
Naskala terus menatap punggung Cempaka yang tengah berjalan di depannya. Ia tahu jika wanita itu kesal kepada-nya. Sementara Naskala tersenyum tipis yang nyaris tak terlihat oleh siapapun. Hanya orang tertentu yang dapat mengetahui bahwa Naskala tengah menatap Cempaka dengan pandangan bangga.
"Cempaka!" Naskala menarik tas punggung Cempaka ke atas hingga wanita itu berhenti berjalan dan menggeram kesal.
Naskala susah payah menahan tawanya. Ia sangat menyukai jika Cempaka tengah kesal. Naskala berpikir jika Cempaka sangat imut dengan ekspresi itu.
Cempaka menoleh ke belakang tepatnya ke arah Naskala dan menatap Naskala dengan wajah menggeram.
"Ih apaan sih Om. Lepasin gak tas aku!"
"Ternyata masih sama kaya dulu. Judes dan kekanak-kanakan."
"Om Naskala ngeselin." Cempaka dengan amarah lantas menepis tangan Naskala yang menarik tasnya.
Kemudian ia berlari kencang sementara Naskala masih terpaku di tempat ketika bersentuhan tangan dengan Cempaka. Ia langsung beristighfar beberapa kali saat hampir saja tergoda syahwatnya.
Naskala pun mengikuti Cempaka yang lebih dulu masuk ke dalam rumah. Di rumah ternyata Adhila tengah menunggu Cempaka.
Sementara Cempaka tengah menahan gugup di depan ibunya Naskala. Ia terus kepikiran apakah Naskala memberitahukan kebobrokannya di sekolah kepada sang ibunda.
Cempaka cengengesan dan terus mengepalkan tangan senantiasa saling menguatkan.
Naskala yang sadar dengan reaksi Cempaka hanya menahan senyum. Cempaka yang melihat hal itu semakin kesal. Adhila mengerutkan keningnya ketika merasa ada yang salah dengan kedua anaknya.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Adhila.
Cempaka langsung tersadar dan menggelengkan kepalanya dengan kuat serta dada yang berdegup kencang.
"Gak papa Tante."
Adhila pun memicing ke arah Naskala. Naskala hanya tersenyum menanggapi sang ibunda.
"Katakan kalian ada menyembunyikan apa?"
"Tanyakan saja kepada putri kesayangan Bunda."
Adhila pun beralih menatap tajam Cempaka. Sedangkan Cempaka kesal setengah mati karena secara tak langsung Naskala sudah membocorkan kasus yang tengah dihadapinya. Padahal dari kebingungan Adhila membuatnya sedikit lega bahwa Adhila tak mengetahui kasusnya.
"Kalian serius tidak mau memberitahukan Bunda?" Cempaka tampak makin meringis.
Ia merasa tidak enak dengan Adhila. Anak itu langsung berteriak dan berlutut di depan Adhila. Ia berusaha untuk mendapatkan ampun dari Adhila.
"Tante maafkan Cempaka! Hiks, Cempaka buat salah di sekolah sampai Om Naskala dipanggil," cerita Cempaka dengan nada yang terdengar pilu.
Adhila terkejut dan menatap anaknya. Kemudian ia pun beralih menatap ke arah Cempaka.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan Cempaka?" tanya Adhila dengan jantung yang tak tenang.
"Hiks Cempaka salah. Cempaka di kelas melamun belajarnya selain itu Cempaka juga tidak mengerjakan pr. Cempaka gak ngerti mau nannya sama Om tapi takut dimarah terus Om dipanggil ke sekolah," jujur Cempaka yang terlampau sangat jujur hingga membuat kaget Naskala.
Adhila pikir apa penyebabnya. Ia takut Cempaka mendapatkan kasus yang sangat parah seperti berkelahi. Adhila mengangkat tubuh Cempaka agar anak itu berdiri. Senyum manis di wajahnya turut serta mengiringi.
"Sayang! Lain kali jangan diulang yah. Bunda kali ini gak marah tapi lain kali bisa marah. Kalau gak ngerti bisa tanya aja sama Kak Naskala jangan takut. Kamu juga bisa nannya sama Bunda. Paham, kan?" Cempaka menganggukkan kepala beberapa kali.
Ia melirik Naskala yang seolah tengah mengejeknya. Cempaka memberikan wajah mengejeknya seakan tak mau kalah serta untuk membalas perlakuan pria itu yang terlalu sok tinggi.
"Bunda! Naskala tidak bisa mengajari Cempaka saat ini. Jam Naskala juga sangat padat. Mungkin Bunda saja yang mengajari Cempaka. Lagipula Bunda juga tau kalau Naskala sama Cempaka itu gak mahram jadi harus jaga jarak."
Adhila berpikir sejenak. Ia pun sependapat karena apa yang diucapkan oleh Naskala juga ada benarnya.
"Dipikir-pikir apa yang dibilang sama Kak Naskala itu benar. Oh iya udah bertahun-tahun kamu masih aja nyebut Bunda tuh Tante dan nyebut Kak Naskala malah Om."
"Tante, Cempaka belum terbiasa. Terus Cempaka liat om Naskala emang kaya om-om." Adhila hampir menyemburkan tawanya mendengar jawaban Cempaka.
Ia pun melirik Naskala yang merasa sangat marah dan terzolimi.
"Apa setua itu muka saya? Nanti saya umur 30an kamu katain kakek-kakek?"
"Kalau udah ubanan Cempaka bakal bilang gitu," enteng Cempaka yang kemudian langsung berlari kabur ke kamarnya sebelum Naskala berteriak dan memarahinya.
Cempaka sangat senang membuat Naskala kesal. Ia berlari sambil tertawa-tawa. Sementara Adhila hanya bisa mengulum senyum melihat keharmonisan tersebut.
"Apa yang diketawain sama Bunda?"
"Hah?" Adhila menggelengkan kepala dan kemudian pergi begitu saja. Seolah lepas tanggung jawab.
"Memang wanita sangat mengesalkan," kesal Naskala dan kemudian keluar dari rumah.
Ia hanya pulang untuk mengantar Cempaka. Setelah itu ia pun akan kembali bertugas.
____________
Cempaka tak henti-hentinya bertelepon dengan Nanda. Ia menceritakan segalanya apa yang ia alami hari ini kepada wanita itu.
Cempaka juga menceritakan bagaimana kesalnya Naskala saat ia mengejeki pria itu.
"Sumpah Nanda kalau kamu liat ekspresi Om Naskala kamu bakal ketawa."
"Gak yakin sih, dari tadi kamu ceritain Om Naskala mulu."
"Ish gimana sih dia kan kakak aku."
__ADS_1
"Bukan lagi orang yang kamu sukai?"
"Kayaknya aku gak suka deh. Aku juga nganggap dia orang yang lebih tua dari aku dan hanya sekedar sayang."
"Hm, terserah kamu deh Cempaka. Tapi ingat ntar beneran suka lho."
"Mana ada! Gak suka kok."
"Kemarin aja bilangnya suka."
"Itu kan kemarin dan Cempaka belum mengerti apa-apa." Cempaka tampak tak mau mengalah. Pada dasarnya ia dibesarkan penuh dengan lingkup kemiliteran dan juga pendidikan hingga membuatnya tak bisa mengenal apa itu cinta.
Tok
Tok
Tok
"Udah ya Nanda. Bye muach!! Assalamualaikum."
Belum sempat Nanda menjawab salam dari Cempaka tapi wanita itu sudah mematikan sambungan teleponnya.
Kemudian Cempaka langsung menaruh ponselnya dan membuka pintu. Ia kaget saat melihat Naskala di depan kamarnya sambil mengangkat kepala seolah dia tau bahwa Cempaka tak mengenakan hijab.
Cempaka yang baru sadar dengan penampilannya langsung bergegas mencari hijab ala kadarnya dan keluar.
"Ada apa Om?"
"Dari tadi dipanggil buat sholat Isya berjemaah."
"Eh iya lupa," ucap Cempaka dengan canggung.
"Buruan ambil wudhu."
Cempaka mengangguk dan langsung menutup pintu. Dadanya berdegup kencang saat melihat Naskala yang mengenakan baju koko dan sarung serta bersongko. Benar-benar sangat tampan dan hampir meruntuhkan iman seorang Cempaka.
"Ya Allah ada apa dengan ku? Kenapa sangat gugup," ujar Cempaka seraya menyentuh dadanya yang tak berhenti berdetak sangat kencang.
Cempaka merutuki dirinya. Ia pikir ia tengah terserang penyakit jantung. Cempaka belum begitu memahami kenapa orang dekat dengan lawan jenis bisa sangat gugup.
Cempaka bisa dikatakan sangat polos. Perilakunya juga masih terlihat seperti anak-anak.
__________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.