Bocil Imutnya Om Tentara

Bocil Imutnya Om Tentara
Part 46


__ADS_3

Di rumah yang sebesar ini Cempaka hanya duduk melamun di tepi jendela dengan pikiran yang melayang entah ke mana. Wanita itu pun tak sadar dan hampir saja tertidur akibat lamunannya yang terlalu larut hingga menjadi sebuah mimpi.


Untungnya suara gesekan pintu membuat wanita itu langsung tersadar. Cepat ia menatap ke arah sumber suara dan melihat jika bahwasanya sang suami telah pulang. Senyum Cempaka merekah dan wanita itu lantas cepat berlari ke arah Naskala.


Naskala tentunya dengan penuh haru menyambut pelukan sang istri. Bak seorang yang sudah ditinggal sangat lama, pelukan Cempaka benar-benar sangat erat hingga membuat sang empu mati tersiksa.


Naskala berusaha untuk menahan itu. Ia pun mengusap kepala Cempaka dan mengecupnya. Seperti kebiasaannya setiap bertemu dengan wanita itu. Selain itu, Cempaka pun meraih tangan Naskala dan memberikan sebuah kecupan di punggung tangan milik pria tersebut.


"Assalamualaikum Mas."


"MasyaAllah, nikmat Allah memang sangat luar biasa. Mas pulang trus disambut dengan senyum istri kaya gini. Rasanya tuh perasaan mas tak bisa dideskripsikan." Entah kapan Naskala menjadi lebay.


Ia tak sadar jika di depannya ini adalah orang yang ia cintai dan sekaligus orang yang telah menjadi musuh bebuyutannya selama ini.


Cempaka hanya tersenyum tipis. Tapi Naskala cukup manis juga berbeda dengan dia yang dulu sok cool dan menghindar dari Cempaka.


"Mas tampan."


Naskala merasa melayang jika dipuji tampak oleh istrinya sendiri. Entah seperti apa wajahnya saat ini apakah sangat merah seperti tomat? Entahlah Naskala hanya bisa menutupinya sebisa mungkin agar tak mempermalukan diri sendiri di depan Cempaka. Melihat wajah Cempaka serta mendengar pujiannya membuat perut Naskala berdesir hebat.


"MasyaAllah. Suaminya siapa dulu?" tanya Naskala seolah tengah menyombongkan dirinya sendiri. Padahal laki-laki tersebut masih malu bekas pujian yang dilontarkan sang istri.


"Cempaka dong!"


Cempaka penuh semangat menjawab pertanyaan dari Naskala tersebut. Mereka berdua memang pasangan yang sangat unik dan sukar untuk terpisah. Siapapun tak akan bisa merebut mereka berdua kecuali Tuhan yang berkehendak.


Naskala menarik napas panjang dan menatap ke arah ranjang mereka. Ia menatap Cempaka dengan pandangan sukar untuk diartikan.


Cempaka terdiam. Ia mengikuti arah pandang suaminya. Cempaka yang tahu jika Naskala tengah menatap ranjang mereka dengan pandangan kosong membuatnya langsung ikut teridam dengan pandangan yang sama. Sejujurnya ia sendiri juga sangat sedih belum bisa menjadi istri seutuhnya.


Cempaka berusaha untuk menutupi itu. Ia belum siap dan bertahap jika dirinya bisa memberikannya walau tak sekarang.


"Mas! Cempaka belum siap." Tanpa dijelaskan oleh suaminya Cempaka juga tahu apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu.


Naskala mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Cempaka. Ia pun mengangguk salut beberapa kali lalu berkacak pinggang serta matanya yang terus menatap Cempaka penuh jenaka.


"Lagian siapa juga yang mau tidur sama kamu. Jangan ke mana-mana deh pikirannya. Ini perlu dibersihkan lagi otaknya Neng."

__ADS_1


Cempaka terdiam saat Naskala menoyor kepalanya. Dengan begitu mudahnya Naskala mempermainkan dirinya. Dasar lelaki. Lihat saja Cempaka pasti akan membalas ketidak adilan ini. Ia merasa sangat malu dan Cempaka tak akan tinggal diam. Ia akan membalas suaminya.


"MAS AWAS AJA YAH!!" teriak Cempaka kepada laki-laki tersebut yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. Ia hanya mendengarkan kegeraman sang istri sambil diam-diam dia tertawa.


Naskala di dalam sana terbahak-bahak. Berbeda dengan Cempaka yang mengepalkan tangannya penuh amarah. Cempaka beristighfar dan kemudian memejamkan matanya serta berusaha untuk menutup indera pendengarannya agar tak tergoda dengan setan yang berusaha agar dia melawan sang suami.


"Kalau mau beneran juga gak papa sayang! Mas siap kok."


"Mas!!!"


"Kenapa sayang?"


Cempaka menutup wajahnya. Padahal hanya ia sendiri di dalam ruangan ini tapi entah kenapa ada setan-setan kecil yang menggodanya hingga membuat dirinya salting tak karuan seperti sekarang. Merasa kesal dengan setan-setan yang selalu mendampinginya itu, lantas wanita tersebut mengibaskan tangannya di udara ke sembarang arah dengan maksud untuk mengusir para setan yang membandel tak ada akhlak.


Cempaka pun menghela napas dan mengusap wjahanya gusar.


___________


Cempaka memandang menu hidangan yang memiliki harga yang mahalnya selangit. Selain itu hidangan tersebut juga tampaknya sangat nikmat hingga membuatnya ingin memesan semuanya tapi dia sadar Naskala pasti tak akan sanggup membayarnya.


Cempaka menatap Hidangan di atas meja yang akan menjadi makan malam mereka tersebut. Semua hidangan itu penuh dengan makanan kesukaan Cempaka.


"Kenapa makanan kesukaan Cempaka semua Mas? Apa Mas gak mau?"


Naskala tersenyum simpul. Cempaka tak tahu saja jika apapun yang ia sukai maka Naskala juga akan menyukainya. Bukan rahasia umum lagi jika Naskala sekali bucin maka tingkatnya tidak akan ketolongan.


Pria itu menjelma menjadi pria bodoh yang rela melakukan apapun demi orang yang dicintainya. Sudah banyak hal ia lakukan dan Cempaka saja yang tidak tahu seberapa besar perjuangan Naskala demi cintanya.


"Mas juga suka sama makanannya."


Cempaka tak ambil pusing. Ia lantas memasukkan semua lauk pauk yang ia sukai dan mencicipi semua hidangan itu. Naskala yang memperhatikan hanya bisa menyunggingkan senyum manis.


Melihat Cempaka senang sudah membuat perasaan Naskala lega.


"Dalam rangka apa Mas buat kaya gini?" tanya Cempaka heran.


Naskala pun terdiam beberapa saat, "dalam rangka penyambutan rumah baru kita. Kita akan mengadakan selamatan berdua."

__ADS_1


Naskala mengucapakan itu sambil mengambil sendok yang hendak masuk ke dalam mulut Cempaka. Ia meletakkan kembali sendok tersebut ke print wanita itu.


"Mas?"


"Doa dulu sayang. Jangan asal makan."


Panggilan penuh perhatian yang diberikan oleh Naskala benar-benar membuat jantung Cempaka berdesir. Ia pun menjadi wanita patuh dan memasang tangannya untuk berdoa.


Ia mendengarkan segala doa yang dilantunkan oleh suaminya dan ia hanya menyahut amin-amin.


"Aamiin!!"


Cempaka mengucapakan tangannya ke wajah dan menarik napas panjang. Ia menatap ke arah suami atau itu seolah-olah tengah bertanya apakah setelah ini boleh makan.


"Sabar sayang kalau mau makan." Naskala menggelengkan kepalanya melihat Cempaka yang tidak sabaran ingin menyantap semua hidangan itu.


Cempaka tampak sangat kecewa. Hal itu disadari oleh Naskala. Naskala diam-diam tersenyum dan mengambil sendok yang tadi belum sempat masuk ke dalam mulut istrinya.


Ia pun menyuapi Cempaka dan Cempala dengan cepat menyerobot suapan Naskala. Ia pun menarik napas panjang dan mengunyah makanan itu hingga pipinya menggembung.


Cempaka benar-benar sangat imut apalagi tatapannya yang sangat polos saat mengunyah.


"Hati-hati kesedak." Naskala menjelma menjadi pria yang sangat romantis. Ia pun menghapus sisa makanan yang menyangkut di bibir Cempaka.


"Hati-hati belepotan. Kamu ini gimana sih."


"Mas apoan soeh."


Cempaka berucap sambil mengunyah dan membuat Cempaka ingin tertawa mendengarnya.


"Kalau makan itu ya makan jangan bicara." Cempaka mengercutkan bibirnya. Jelas-jelas dari tadi Naskala mengajaknya berbicara dan bagaimana mungkin ia hanya diam saja.


________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.

__ADS_1


__ADS_2