Bocil Imutnya Om Tentara

Bocil Imutnya Om Tentara
Part 14


__ADS_3

Berkah yang sangat luar biasa akhirnya Cempaka bisa melihat Naskala ada di pagi hari. Sangat jarang melihat pria itu bisa masih ada di rumah dengan waktu yang sepagi ini. Cempaka menarik napas panjang dan memberanikan diri untuk menyapa kakaknya tersebut.


Sebelum menghampiri Naskala Cempaka lebih dulu melakukan latihan mental dan menarik napas sebanyak mungkin. Setelah itu barulah dia berjalan perlahan menghampiri Naskala.


Naskala yang sedang sibuk menyiram tanaman karena disuruh oleh Adhila lantas menoleh ke samping ketika ia merasakan ada seseorang yang tengah menghampirinya.


"Ada apa?" tanya Naskala kepada wanita itu.


Ia menarik napas sejenak sebelum meletakkan tempat menyiram bunga. Setelah itu ia memperhatikan wanita itu dengan seksama.


Cempaka tampak cengengesan seperti orang tolol ketika berhadapan dengan Naskala. Naskala juga menyadari hal itu, ia juga ingin tertawaan melihat ekspresi bingung Cempaka. Namun sekuat mungkin ia menahannya agar Cempaka tidak tersinggung.


"Anu.."


"Eumm??"


"Om gak ikut Bunda jemput Ayah?"


Cempaka berpikir beberapa detik. Ia baru ingat jika Toha hari ini sampai di Bandung.


"Tunggu di rumah aja kita kasih surprise ke mereka."


"Serius nih Kak? Yaudah kita siapkan untuk menyambut kedatangan Ayah. YEY! Masak-masak dan gambar-gambar!"


Nasklaa berpikir mungkin ini adalah sebuah ide bagus. Ia tersenyum berlian dan mengangguk menyetujui untuk melakukan sekarang.


"Yaudah kita belanja dulu."


"Sempat keburu bunda dan ayah datang. Kita buat apa yang ada di rumah aja," ucap Naskala kepada adiknya tersebut.


"Tapi gimana caranya? Kita minta bantuan bibi buat masak? Kan aku gak bisa masak."


Naskala menatap adiknya itu dengan napas panjang. Cempaka melupakan jika dirinya sangat ahli memasak meskipun ia adalah seorang pria.


"Kamu pikir saya seperti kamu yang tidak bisa masak?"


Cempaka pun kesal seakan Naskala tengah menyombongkan keahliannya. Ia tahu jika pria itu hebat di segala bidang tidak seperti dirinya yang hanyalah anak pemalas yang kebetulan hebat di bidang seni. Untungnya Cempaka bisa menggambar, setidaknya dia masih punya bakat, kan?


"Yaudah kalau gitu kita ke dapur aja." Meskipun Cempaka kesal namun tetap ada terbersit senyum kebahagiaan di wajahnya. Setidaknya moment ini membuat Naskala tidak terlalu dingin lagi kepadanya.


Naskala juga tak menyadari hal itu. Ia memang berusaha untuk menjauh dari Cempaka namun masih ada sisa kedekatannya yang tak bisa dipisahkan di antara mereka.


Mereka pun lantas menuju ke dapur dan mulai menyulap ruangan itu dengan beberapa bahan makanan lalu memasak alakadarnya. Cempaka juga menggambar beberapa spanduk dan juga menghias ruang tamu. Sementara tugas Naskala di bagian dapur.


Mereka berbagi tugas dengan adil. Tentunya hal itu tak berjalan dengan mulus karena kejahilan Cempaka yang suka menggangu Naskala. Untungnya Naskala masih berbaik hati untuk memaafkan Cempaka.

__ADS_1


Sementara sang pembantu yang juga membantu menyiapkan suprise tersebut sangat bahagia melihat majikannya yang sangat kompak.


"Jika Nyonya tau kalian melakukan ini untuk mereka pasti dia sangat bahagia."


Cempaka tersenyum lebar membayangkan ekspresi Toha dan juga Adhila nantinya. Pasti mereka akan senang dan memuji Cempaka tentunya sebagai putri tercinta mereka.


"Om liat dekorasi yang dibuat Cempaka bagus, kan?"


Nasskala tampak mengamati dengan wajah tanpa berekspresi. Cempaka meringis membayangkan kata-kata menyakitkan yang akan keluar dari mulut Naskala sebagai bentuk dari dekorasi abal-abal miliknya.


"Lumayan!"


"Lumayan?"


"Hm!"


"Susah banget sih buat bilang bagus." Cempaka mencibir.


Mulai kembali sikap dingin pria itu kambuh. Cempaka berharap Naskala tak lagi bersikap seperti itu setelah kerjasama mereka.


"Bagaimana mungkin jika saya memuji buatan mu jika berantakan seperti itu." Cempaka menatap ke arah pandangan yang dituju oleh Naskala. Ia pun terkaget jika belum membereskan bekas sampah-sampahnya.


Antara menahan malu Cempaka lantas langsung membersihkan tempat itu secepat mungkin sebelum tambah dikomentari oleh Naskala.


Naskala menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang adik. Ia terus memperhatikan Cempaka yang membersihkan semua sampah itu dan hendak mengangkut sampah yang lumayan banyak.


Cempaka melongo melihat apa yang sudah dilakukan Naskala kepadanya. Lagi-lagi senyum bahagia itu terbit di wjahanya. Naskala sangat romantis bukan? Meskipun wajah dinginnya selalu tak bisa lepas ketika tengah berhadapan dengannya.


"Bi! Sebenarnya Om itu peduli kan kepada Cempaka? Meskipun dia dingin sama Cempaka tapi dia selalu perhatian kepada Cempaka.


"Betul Nona."


"Nah itu pula yang buat dada Cempaka tuh gak berhenti detak. Apalagi Om pake baju muslim dan sedang sholat atau pun lagi beribadah, ditambah selalu bantuin Cempaka saat susah. Beuhh Cempaka makin tambah cinta sama Om." Cempaka tak menyadari jika Cempaka terlalu jauh bercerita hingga membuat terkejut asistennya.


Sang asisten langsung menyenggol tangan Cempaka menyadarkan wanita itu.


"Non! Apa barusan yang kamu bilang?"


Cempaka awalnya tak mengerti namun ketika ia ingat jika barusan dia menceritakan perasannya tanpa disengaja membuat wanita itu langsung terkejut dan mengatup mulutnya.


"Bik, jangan bilang siapa-siapa. Cempaka mohon!"


"Non kalau Aden tau dia makin lagi ngejauhin Nona!"


"Cempaka tau dan Om juga sudah tau. Jujur Cempaka takut kalau om akan marah besar kepada Cempaka."

__ADS_1


"Astaga Non!"


"Astaghfirullah yang benar Bik!"


Tak lama Naskala datang dengan bergegas dan wajah panik. Pria itu menghampiri mereka dengan langkah yang sangat cepat.


"Cempaka! Ikut saya ke rumah sakit."


"Lah kenapa? Kan Bunda sama Ayah bentar lagi datang."


Naskala menatap Cempaka dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bunda sama ayah kecelakaan!"


"HAH? ASTAGHFIRULLAH YA ALLAH."


__________


Naskala dan Cempaka berlari sangat kencang menuju ke ruangan gawat darurat. Jantung Naskala tak bisa berhenti berdetak dengan kencang. Ketakutan jelas tersampir di wajah kedua anak itu.


Mereka langsung masuk ke dalam ruangan gawat darurat tersebut. Sementara sang dokter awalnya tak mengizinkan namun atas permintaan dari kedua pasangan Adhila dan Toha yang meminta agar anak mereka masuk menemani detik-detik terakhir mereka.


"Bunda! Ayah!" ucap Cempaka yang sangat syok melihat wajah kedua orangtua angkatnya yang benar-benar tak berbentuk dan juga menggenaskan. Namun masih beruntung masih sadar. Seharusnya dengan kondisi seperti itu mereka sudah mati di tempat.


Naskala meminta agar Cempaka dirawat. Dia pasti sedang syok melihat kondisi Adhila dan Toha. Walaupun Naskala juga sama akan tetap ngeri karena dia seorang tentara telah terlatih untuk melihat kondisi seperti itu. Di lain sisi Naskala sebenarnya sangat tak sanggup sebab yang saat ini terbaring lemah adalah ibu dan ayahnya.


"Nak!"


"Bunda!"


"Jaga Cempaka untuk kami."


Naskala mengangguk mantap. "Kakak pasti jaga Cempaka untuk Ayah dan Bunda tentunya untuk Kakak juga."


"Semuanya sudah disiapkan. Surat-surat juga sudah jadi hanya dibutuhkan tanda tangan mu dan tanda tangan Cempaka. Ayah dan Bunda sudah mengurusnya sangat lama. Karena Ayah dan Bunda tau bahwa ajal kami dekat. Kecelakaan ini bukan murni sebuah kecelakaan. Masih dengan orang yang sama yang hendak membunuh Ayah beberapa tahun lalu. Untungnya ada Malik yang menyelamatkan Ayah. Dan kali ini dia berhasil untuk membunuh ayah. Ayah meminta kau menyelidikinya. Kita juga sudah mendiskusikan itu beberapa tahun ini dan juga masalah pernikahan mu. Apakah kamu sudah mendapatkan jawabannya? Kamu kemarin masih berpikir-pikir dan meminta waktu untuk menjawabnya. Hari ini ayah meminta jawaban mu, apalagi Cempaka bukan mahram mu kamu tidak bisa menjaganya dan hidup berdua di rumah. Ayah harap jawabannya iya karena semuanya sudah 90% ayah urus."


Naskala menarik napas panjang. "Ya. Naskala akan bersumpah di depan Ayah dan Bunda untuk menjaga Cempaka seumur hidup Naskala sesuai dengan sumpah Naskala dulu akan menjadi ajudan Cempaka sampai kapanpun itu. Naskala akan menikahi Cempaka."


Adhila dan Toha tersenyum di sisa nyawa mereka. Mereka adalah contoh cinta sejati yang bertahan bersama-sama dan menutup mata bersama-sama.


Naskala yang melihat ayah dan ibunya tak bernyawa lagi menangis tanpa suara.


_________


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2