
Pertemuan itu pun mengalir begitu saja tanpa ada yang mengatur. Cempaka memperhatikan dua orang pria yang memiliki perasaan yang sama kepadanya. Hanya saja Cempaka tak peduli dengan perasaan itu karena yang lebih penting adalah kedekatan mereka dengan dirinya.
"Ada apa ingin menemui saya?" tanya Naskala dengan suara yang datar khas seperti seorang abdi negara yang tengah mengintrogasi seseorang. Terlebih lagi di depan dirinya tersebut adalah orang yang dengan terang-terangan menampakkan jika ia menyukai istrinya.
Cempaka menahan napasnya melihat hal itu. Entah kenapa dirinyalah yang merasakan ngeri luar biasa dan malah bukannya Reyhan. Sementara itu sang empu tampak biasa-biasa saja.
"Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan Om."
"Mengenai?"
"Katanya dia ingin membahas orangtuanya dan ini berhubungan dengan kematian Bunda dan ayah," ucap Cempaka yang menjelaskan maksud kedatangan dari Reyhan. Ia takut jika Reyhan yang mengatakannya pria itu akan marah besar.
Tapi sepertinya kuat dugaan Cempaka dan apa yang dikatakan oleh Reyhan bahwa Naskala mengetahui hal itu. Tiba-tiba terlintas rasa sakit yang tidak tahu kenapa. Mungkin karena di sini hanya dirinya yang baru saja tahu dan dianggap orang bodoh.
Ia juga yakin kedatangan Nanda dan berbicara kepada Naskala sebenarnya ada sesuatu di antara mereka dan mereka memiliki rahasia. Cempaka tak bisa menampik akan hal itu. Napasnya bergulir berat.
Benar kata Naskala jika dirinya belum bisa dewasa dan buktinya ia pun tak bisa diajak ketika orang-orang yang seusianya tengah membahas mengenai kasus besar dan Cempaka malah takut untuk membahasnya.
Sedangkan Naskala sangat terkejut karena sang adik mengetahui rahasia yang sudah lama ia sembunyikan itu. Naskala melirik Reyhan sengit. Susah payah ia menyembunyikannya dan pria itu dengan gampangnya memberitahu Cempaka.
Ia tak berpikir bagaimana nantinya ketakutan Cempaka. Reyhan yang baru saja sadar dengan tindakannya pun hanya bisa terdiam. Ia baru ingat bahwa Cempaka anak yang manja serta penakut.
Ia kira akan menjadi masalah biasa jika Cempaka juga mengetahuinya dan bekerja sama.
"Maaf Cempaka bukan maksud ku untuk memberitahu mu dan membuat kamu takut," sesal Reyhan yang begitu tampak di wajahnya.
Naskala menarik napas panjang dan menatap Cempaka yang hanya diam dengan ekspresi yang hendak menangis.
"Bukan maksud aku seperti itu tidak memberitahu mu. Tapi ada sesuatu yang membuatku memutuskan untuk tak memberitahu."
"Niat Om memang baik dan Cempaka harusnya tidak tahu. Ketika Cempaka tahu Cempaka selalu saja dihantui oleh keadaan itu," ucap Cempaka sembari memeluk tubuhnya ketakutan. Wanita itu tertawa pelan lalu kembali lagi ketakutan hal itu terus terjadi berulang-ulang hingga membuat Naskala merasa sangat khawatir dengan keadaan Cempaka.
"Hey jangan takut!" ujar Naskala dan mengusap kening Cempaka.
Cempaka menatap Naskala dengan mata yang penuh penyesalan.
"Om, Cempaka takut. Apakah selanjutnya adalah Om?"
__ADS_1
Hati Naskala sungguh sakit mendengar pertanyaan itu. Kenapa Cempaka bisa bertanya mengenai hal tersebut dan itu benar-benar melukai perasaannya. Bukan Cempaka yang salah tapi dirinya yang merasa tak bisa menjaga diri dan juga Cempaka.
"Tenang saja. Aku tak akan membiarkan diri ku dengan mudahnya dilukai mereka. Aku tak akan membiarkan diri ku pergi sebelum aku bisa menjagamu," ucap Naskala penuh dengan makna dan juga ungkapan kasih sayang.
Dari ucapan yang dilontarkan oleh Naskala kita ketahui jika Cempaka begitu benar-benar dicintai oleh prianya. Cempaka tak menyangka dan kini di tengah-tengah mereka telah berdiri orang-orang yang sangat menyayangi dirinya.
"Cempaka!" ucap Reyhan yang dari tadi hanya diam.
"Maafkan aku."
"Ini bukan salah kamu. Aku tahu kamu juga tidak ingin berada di posisi ini hingga kamu merasa putus asa."
Reyhan tersenyum lebar setelah mendengar pengertian Cempaka.
"Terima kasih."
"Reyhan!"
"Iya?"
"Bagaimana dengan perempuan yang sudah kau hamili?" tanya Cempaka yang membuat Reyhan langsung kaku. Ia tak ingin membahas ini walau hanya sebentar.
"Aku tidak ingin menikahi dia. Tapi juga jika aku tidak ingin maka ancaman bagi ku adalah penjara. Tapi aku belum siap untuk menikah dengannya. Ku harap kalian akan mengerti."
"Kamu memang belum siap dan begitu juga dia. Secara hukum anak itu memang anak kamu tapi tidak akan mendapatkan hak dari kamu jika di dalam agama. Kasihan dia, dia hidup tanpa ada sosok ayah dan juga apakah kamu ingin darah daging mu bernasib sama dengan mu?"
Reyhan teridam. Kenapa dirinya di sini yang malah terpojok.
"Jika ingin mereka bertanggung jawab langsung saja bertanggung jawab kepada Omar. Itu salah dia bukan aku yang menginginkannya."
"Sudahlah, jika membicarakan itu tidak ada habisnya," ucap Cempaka menengahi. Padahal dirinya yang sudah memulai. "Langsung saja kita membicarakan yang inti."
Dari tatapan Naskala sudah sangat jelas bahwa pria itu ingin mengusir dirinya dari tengah-tengah Reyhan. Cempaka tak bisa memenuhi keinginan Naskala karena kali ini dirinya ingin mencoba menjadi orang dewasa yang sesungguhnya.
"Bukan maksud aku ingin mengusir dan tidak menghargai mu. Tapi kau belum bisa mencerna ini semua dan tak akan sanggup untuk mendengarnya. Pergilah Cempaka! Biarkan ini menjadi masalah ku."
"Tapi Om ini menyangkut nyawa Om."
__ADS_1
"Cempaka! Ini nyawa aku bukan kamu, kan?"
"Tapi kan Cempaka juga punya perasaan, apa Om gak peduli sama perasaan Cempaka?"
"Sudah Cempaka, aku makin tidak bisa menyelesaikan masalah jika kamu mengetahui hal itu dan ikut campur di dalamnya."
Cempaka menatap Naskala marah. Ternyata pria itu benar-benar menyebalkan. Untuk menunjukkan kepada Naskala bahwa ia benar-benar sangat marah kepada pria tersebut lantas Cempaka langsung pergi dari sana dengan hentakan kaki yang keras.
Naskala menatap Reyhan di mna hanya mereka berdua yang tersisa di dalam ruangan itu. Pembicara pun berlangsung cukup menegangkan.
"Apa maksud kamu?"
"Ayah ku memang ingin menargetkan Om karena mereka tahu jika Om pasti akan mencari tahu mengenai kematian ayahnya dan kemudian mereka akan kembali ketahuan."
Naskala pun menarik napas panjang. Tentu hal itu pasti akan dirinya lakukan. Bukan karena hanya karena itu adalah masalah pribadinya akan tetapi itu juga sudah menjadi masalah besar karena telah membunuh jendral.
"Mereka ingin menipulatif dan menuduh Om telah melakukan hal yang tidak benar. Itu adalah rencana awalnya dan rencana mereka tersebut tak berjalan hingga akhirnya mereka memutuskan untuk membunuh Om."
"Aku sudah tahu."
"Seberapa banyak yang Om tahu?"
"Hampir semuanya." Reyhan mengangguk. Mungkin itu hasil dari pencarian yang dilakukan oleh Naskala.
"Mereka sekarang ingin melakukan hal besar di mana mereka ingin menyerang rumah ini secepatnya dan menganggap jika itu hanyalah kecelakaan."
Naskala sedikit terkejut akan tetapi dirinya hanya diam saja. "Benarkah?"
"Iya."
"Bagaimana kalau kamu membantu saya. Kamu beri tahu saya di mana markas mereka dan apa kelemahan mereka yang kamu ketahui."
Reyhan pun menarik napas panjang.
"Untuk kelemahan aku belum bisa menilai akan tetapi Om bisa menerobos dengan cara menyendra para karyawan yang ingin mengirimkan barang haram ke Mexico di Tanjung Priok."
___________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.