
Cempaka melemparkan tasnya begitu saja ke atas meja. Suara nyaring yang dihasilkan dari lemparan tersebut sontak membuat orang-orang yang berada di kelas langsung menatap kebrutalan Cempaka. Mereka mengerutkan kening kenapa tiba-tiba Cempaka seperti banteng mengamuk padahal masih sangat pagi.
Nanda sebagai teman sebangkunya bahkan sampai ternganga melihat wanita itu. Ia menggaruk pipinya sebagai rekasi bingung.
"Kenapa?"
Cempaka dengan entengnya tersenyum ke arah semua teman-temannya setelah membuat keributan di kelas.
"Gak papa! Cuman lagi senang aja!" ucap Cempaka dengan wajah berseri-seri. Dari situ saja sudah bisa ditebak jika wanita itu memang tampak sedang sangat bahagia.
"Lah tumben?" tanya Nanda heran. Pasalnya Cempaka hampir tiap hari selalu tidak mood.
"Rahasia dong alasannya!" Karena alasan Cempaka sesungguhnya adalah ia tidur sambil dipeluk oleh Naskala. Sebuah berita yang sangat membuatnya menggebu-gebu dan selalu teringat dengan moment itu.
Jika ia menceritakan itu ke teman sekelasnya yang ada mereka langsung heboh dan menuduh Cempaka yang tidak-tidak. Cempaka tak ingin hal itu terjadi.
Cukup dirinya saja yang mengetahui alasannya. Mengingat kejadian itu kembali membuat Cempaka tak bisa berhenti tersenyum hingga membuat Nanda selaku teman karibnya menganggap jika kali ini Cempaka memang sudah gila.
"Kayaknya kamu memang sakit."
"Ish apaan sih."
Cempaka tersenyum tipis sembari menundukkan kepalanya.
"Eh iya tadi si Reyhan ngasih ini ke kamu."
Nanda memberikan sebuah kado yang telah diberikan Reyhan untuk Cempaka. Cempaka menatap bingung kado tersebut, tumben sekali Reyhan memberinya sebuah kado. Memang Reyhan sering memberinya beberapa barang tapi tak pernah berbentuk kado. Membuat Cempaka malah bingung dalam rangka apa Reyhan memberinya kado ini.
"Dari Reyhan? Kok tumben?" Cempaka memicingkan matanya ke sudut ruangan di mana Reyhan yang diam-diam tengah memperhatikannya.
Reyhan yang menyadari jika tatapan Cempaka mengarah padanya langsung mengambil buku dan berpura-pura membaca.
Cempaka ternganga melihat Reyhan. Ia pun menatap ke sampingnya di mana Nanda yang berusaha menahan tawa. Nanda menertawakan reaksi Reyhan yang tampak lucu saat tertangkap basah.
"Kok ketawa?"
"Gak papa," ucap Nanda sambil menormalkan ekspresinya.
Cempaka menatap lagi ke arah Reyhan. Ia pun menghampiri pria itu. Bagi Reyhan kedatangan Cempaka ke mejanya bukanlah sebuah hal yang baik bagi jantungnya.
"Reyhan! Benar kamu yang kasih ini?" Reyhan mengangguk sambil tersenyum tipis. "MAKASIH!!"
Melihat rekasi Cempaka yang tampak sangat senang membuat Reyhan sedikit lega. Ia memanjatkan syukur karena Cempaka menyukai hadiah yang ia berikan.
"Sama-sama."
Cempaka mengangguk antusias. Ia pun menatap ke arah buku yang tengah dipegang oleh pria itu. Ia tertawa pelan lalu membenarkan letak bukunya.
__ADS_1
"Gimana sih, baca buku kok malah kebalik gini."
"Hah?" Reyhan rasanya ingin menghilang dari bumi saat itu juga. Malunya jangan lagi dirinya, bahkan Ia tak bisa meletakkan wajahnya saat setelah ditegur oleh Cempaka.
"Eumm anu.."
"Eh gak papa. Tapi kok kamu kasih ini ke aku? Aku kan belum ulang tahun," ucap Cempaka seraya mengamati hadiah yang diberikan oleh Reyhan.
"Gak papa, aku ingin kasih aja."
"Oke! Makasih ya! Lain kali jangan lupa kasih lagi." Bisa disebut Cempaka sedikit ngelunjak.
Cempaka pun kembali ke mejanya. Ia tersenyum polos ke arah Nanda sementara itu sahabatnya malah merutuki Cempaka yang tidak peka dengan perasaan Reyhan.
Ia pun menarik napas panjang dan menepuk kursi di sebelahnya. Cempaka dengan senang duduk di kursi tersebut.
"Kamu tau Cempaka?"
"Hah apaan?" Cempaka menyimpan kado yang diberikan oleh Reyhan.
"Kamu gak nyadar gitu? Padahal jelas banget."
"Kenapa sih?"
"Reyhan tuh suka sama kamu!" geram Nanda.
Nanda mengulum senyum maklum. Ia pun menarik napas sabar. Nanda pun kali ini memamerkan senyum tipis seraya mengusap pundak Cempaka.
"Memang bicara sama kamu bisa buat darah tinggi aku kambuh."
________
Cempaka pun menatap rantang di depannya. Ia baru saja memasak untuk Naskala. Rencana hari ini Cempaka akan pergi ke kantor Naskala dan membawakan rentang untuk pria itu.
Cempaka memasak itu semua dengan dibantu oleh bibi. Ia juga sedang berusaha belajar memasak agar Naskala bisa mencintainya dan bukan sekedar menganggap dirinya seorang adik.
Kemudian ia pun membawa rantang itu dan langsung masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan dahulu. Cempaka memberikan alamat kantor Naskala.
Tak lama setelah menempuh perjalanan yang tidka terlalu jauh Cempaka pun sudah berada di depan kantor Naskala. Ia keluar dari dalam mobil dan memberikan beberapa lembar uang kepada supir taksi tersebut.
Kemudian ia pun merapikan pakaian dan penampilannya sebelum menemui Naskala. Ia ingin Naskala saat bertemu dengannya nanti pria itu langsung terpesona dengannya.
Tampilan penuh percaya diri Cempaka patut di apresiasi. Ia pun masuk ke kantor dan menyebutkan nama yang ingin ia temui. Siapa yang tidak mengenal Cempaka? Mereka semua tau jika Cempaka adalah anak angkat dari Toha yang merupakan jenderal besar dan ayahnya adalah seorang pahlawan yang bahkan dihormati oleh banyak tentara.
Tapi tidak ada yang tahu jika dirinya sudah menjadi istri Naskala. Yang mereka tahu jika Cempaka adalah seorang adik untuk Naskala.
Ia pun disuruh menunggu. Tak lama Cempaka langsung menerbitkan senyumnya. Ia melambaikan tangannya ketika melihat batang hidung suaminya.
__ADS_1
Naskala pun tak kalah bahagia menyambut Cempaka. Ia pun duduk di samping Cempaka.
Naskala menaikkan satu alisnya, "ada apa sampai datang kemari?"
"Cempaka bawain ini untuk Om!"
"Wow!" Naskala pun membuka rantang yang dibawa Cempaka. Ia melirik wajah Cempaka yang menunjukkan kegembiraan.
"Btw Cempaka sendiri tau yang buat ini!"
"Hebat!"
Naskala pun memasukkan beberapa lauk ke piringnya. Ketika ia hendak memakan masakan tersebut tiba-tiba Nasuha datang.
"Dijenguk istri?"
"Hsyut!!" Naskala kesal kepada Nasuha yang berbicara sangat kencang.
"Eh iya maaf-maaf." Ia pun duduk di samping Naskala. "Kalau makan itu bagi-bagi."
Naskala tak mempedulikan sahabatnya. Ia pun memakan makanannya yang sempat tertunda.
"Enak gak Om?" Naskala tak bisa berbohong jika masakan orang yang baru belajar memang rada sedikit kurang.
"Saya akan komentari untuk masukkan ke depannya buat kamu!"
"Gak mau! Cempaka gak mau dengar, yang penting harus bilang enak. Kalau enggak Cempaka bakal nangis!"
Nasuha yang penasaran pun langsung mengambil lauk dari rantang Naskala. Mata Nasuha langsung berkedip beberapa kali. Wajahnya menunjukkan ketidaksukaannya.
"ASIN!" teriak Nasuha spontan.
Naskala terkejut dengan kejujuran Nasuha. Ia menatap Cempaka yang sudah berkaca-kaca.
"Kata ku enak! Harus bilang enak!!"
Nasuha terkejut dan menatap melongo Cempaka yang benar-benar menangis.
"Eh maaf maksudnya enak."
Naskala pun bernapas lega. Nasuha akan membawa banyak masalah untuknya.
________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.
__ADS_1