
5 Tahun kemudian
Cempaka pun sudah menyelesaikan studinya dan wanita itu telah bersikap dewasa ketika sudah melahirkan seorang anak untuk Naskala.
Ia membesarkan anaknya dengan seorang diri tanpa ada sosok suami yang mendampinginya.
Selama ini Cempaka menyembunyikan penderitaannya. Ia berusaha untuk tegar di depan umum padahal kenyataannya ia bahkan tak sanggup untuk menginjak bumi lagi. Tapi ada Hima yang terus membuatnya harus terus hidup agar Hima mendapatkan kasih sayang yang tak ia dapatkan.
"Ibu!"
"Iya sayang?"
"Ibu ini bagaimana?" tanya Hima kepada Cempaka. Ia memberikan soal matematika tersebut kepada ibunya.
Cempaka menatap soal itu yang masih level rendah. Hanya soal tambahan tapi dengan angka yang tinggi.
Hima adalah anak yang cerdas. Cempaka yakin ini pasti menurun dari sang ayah.
"Hima! Liatkan ibu yah."
Hima mengangguk. "Baik Ibu."
Cempaka mengajarkan bagaimana cara mengerjakan soal itu. Hima pun ketika tahu cara menambah dengan cepat lantas mengerjakannya sendiri. Padahal dia baru saja melihatnya sekali tapi langsung paham.
Cempaka memperhatikan Hima yang mengerjakan sola itu. Senyumnya mengembang lalu mengusap kepala Hima.
"Hima!"
"Iya Ibu?"
"Apakah kamu bahagia hanya hidup dengan Ibu?"
"Hima sangat bahagia!" jawab Him tanpa beban tapi sangat menyakitkan bagi Cempaka.
Anak ini haris kehilangan sosok yang sangat berharga di hidupnya saat ia bahkan masih di dalam rahim dan hanya berumur beberapa Minggu.
"Terima kasih sayang. Maafkan selama ini kasih sayang ibu masih kurang kepadamu."
Cempaka menarik tubuh anaknya lalu memeluknya dengan sangat erat. Hima adalah salah satu warisan yang ditinggalkan oleh Naskala yang paling berharga dari segalanya. Ia menatap ke atas dengan air mata yang terus jatuh ke pipinya.
"Mas kamu pasti lihat kan Hima sekarang sudah besar. Sebentar lagi dia akan masuk TK dan akan menjadi anak yang pintar sama seperti mu Mas."
Cempaka berusaha untuk tersenyum dan mengecup pipi Hima.
__ADS_1
"Ibu menangis?"
"Ibu tidak menangis sayang."
Hima tampak sedih dan mengusap air mata Cempaka.
"Ibu jangan sedih." Cempaka tersenyum dan mengangguk.
Tok
Tok
Tok
Cempaka pun lantas langsung mengusap wajahnya yang masih terdapat jejak air mata.
"Ibu biar Hima saja yang membukanya."
"Baiklah."
Hima berdiri dan berlari keluar. Ia dengan penuh enerjik seperti biasanya kala menyambut tamu.
Hima membuka pintu dan menatap orang yang sudah datang.
Pria itu terdiam sekilas.
"Mencari Cempaka."
"Mencari Ibu? Sebentar Hima panggilkan Ibu."
Pria itu mengangguk kaku sambil menatap Hima dengan cukup dalam.
Baru saja Hima akan pergi mengangguk ibunya tapi sang ibu sudah keluar.
Cempaka menatap orang yang datang. Ia tak begitu mengenali pria itu. Tapi ia merasa familiar meski wajahnya penuh bekas luka.
"Siapa ya? Ada apa mencari saya?"
"Cempaka!"
Deg
Suara itu. Suara tersebut membuat Cempaka merasa berharap dan ingin menangis kencang saat mendengarnya. Tapi ia berusaha untuk menahannya. Tidak mungkin ia menangis seperti anak kecil di sini.
__ADS_1
"Ada apa mencari saya?" Bagaimana pun Cempaka berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya tapi tetap saja dari suaranya terdengar getaran luka.
"Karena ingin menemui istri ku."
Cempaka mundur beberapa langkah. Wajahnya sangat terkejut.
"Ada apa Ibu?" tanya Hima bingung.
"Kamu."
"Naskala."
Cempaka langsung memeluk tubuh suaminya. Ia kira selama ini Naskala telah pergi. Tapi sekarang pria itu ada di depannya seperti sebuah keajaiban. Cempaka tak peduli apakah ini mimpi tapi bagiannya ia bisa bertemu dengan suaminya.
Naskala juga tak bisa berhenti menangis. Ia merangkuh tubuh sang istri penuh dengan rasa rindu.
Selain itu ia juga menari tangan Hima dan memeluk anaknya.
"Mas masih Hidup?"
"Aku masih hidup sayang. Aku diselamatkan oleh orang dan langsung merawat ku. Kamu tak perlu khawatir." Cempaka mengangguk bahagia.
"Alhamdulillah Mas. Cempaka senang mendengarnya."
Naskala masuk ke dalam rumah. Rumah ini ternyata masih sama saat terakhir kali dia meninggalnya.
"Ibu dia siapa?"
Naskala menatap anak kecil yang bertanya dengan nada lembut ke istrinya itu.
"Apakah dia?"
"Benar."
Naskala menggendong Hima dan mengecup pipinya.
"Aku adalah ayah mu."
"Papa!!!" Hima memeluk erat leher Naskala. Cempaka tertawa dan ikut memeluk tubuh Naskala.
________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.