
Cempaka menatap dirinya yang tak mengenakan apapun. Senyum di wajahnya hilang saat ia menyadari apa yang sudah terjadi pada dirinya.
Kontan wanita itu menatap ke samping. Matanya langsung terbelalak saat tak mendapati sang pelaku di sampingnya. Rasa sedih begitu mendalam dari lubuk hati Cempaka.
Ia bangkit dan duduk dengan kaki terlipat. Pikirannya kalut dan dipenuhi rasa takut yang luar biasa, mungkin ini adalah efek yang lumrah ketika ia kehilangan sesuatu yang sudah dijaganya selama ini. Ia sudah memberikan apa yang terbaik untuk Naskala tadi malam dan kemungkinan-kemungkinan buruk berkelana di otaknya.
Cempaka berusaha untuk tenang dan beristighfar beberapa kali. Entah setan apa yang telah merasuki dirinyalah hingga menjadi orang yang tidak tenang seperti saat ini.
"Cempaka!" Suara seruan dari Naskala membuat Cempaka tersadar.
Ia saja yang terlalu jauh berpikir. Ini akibat rasa takut akan kalimat yang diucapkan Naskala tempo lalu. Cempaka langsung memeluk suaminya itu dengan pelukan hangat.
"Ada apa? Hey tenanglah."
"Cempaka takut ditinggalin." Naskala mengerutkan keningnya mendengar jawaban Cempaka.
Ia hanya pergi ke dapur saat telah melakukan mandi wajib dan menunaikan sholat Subuh.
"Kenapa kamu terlalu berpikir jauh? Aku tidak akan kemana-mana. Aku baik-baik saja," ucap Naskala dengan nada yang berusaha untuk menenangkan kekasih kecilnya yang tak disangka telah menjadi istri seutuhnya untuk dirinya.
"Cempaka takut."
"Kenapa kamu bisa sampai berpikir sejauh ini?"
"Mungkin karena Cempaka baru aja menyerahkan sesuatu yang berharga dari Cempaka. Gimana kalau misalnya Cempaka tiba-tiba ditinggalkan."
"Hey jangan ngomong kaya gitu lagi." Naskala mengusap pipi Cempaka pelan. "Mandi dulu trus jangan lupa sholat."
Cempaka mengedipkan matanya beberapa kali lalu mengangguk. Senyum di wajahnya begitu cantik hingga membuat Naskala diam beberapa detik. Apalagi saat ini keadaan Cempaka yang sangat menggoda iman.
Ia takut akan kelepasan lagi. Jika ia melakukan hal itu lagi terpaksa Naskala harus masuk ke kamar mandi dan kembali melakukan mandi wajib.
"Astaghfirullah," gumam Naskala saat melihat ke arah Cempaka.
Cempaka terdiam dengan wajah yang bingung. Beberapa detik kemudian baru ia mengerti kenapa Naskala tampak sangat gelisah.
Cempaka terkejut dan langsung ke kamar mandi. Sesampainya di dalam kamar mandi, Cempaka membuka sedikit pintu lalu mengeluarkan selimut. Hanya kepalanya yang menyembul di balik pintu sembari menatap Naskala dengan wajah yang memerah.
"Ada apa Cempaka?"
"Eumm ambilkan pakaian ku."
Naskala tertawa melihat betapa malunya Cempaka saat ini. Tapi hal itu malah membuat Cempaka terlihat berkali-kali lipat lebih imut.
__ADS_1
Ia pun mengambilkan pakaian Cempaka dan juga pakaian dalamnya. Sementara itu sang empu mati kutu. Ia terkejut saat melihat Naskala menyerahkan pakaiannya bersamaan dengan pakaian dalamnya.
Semburat merah tak bisa lagi disembunyikan oleh wanita itu karena Naskala sudah melihatnya. Ia langsung menutup pintu. Di balik pintu Cempaka bersandar dengan napas yang terputus-putus.
Cempaka menyentuh dadanya, "ini gila. Untung aku tidak jantungan. Kenapa Om tampan banget?" Saat sadar telah menyebut Naskala seperti itu lantas Cempaka kontan menutup mulutnya, "maksudnya Mas."
Cempaka menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengusir rasa malunya.
"Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus lebih percaya diri. Yakin bisa."
Cempaka menyemangati dirinya sendiri. Ia pun mulai melaksanakan ritualnya.
Naskala di luar sana yang awalnya tersenyum lebar melihat kelakuan sang istri tapi secara perlahan senyum itu luntur dan hanya menyisakan tatapan kesedihan ke arah pintu kamar mandi.
"Semua ini salah ku yang membuat mu berada dalam masalah." Naskala memandang ke tempat tidurnya yang berantakan. Di sana juga ada bercak merah membuat Naskala diam sesaat. "Terimakasih untuk semuanya."
Baru saja ia mendapatkan telepon dari atasannya jika kini mereka mendapatkan teror lagi. Omar dengan sangat jelas mengatakan jika ia akan melakukan sesuatu kepada Cempaka.
Awalnya ia tak mengerti tapi semakin ke sini ia pun paham jika Omar juga mengincar istrinya. Bukan seorang tentara tak bisa mengungkap kejahatan dari Omar, hanya saja Omar terlalu kuat dengan memiliki dukungan yang berasal dari pihak-pihak tertentu dan juga dari kemeliteran. Mengungkap kejahatan mereka membutuhkan waktu yang cukup lama.
Harus mengumpulkan bukti yang susah didapatkan karena mereka pintar menghapus jejak.
Tidak menutup kemungkinan saat akan mengungkapkan kejahatan Omar nanti akan memerlukan peperangan.
Suara getaran ponsel membuat Naskala tersadar dan segera mengangkat telepon.
"Assalamualaikum ada apa?"
"Wa'alaikumussalam. Cepatlah kemari. Sesuatu terjadi, kebakaran di kawasan barat. Di sana semua bukti kejahatan Omar. Sepertinya ada orang dalam yang berkerja di sana. Selain itu semua yang berjaga di sana telah meninggal dan didapatkan ada bekas tembakan di tubuh mereka."
Naskala terkejut dan langsung bergegas untuk pergi. Sebelum ia pergi dirinya menatap ke arah kamar mandi.
"Cempaka! Mas pergi sebentar. Sesuatu terjadi di kantor!"
Cempaka yang baru saja selesai berpakaian langsung keluar dari kamar mandi dan menatap suaminya terkejut.
"Mas apakah ini akan lama?"
"Mas tidak tahu. Kamu harus hati-hati. Kebakaran kali ini cukup parah, selain itu ada penembakan misterius. Maka hati-hatilah."
Naskala tak bisa banyak berbasa-basi. Ia hanya mengangguk beberapa saat dan kemudian mengecup kepala Cempaka cukup lama.
"Mas hati-hati. Janji tidak akan pulang dalam keadaan seperti ini lagi?"
__ADS_1
Naskala tersenyum sangat lebar. "Mas janji."
Campaka meraih tangan Naskala dan mengecupnya.
"Assalamualaikum Mas."
"Wa'alaikumussalam."
Naskala pergi meninggalkan Cempaka yang menahan tangis. Ia sangat khawatir jika akan terjadi sesuatu.
Cempaka menutup pintu dan menghela napas sejenak. Tak terasa air matanya terjatuh dari netranya.
Tok
Tok
Tok
Cempaka menghapus air matanya. Mungkin ada sesuatu yang Naskala tinggalkan hingga dia kembali lagi ke rumah.
"Mas apalagi yang tertinggal sih?" tanya Cempaka dan membuka pintu. Tapi ia terbungkam, "O..Omar?"
"Cempaka!"
Cempaka ketakutan dan langsung menutup pintu. Akan tetapi tangan Omar menahannya.
"Kenapa kamu ada di sini?"
"Ingin menjemput mu."
"Ingin menjemput ku?" ulang Cempaka.
"Menjemput calon istri ku."
Cempaka terkejut bukan main. Apa maksud dari semua itu. Ia tak tahu menahu dan tiba-tiba ada orang yang mengajaknya menikah.
"Apa maksud mu? Aku tak pernah mengenal mu. Dan kita hanya bertemu sekali. Aku tidak terima."
"Kamu tidak memiliki hak untuk menolak."
___________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.