Bocil Imutnya Om Tentara

Bocil Imutnya Om Tentara
Part 44


__ADS_3

Tiba saatnya Naskala berpindah tugas di Jogja. Tentunya Cempaka juga tak akan tinggal di sini sendirian terlebih lagi ia tak ingin Naskala meninggal dirinya. Sudah barang tentu anak itu tak akan pernah ketinggalan.


Mereka pun memutuskan untuk tinggal di Jogja dengan rentang waktu yang belum bisa dipastikan. Namun Naskala sudah membeli rumah di daerah Depok. Sekalian untuk Cempaka kuliah di Universitas Gadjah Mada.


Cempaka dengan penuh semangat berkemas karena ia akan mendapatkan suasananya baru yang akan membuatnya nyaman. Tidak ada jauh bedanya dengan Bandung suasananya pun sangat asri dengan keindahan alam yang luar biasa tapi Cempaka merasa bosan di Bandung.


"Mas kita akan pergi ke Depok hari ini yah?"


Naskala menarik napas panjang. Ia pun menghampiri istrinya itu dan kemudian mengelus kepala Cempaka penuh dengan kasih sayang yang luar biasa.


"Tidak sayang, besok kita akan berangkat. Kamu pakai mobil diantara supir dan mas akan sama rombongan."


Senyum di wajah Cempaka tampak kecut. Ia ingin pergi bersama Cempaka tapi apa daya dia tak boleh egois.


"Iya udah deh," ucap Cempaka sembari menghela napas panjang dari hidungnya.


Tampak ada semburat kekecewaan di wajah Cempaka yang sangat kontras. Naskala juga tak bisa berbuat banyak karena sejatinya ia juga sama ingin satu mobil dengan Cempaka. Tapi, peraturan tetaplah peraturan dan mereka harus mematuhinya.


"Tidak apa-apa kan sayang?" Suara lembut yang bertanya itu tentu saja tak akan membuat Cempaka sanggup untuk marah lebih lanjut.


"Iya Mas."


Cempaka memeluk suaminya itu penuh pengertian. Tak ada yang bisa mengalahkan cintanya Cempaka kepada Naskala. Ia tahu di luar sana juga banyak yang mengincar Naskala, selain Naskala tampan tapi juga Naskala adalah seorang abdi negara.


"Om sebelum kita pindah jalan-jalan dulu yuk?"


Ajakan Cempaka tampaknya menjadi pilihan yang bagus. Naskala juga tampak menyetujui keinginan wamita tersebut.


Tanpa ada keraguan pria itu mengangguk yang membuat Cempaka sangat bahagia dan makin mengeratkan pelukannya kepada sang suami.


"Yey!!"

__ADS_1


Melihat Cempaka seperti ini saja sudah membuat Naskala sangat bahagia. Ternyata bahagia itu sederhana. Hanya ada satu kekhawatiran Cempaka saat ini.


Dari kemarin belum ada badai yang menerjang hubungan mereka, mungkin bisa jadi sebentar lagi. Ini yang ditakutkan oleh Naskala. Setiap hubungan pasti memiliki ujian dan ia tak tahu ujian seperti apa yang akan diterima oleh mereka nanti.


"Mas!!" Cempaka menggoyangkan tubuh pria itu tatkala ia terus memanggilnya tetapi Naskala tak kunjung menjawab sebab larut dalam lamunannya.


Cempaka menarik napas panjang an mengepalkan tangannya. Ternyata ini semua terasa berat dan ia hampir ingin mengeluh. Padahal badai itu belum datang tapi ketakutan sudah melanda Naskala.


"Kan ngelamun lagi."


"Eh iya apa sayang?"


"Om kenapa terus melamun?" tanya Cempaka sembari memasang wajah tak senang.


Naskala menarik napas panjang dan menggeleng pelan. Ia pun menampar pipinya dan tak lama ia mendesis karena tamparan itu.


"Kok Mas nampar wajah Mas?!" Cempaka tampak tak senang. Ia pun mengusap bekas tamparan suaminya di wajah pria itu. Ia pun mengecupnya untuk menghilangkan sensasi sakit di pipi pria tersebut.


Naskala pun tak bisa menyembunyikan kegemasannya kepada wanita ini.


"Kamu ini gimana sih? Aku kan seorang tentara dan mana mungkin merasa sakit hanya karena tamparan kecil ini. Dasar kamu yah kecil-kecil cabe rawit!" Naskala menarik hidung Cempaka. Jika sudah seperti ini siapa yang ingin menolong Cempaka dari rasa kesal yang bertubi-tubi ini.


"Mas mah! Dikhawatirkan malah dia yang nyerang Cempaka.


"Iya-iya maaf sayang."


__________


Mereka pun menikmati kota Bandung yang terasa sangat sejuk itu sebelum akhirnya tak bisa lagi menikmati keindahannya.


"Ish sore ini Vibes Bandung kerasa banget yah Mas."

__ADS_1


Entah kenapa terselip kesedihan serta rasa rindu kepada kota ini. Padahal mereka belum pindah tapi sangat sukar untuk meninggalkan tempat ini yang menjadi tempat mereka besar dan tumbuh. Penuh dikelilingi dengan keindahan Bandung.


"Rumah utama kita tetap di sini kan Mas?" tanya Cempaka memastikan.


"Iya dong. Rumah utama kita tetap di sini. Kita akan tunggu sampai Mas selesai tugas dan kamu selesai kuliah."


Cempaka mengangguk dan memeluk tubuh suaminya tersebut. Naskala berhenti membawa motornya ketika lampu merah pun menghadang. Cempaka hanya bisa menikmati jalanan sembari meletakkan dagu di atas pundak Naskala dan tangan yang melingkar di perut pria itu.


Banyak kendaraan lain yang juga ikut menunggu lampu merah. Cempaka melihat begitu banyak pasangan yang sedang bermesraan dan juga ada para perempuan yang bercengkrama dengan teman-teman mereka.


Kondisi itu membuatnya rindu kepada teman-temannya. Biasanya ia akan berjalan-jalan bersama teman-temannya jika hari libur seperti ini.


"Cempaka rindu sama Nanda."


"Mas tau kamu rindu. Tapi jangan sampai sedih kaya gini, Mas tidak mau. Kamu ini tidak tahu jika Nanda menginginkan impian itu jadi kamu jangan halangi dia."


Cempaka mendelik sembari memutar bola matanya jengah. Aoa yang dibicarakan oleh Naskala? Ia merasa tak melarang Nanda.


"Apaan sih Om. Orang cuman bilang rindu dan gak ada nyuruh buat Nanda jangan kuliah di Tokyo."


Ternyata Cempaka tidak mengerti atau dirinya yang salah paham. Selama ini Cempaka selalu saja membicarakan wanita itu dan bertelepon setiap malam sembari mengatakan rindu kepada wanita itu yang membuat Nanda juga ikut menangis haru.


Ia kerap menyuruh Nanda pulang, tapi alih-alih menyetujuinya tapi ia malah tak ingin kembali ke Bandung. Entah apa yang dipikirkan oleh Nanda hingga tak ingin lagi kemari.


"Kenapa sih Om, Nanda itu tidak mau ke Bandung."


"Mungkin ada sesuatu yang kita tidak tahu apa masalah dia." Padahal Naskala tahu apa masalah yang sedang dihadapi oleh Nanda. Tapi ia gak ingin memberitahukan Cempaka.


"Kenapa Nanda tidak mau cerita ke Cempaka ya!"


"Tuh kan mulai mikir buruk. Positif thinking aja." Naskala pun menjalankan motor tersebut saat lampu menunjukkan warna hijau.

__ADS_1


__ADS_2