadi setelah ia dengan terang-terangan melawan mereka semua.
Tapi Naskala tak pernah gentar. Ia menunjukkan bagaimana seorang tentara yang sesungguhnya yang tak pernah takut dengan marabahaya apapun.
__ADS_1
Apalagi di sini dia dibayang-bayangi oleh kehancuran keluarganya dan nyawanya juga menjadi taruhan. semua yang bersangkutan dengan Cempaka maka ia tak akan membiarkan siapapun untuk menyentuhnya, ia ajak menjadi pelindung Cempaka, ajudan wanita itu seumur hidupnya seperti apa yang pernah ia janjikan.
"Mas benar yah?"
"Iya sayang."
Cempaka pun bernapas lega.
"Alhamdulillah. Akhirnya kita bisa hidup tenang yey!!!" ucap senang Cempaka dan langsung memeluk leher Naskala. " Sebentar lagi kita akan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Kita akan menikah secara resmi dan memiliki anak lalu hidup damai bersama keluarga kita." Cempaka pun tampak bahagia dan senyum itu tak luntur di wajahnya.
Sementara itu berbanding terbalik dengan Naskala yang tampak menyembunyikan sesuatu dari raut wajahnya.
Ada kesedihan, penyesalan, serta ketidak berdayaan pada ekspresi yang ia tunjukkan. Melihat bertapa bahagianya Cempaka membuat rasa cemas itu semakin jadi. Bagaimana jika Cempaka tahu yang sebenarnya?
Nyawanya pun sudah didepan mata akan dicabut. Tapi tak ada yang tahu jika Tuhan sudah berkehendak.
Bukan Naskala tak tahu jika dia sengaja dipindah tugaskan oleh atasannya karena mereka ingin memisahkan dirinya dengan sekutunya agar tak bisa melakukan sebuah kerja sama. Sebesar apapun jaraknya tak akan bisa menghentikan mereka untuk berkomunikasi dan menangkap penjahat yang asli
Naskala pun tersenyum samar melihat Cempaka yang bersemangat.
"Untuk membalas kebaikan Mas. Maka Cempaka akan kasih hadiah buat Mas."
Cup
Cempaka mengecup singkat bibir Naskala hingga membuat Naskala terdiam tak percaya dengan perbuatan istrinya itu.
"Istri Mas sudah bisa bandel yah. Sini kamu."
Naskala pun menarik tangan Cempaka dan untungnya Cempaka bisa melepaskan tangannya yang sudah diperengkap lalu mendapatkan kesempatan itu ia pun kabur sebelum ditangkap kembali oleh Naskala.
"Mas jangan kejar Cempaka!! Cempaka capek." Bisa-bisanya Cempaka bernegosiasi di saat dirinya telah membuat kesalahan kepada Naskala.
________
Pagi ini adalah pagi pertama Cempaka pergi ke kampusnya. Ia sangat bersemangat untuk menjadi maba tahu ini. Untuk osepk di hari pertama, Cempaka disuruh untuk mengenakan baju kemeja putih dan rok span serta jilbab hitam.
Cempaka menatap dirinya di depan pantulan kaca. Dari tadi ia tak bisa berhenti mengagumi dirinya sendiri terlebih lagi Cempaka masih tak menyangka jika dirinya akan menjadi mahasiswa.
"Mas! Cempaka sekarang sudah menjadi mahasiswa," ucap Cempaka dengan wajah sumringah.
__ADS_1
Naskala memperhatikan Cempaka dengan seksama. Ia mengangguk merasa puas dengan penampilan Cempaka yang tampak sedikit lebih dewasa. Walau hanya sedikit tapi ada kemajuan.
"Seorang mahasiswa itu harus bersikap dewasa. Jangan lagi manja dan kekanak-kanakan. Kalau kamu kaya gini yang ada dimarah dosen."
"Mas kenapa sih ngomel mulu. Padahal Cempaka kan gak ada melakukan kesalahan apapun."
Naskala mengangguk beberapa kali. Ia tahu akan hal itu tapi kali ini peran Naskala sebagai orang yang bertanggung jawab kepada istrinya itu maka ia harus menjaga Cempaka layaknya emak-emak pada umumnya.
"Iya Mas tahu."
"Cepat. Dari tadi kamu di depan kaca terus. Udah cantik kok. Nanti telat. Ini mas juga harus kerja sayang."
"Iya Mas sabar kenapa sih."
Cempaka mendumel. Naskala hari ini sedikit tak sabaran dan juga entah kenapa mulutnya seperti emak-emak. Sementara itu Cempaka juga sedikit sensitif karena ia kebetulan sedang kedatangan tamu.
Rusak sudah mood wanita itu saat Naskala yang tak mau berhenti berbicara. Ia pun berjalan di belakang pria itu.
Naskala yang menyadari akan hal itu menarik napas panjang dan menarik tangan istrinya lalu menggenggamnya.
"Maaf yah sayang. Mas hari ini kaya gini untuk kamu."
"Tapi jangan buat Cempaka kesal. Kan hari ini hari baik Cempaka."
"Hm. Sekarang sudah menjadi mahasiswa ya? Senang? Nah sebagai permintaan maaf Mas. Kamu mau pas dari mas?"
"Apapun yang diinginkan Cempaka Mas penuhi?"
"Iya sayang."
"Yey!! Cempaka mau nanti kita jalan-jalan trus makan-makan."
"Demi ayang mas rela lakukan apapun."
_________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.
__ADS_1