
Nanda yang kian mengerti situasi pun mulai beradaptasi dan berusaha untuk berpikir positif walau otaknya selalu mendobrak dan kepo dengan masalah orang.
Ia tak bisa menampik ketika otaknya berkerja keras untuk menampilkan hal yang positif namun ada saja kejadian janggal yang menghasut pikirannya. Senyum di wajahnya terukir untuk mencairkan suasana yang ia rasa semakin tegang. Naskala pun sebagai orang yang paling dewasa di antara mereka mencoba untuk memperbaiki situasi.
"Baiklah langsung saja saya ke inti." Naskala pun duduk di sofa.
Melihat Cempaka yang hendak pergi karena ia merasa apa yang mereka bicarakan adalah sebuah ranah privasi sontak saja membuat Naskala lekas mencegah kepergian Cempaka.
"Kamu tetap di sini!" ujarnya kepada Cempaka yang membuat Cempaka terkejut sekaligus tak menyangka saat mendengar ucapan Naskala.
"Hah Cempaka? Buat apa?" tanya Cempaka dan melirik sahabatnya yang menggidikan bahu juga tak tau.
Seolah menjadi orang yang penurut, Cempaka pun duduk di samping Naskala dengan wajah yang tampak bingung tapi ia berusaha untuk tak bertanya kepada suaminya.
"Om langsung aja," ucap Nanda membuka pembicaraan mereka kali ini.
Untuk panggilan om, Nanda sudah terbiasa akan hal itu karena ia sering mendengar Cempaka yang menyebut Naskala seperti itu dan sebagai temannya ia pun ikut-ikutan memanggil hal yang sama kepada Naskala walaupun sebenarnya Naskala sangat jengkel dengan panggilan tersebut karena menurutnya ia tak setua itu.
"Kamu kenal dengan Reyhan?" tanya Naskala yang mulai menanyakan hal-hal yang dasar.
Cempaka yang tak begitu mengerti mengerutkan keningnya. Ada gerangan apa Naskala bertanya seperti itu yang membuat dirinya merasa pembicaraan kali ini cukup berhubungan erat dengan maslaah kriminal karena tak biasanya seorang abdi negara bertanya mengenai seseorang jika bukan untuk mengintrogasi.
Sebelum menjawab Nanda melirik Cempaka. Dari sekali tatap ia juga tahu jika Cempaka tak akan mengerti dengan apa yang akan mereka bicarakan.
"Lumayan kenal. Ada apa yah Om?" tanyanya seolah belum mengetahui niat Naskala.
Naskala menarik napas panjang dan mulai menyusun kata untuk bertanya kepada wanita yang masih di bawah umur. Memang tak sepantasnya mengintrogasi seseorang dengan cara yang tidak cukup profesional.
"Apa yang kamu ketahui tentang keluarganya?"
"Ada apa yah Om mempertanyakan tentang keluarga orang lain?" tanya Nanda sembari tertawaan pelan.
Cempaka pun mengerutkan keningnya. Bagaimana mungkin Naskala bertanya tentang keluarga Reyhan, apa yang perlu diketahui Naskala hingga bertanya sejauh itu. Cempaka belum terlalu paham.
"Om buat apa sih nannya tentang masalah seperti itu?" tanya Cempaka.
__ADS_1
Naskala hanya melirik istrinya tersebut sepintas. Ia pun menatap Nanda kembali dan mengode wanita yang ia anggap lebih dewasa pemikirannya tersebut. Ia rasa Nanda akan paham dengan maksud dirinya.
Nanda pun menghela napas panjang. Dengan sekaki lihat ia pun mulai mengerti dan benar saja tebakkan dirinya.
"Seperti yang diceritakan oleh Cempaka jika keluarga mereka adalah keluarga yang tidak utuh dan penuh dengan kekerasan. Meksipun itu kepada orang terdekatnya sendiri. Tak terkecuali itu adalah anak mereka, Reyhan. Apalagi yang menjebak Reyhan adalah sepupunya yang aku rasa keluarga mereka juga tahu kalau anak mereka difitnah dan dijebak. Tapi yah begitu karena mereka lebih butuh nama baik mereka tidak perduli dengan keluarga mereka sendiri. Terlebih lagi Reyhan adalah anak yang tidak mereka harapkan, Om tahu sendirilah anak seperti apa Reyhan."
"Jika itu saya sudah tahu. Yang ingin saya tanyakan lagi apakah ada sesuatu yang lebih janggal dari keluarga mereka."
"Maksud Om?"
Naskala memejamkan mata. Bagaimana caranya ia menjelaskan kepada Nanda, berbisik pun salah karena mereka tak se-mahram. Sementara itu jika ia menjauhkan Cempaka dari sini tentu saja ia juga tak ingin melakukan itu karena takut berduaannya bersama Nanda akan menjadi fitnah.
"Ada beberapakali kejanggalan yang saya temui dari keluarganya. Mulai dari bisnis keluarga mereka. Apakah kamu tahu hal itu?"
Nanda memejamkan mata. Ia sudah tahu mengenai hal ini. Bisnis gelap yang sudah menjadi rahasia umum. Nanda ingin menjelaskannya tapi ia juga tak ingin hal itu ia ceritakan kepada Naskala karena ini juga menyangkut dengan keluarganya.
"Maaf Om aku belum bisa mengatakannya."
"Ini penting karena banyak menyangkut tentang kehormatan negara juga nyawa orang."
Cempaka terkejut mendengar hal itu sementara Nanda tidak lagi. Ia dilanda delima ingin menceritakan hal yang sebenarnya atau tidak.
"Kamu mau dicap buruk nantinya?"
Nanda yang sedang kebingungan langsung menatap Naskala cukup syok.
"Tidak," ujarnya sembari menggelengkan kepala.
"Ceritakan yang sebenarnya."
_________
Jujur Cempaka masih kepikiran tentang pembicaraan mereka tadi pada akhirnya Naskala meminta ia pergi.
Ia tak tahu pembicaraan setelah itu. Ingin mengintip tapi Naskala sudah dapat menebak pikirannya hingga sebelum ia melakukan itu pria tersebut sudah mengetahuinya.
__ADS_1
Cempaka hanya bisa menggigit jari di ruangan lain sembari berpikir kritis yang ia rasa otaknya saja tak akan mampu memikirkan hal itu.
"Om!" teriak Cempaka tatkala melihat suaminya itu yang hendak melintas.
Cepat Cempaka mencegah Naskala dan mencekal lengan pria itu. Naskala pun mengangkat satu alisnya bingung. Cempaka menarik napas sejenak dan menatap Nanda yang ada di belakang Naskala.
Tak menghiraukan Naskala, Cempaka pun lebih tertarik untuk bertanya kepada temannya tersebut.
"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa mata kamu sembab? Apa yang udah dilakukan Om sama kamu? Bilang aja! Nanti aku yang bakal pukul dan marahin dia." Perasaan Cempaka mulai tidak enak.
Ia menatap garang suaminya tersebut. Pikiran buruk juga sudah terbayang-bayang di benaknya. Tentunya tatapan marah tak akan pernah lepas dari wanita itu hingga ia beralih ke suaminya dan menggoyangkan tubuh Naskala dengan kuat sembari menangis.
"Apa yang sudah Om lakukan ke teman aku? Om jahat!" ujar Cempaka yang tak ingin mencari kebenarannya dan menyimpulkan dengan mudahnya.
Wanita itu memukuli tubuh Naskala hingga Naskala pun menangkap tangan Cempaka. Ia mengusap air mata wanita itu dan memeluknya.
"Hey jangan beranggapan buruk dulu. Apa yang kamu lihat dan pikiran belum tentu sesuai dengan kejadian nyatanya."
"Terus kenapa teman aku nangis kaya gitu? Apa yang sudah Om lakukan?"
Nanda pun menghampiri Cempaka dan menyentuh pundak perempuan tersebut. Naskala melepaskan pelukannya pada Cempaka.
Cempaka berganti lagi memeluk sahabatnya. Segala daya upaya dan tangisnya pun ia tumpahkan kepada wanita itu.
"Cerita aja apa yang sudah dilakukan Om ke kamu! Jangan diam aja hiks."
"Aku gak papa kok. Benar kata om semuanya gak seperti apa yang kamu pikirkan. Aku nangis karena ada sesuatu dan bukan karena Om."
"Tapi kamu serius gak papa?" tanya Cempaka sangat lembut.
Ia menatap wajah Nanda yang mulai tampak tenang tak lagi ada air mata di wjahanya.
"Aku gak papa. Nanti jika sudah waktunya aku bakal ceritakan yang sesungguhnya."
________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.