Bocil Imutnya Om Tentara

Bocil Imutnya Om Tentara
Part 58 END


__ADS_3

10 Bulan kemudian


Cempaka sudah bebas dari depresinya. Ia juga sudah melahirkan seorang anak yang sangat cantik beberapa hari yang lalu.


Anak perempuan pertamanya yang menjadi warisan dari Naskala. Namanya adalah Hima Putri Naka Barawijaya. Ia sengaja menyisipkan namanya dan Naskala di nama Putri mereka yang disingkat menjadi Naka, Naskala dan Cempaka.


Wajah Hima sangat cantik antara perpaduan dirinya dan Naskala. Cempaka merasa bahagia dengan kehadiran Hima yang sedikit membuatnya merasa tenang.


"Hima! Kamu adalah anak papa dan ibu yang paling cantik. Terima kasih kamu sudah hadir."


Cempaka menatap anaknya yang memiliki mata yang sangat indah. Ia memperhatikan Hima yang kecil tapi ia sangat anteng.


Cempaka mengusap kepala anaknya. Tak terasa air matanya berkumpul setiap kali melihat anaknya yang tak mendapatkan kasih sayang lengkap dari orangtuanya.


"Maafkan Ibu yang tidak bisa menjaga ayah mu."


Selama masa kehamilannya Cempaka sangat setres. Ia terkena gangguan mental yang hampir membuatnya keguguran.


Pada akhirnya ia pun sadar dan harus lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah. Apalagi Naskala telah tiada dan hanya meninggalkan Hima yang harus ia jaga.


"Ibu janji akan memberikan kasih sayang yang tak kamu dapatkan."


Cempaka memeluk tubuh anaknya dan memejamkan matanya. Rasa sakit yang tak pernah pudar di hatinya.


Harapannya hanya satu ia dan Hima hidup bahagia agar Naskala yang melihat di atas bisa tenang.


"Cempaka!"


Cempaka menatap Nanda yang menghampirinya. Beberapa hari ini Nanda yang mengurusnya di rumah sakit.


"Nanda."


Nanda tersenyum dan memeluk tubuh Cempaka.


"Kamu jangan sedih. Om sudah memberikan yang terbaik untuk kalian. Dia mati demi negara, dia adalah pahlawan kita. Dan maafkan ayah k.."


"Nanda sudahlah. Apa yang kamu katakan memang benar. Mas adalah orang yang paling baik dan juga menjaga kita. Ia mati demi aku dan juga negara. Mungkin ini adalah akhir yang paling membahagiakan."

__ADS_1


Nanda mengangguk membenarkan ucapan Cempaka. Cempaka tertawa getir serta air mata yang mengumpul. Setiap melihat anaknya ia merasakan rasa bersalah yang sangat besar.


"Hima akan hidup tanpa ayah."


"Cempaka! Aku tahu perasaan mu. Tapi jika kamu terus menangis dan menyalahkan diri sendiri Hima pasti akan sangat sedih jika dia tahu."


Cempaka menatap Nanda dengan senyum mengembang.


"Terima kasih Nanda selama ini kamu yang paling menjaga ku. Sekarang aku tak mempunyai siapa-siapa. Semuanya sudah pergi meninggalkan aku."


Nanda menggelengkan kepalanya tak menyangka dengan ucapan Cempaka.


"Apa yang kamu katakan Cempaka? Aku bukan siapa-siapa mu? Kamu masih memiliki orang yang sangat menyayangi mu."


Cempaka menatap Nanda yang selalu mendukungnya dalam keadaan apapun. Ia merasa terharu memiliki sahabat sebaik Nanda.


"Nanda. Terimakasih untuk semua yang kamu berikan. Aku bangga bertemu dengan mu."


"Jangan sungkan. Aku juga senang bertemu dengan mu dan menjadi sahabat mu."


Nanda menghampiri Cempaka dan memeluknya.


"Terima kasih. Tapi aku harap kamu menjaga ku bukan hanya karena rasa bersalah tapi karena persahabatan kita."


"Itu sudah pasti."


Cempaka sangat berterimakasih kepada temannya yang satu ini.


"Ah iya satu lagi kenapa kamu tidak bilang kepada sahabat mu ini jika kalian sudah menikah bahkan saat masih kita sekolah. Apakah aku sahabat mu?"


"Nanda maaf." Nanda berpura-pura merajuk.


"Tidak!!"


"Maaf!"


_______

__ADS_1


Cempaka menatap sungai di mana tempat Naskala dibuang. Sambil menggendong anaknya ia memperhatikan sungai itu yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Naskala.


"Mas aku datang bersama anak mu."


Air mata pun jatuh ke pipinya. Ia tersenyum tipis. Sementara itu Hima yang masih bayi menatap sungai tersebut dengan heran.


Ini adalah pertama kalinya ia membawa Hima ke tempat ini. Cempaka ingin memperkenalkan buah cinta mereka yang kini sudah hadir.


"Dia sangat cantik dan mirip seperti mu Mas."


Cempaka memejamkan matanya dan bersamaan itu air matanya pun tumpah. Ia tak bisa menahan perasaan sakit yang begitu dalam setiap kali ke tempat ini.


Tempat yang penuh dengan kenangan buruk. Sebenarnya ia trauma dengan tempat ini di mana dengan mata kepalanya ia melihat mereka yang tak bersalah mati dengan menggenaskan salah satunya suaminya.


Tapi demi Hima ia memberanikan diri dan menyiapkan mental untuk ke tempat ini kembali.


"Hima ayah mu berada di sungai ini. Dia bangga melihat mu."


Hima yang seolah mengerti menggeliat dalam gendongan Cempaka.


Cempaka telah menjadi ibu dan janda di usianya yang muda. Sangat banyak orang yang bersimpati padanya tapi tak sedikit juga yang mengolok-olok Cempaka karena statusnya.


Tapi Cempaka tak peduli lagi pula ada Nanda yang selalu mendukungnya.


"Mas kita akan pulang. Terima kasih untuk semuanya. Senyum dan perlindungan yang Mas berikan kepada Cempaka. Cempaka akan mencoba bahagia walau tanpa Mas. Sangat sulit tapi Cempaka akan berusaha."


Cempaka pun memejamkan matanya dan membiarkan air matanya tumpah. Tidak ada gunanya ia berbicara dengan angin tapi Cempaka tetap tak peduli dan menanggap jika Naskala ada di depannya.


Sebelum pulang Cempaka membacakan doa dan Yasin di tepi sungai. Setelah selesai mengirimkan Doa Cempaka menatap sungai itu cukup lama.


"Mas Cempaka pulang. Selamat tinggal."


Cempaka pun pergi dengan membawa luka yang amat dalam di dadanya. Ia ingin melupakan tempat itu tapi Cempaka tak bisa karena di sana adalah tempat peristirahatan terakhir Naskala yang sampai sekarang tak ditemukan jenazahnya.


_________


TAMAT

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2