
Cempaka menahan napasnya melihat sang suami di depannya. Tadi tatapannya begitu berani dan kini ada sebuah kesedihan yang hadir secara tiba-tiba di tengah mereka. Cempaka pun heran kenapa Naskala tiba-tiba merasakan kalut.
"Om kenapa malah jadi melamun?"
Naskala belum siap untuk mengatakan apa yang menjadi penyebab kekhawatirannya. Ia tak ingin Cempaka malah menjadikan itu sebuah beban.
"Kamu tau kalau aku adalah seorang tentara, jika suatu hari aku harus betugas ke lain kota atau beda negara apakah kamu tetap menyanggupinya?" tanya Naskala dengan sorot mata yang begitu sedih.
Cempaka pun teringat kembali bagaimana dulu ibunya sering ditinggalkan oleh ayahnya hingga mereka saja yang tinggal di rumah berdua tanpa ada sosok pria yang melindungi mereka karena ayahnya melakukan tugas mulia untuk melindungi banyak orang. Dulu juga saat ibunya sakit ayahnya tak berada di sisi mereka hingga pada akhirnya ibunya pun menutup mata untuk selama-lamanya. Cempaka belum siap untuk untuk ditinggalkan.
Rasa takut dan trauma masih menghantui dirinya. Ada juga sisa rasa tak percaya jika mereka semua yang pernah singgah di hidupnya pergi satu persatu. Kini hanya tertinggal Naskala dan Cempaka takut jika pria itu akan ikut meninggalkan dirinya. Cempaka tak sanggup untuk hidup di dunia tanpa ada tujuan yang jelas dari hidupnya.
"Cempaka gak mau! Cempaka mau sama Om!"
Naskala hanya bisa mendesah panjang. Sudah dirinya duga jika reaksi Cempaka akan seperti ini. Inilah alasannya Naskala tak ingin Cempaka bersamanya. Masa-masa seperti ini adalah masa yang sangat berat bagi mereka berdua.
"Tapi itu juga sudah tugas aku."
"Cempaka gak peduli."
"Kamu tidak boleh egois. Ketika aku dilantik aku sudah menjadi milik negara tak lagi milik kamu. Kamu hanya memiliki aku setengah dan seutuhnya aku adalah milik negara. Aku sudah setuju dengan pilihan ku."
Cempaka menarik napas panjang dan mengepalkan tangannya. Benar-benar menggenaskan hidupnya. Dirundung trauma, apalagi sang ayah mati saat sedang bertugas. Bagaimana mungkin ia bisa menerima fakta itu secepatnya?
"Om tau gak Cempaka takut."
"Aku tau."
"Tapi Cempaka juga gak bisa larang Om untuk bertugas menjaga negara."
"Bagaimana?"
"Tetap gak mau."
"Cempaka mau ikut."
"Jika ketahuan aku akan dimarah dan dihukum."
"Biar Cempaka aja," keras wanita itu yang tak mengerti hal yang sebenarnya.
Naskala menghela napas panjang. Cempaka benar-benar belum sepenuhnya dewasa. Dia memang masih membutuhkan pendamping.
"Kamu pikir ini segampang itu?"
"Terus Cempaka mau gimana?!!!" Cempaka benar-benar berteriak lalu menangis dan mendekap lengan kekar suaminya seakan melarang pria itu pergi.
__ADS_1
Naskala tersenyum di sela matanya yang berkaca-kaca. Ia berusaha untuk kuat terlebih lagi dirinya seorang tentara dan tentara itu harus kuat.
"Cempaka! Kamu jangan membuat langkah suami mu goyah."
Cempaka memeluk tangan Naskala dengan erat dan menangis terus menerus. Ia berusaha untuk melarang suaminya tapi ia tak akan pernah bisa menghentikan tugas Naskala.
"Om mau ninggalin aku sendirian di sini yah?"
"Bukan keinginan aku."
"Aku tau. Tapi Cempaka takut."
Naskala meyakinkan Cempaka dan mengusap kepala wanita itu penuh dengan kasih sayang. Ia berjanji akan menjaga Cempaka dari jauh.
"Doakan aku bisa melewati ini semua."
Satu hal yang Cempaka tidak tahu adalah Naskala berusaha untuk mengungkap kasus yang sudah menghantui hidup mereka agar dirinya bisa mengetahui apa maksud dari keberangkatannya ke perbatasan meskipun sudah jelas ia adalah seorang tentara dan itu menjadi sebuah tugasnya.
Namun, Naskala masih yakin jika dirinya telah diatur oleh seseorang. Naskala harus cepat menyelesaikan masalah itu. Terserah apakah setalah ini dirinya akan tetap diberangkatkan atau tidak.
"InsyaAllah aku tetap akan bertahan untuk kamu di sini dan betugas di sini saja."
Cempaka menatap mata Naskala dengan dalam.
Naskala mengangguk.
_________
Reyhan menghampiri Cempaka diam-diam di taman belakang sekolah. Cempaka sangat terkejut saat mendapatkan pesan dari Reyhan yang ingin bertemu dengannya.
Cempaka menatap pria yang ada di depannya ini benar-benar dengan prihatin. Ia tak menyangka jika Reyhan tak terurus.
"Kamu benar-benar pergi dari rumah?"
"Untuk apa aku bertahan di sana?"
"Kamu tidak takut?"
"Mereka juga tidak peduli."
"Kenapa kamu di sini?" tanya Cempaka seraya melirik Reyhan dari atas.
"Karena aku ingin menemui mu."
"Memangnya ada apa?" tanya Cempaka heran.
__ADS_1
"Kamu harus hati-hati. Aku baru tau jika keluarga aku sekejam itu."
Cempaka pun mulai tertarik dengan pembahasan mereka. Bukan bermaksud untuk kepo dengan masalah keluarga orang lain, akan tetap ia merasa jika ada sesuatu di dalam cerita yang hendak disampaikan oleh Reyhan dan itu tampaknya menyangkut tentang dirinya.
"Memangnya apa?"
"Ayah ku! Mereka adalah sekelompok orang jahat yang berusaha untuk melawan negara. Kamu tahu jika ayah ku memiliki bisnis ilegal? Dia berusaha untuk bekerjasama dengan pihak negara untuk menjalankan bisnisnya. Para pengkhianat negara juga menyetujuinya. Bagi mereka yang tahu dengan masalah itu maka mereka akan mati." Cempaka yang mendengarnya saja pun merinding. "Sedangkan Om Toha, Tante Adhila telah mengetahuinya hingga mereka pun harus meregang nyawa," ucap Reyhan yang membuat Cempaka tak percaya.
"Astaghfirullah! Kamu tidak boleh nuduh yang aneh-aneh."
"Kamu tidak percaya? Kamu bisa bertanya kepada Kaka mu jika tidak percaya. Aku rasa saat ini orang yang tahu adalah kakak mu dan mereka menargetkan Kak Naskala."
Cempaka terkejut dan menatap Reyhan dalam.
"Kamu jangan bohong."
"Buat apa saya bohong?"
Tungkai Cempaka pun lemah. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya dan berharap semua itu adalah kebohongan.
"Hiks, tidak mungkin. Mereka kok jahat?"
"Aku juga tidak ingin semua ini terjadi tapi bagaimana kita bisa mencegahnya?"
"Sudahlah."
Reyhan sudah tahu dari awal jika reaksi Cempaka akan seperti ini. Ia pun menarik napas panjang dan sudah menyiapkan solusi untuk ini.
"Aku akan membantu kalian. Aku juga tak ingin dicap anak pengkhianat negara padahal aku tak pernah merasa benar-benar menjadi anak mereka. Aku ingin membersihkan nama ku di depan negara."
Cempaka menatap Reyhan dengan pandangan berbinar.
"Kamu serius?"
"Iya aku serius. Bilang ke Kak Naskala aku ingin ketemu dia."
Cempaka mengangguk, "pasti."
Mereka pun berpisah saat bel berbunyi. Cepat Cempaka kembali ke sekolah sebelum dipanggil oleh guru.
_______
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.
__ADS_1