Bocil Imutnya Om Tentara

Bocil Imutnya Om Tentara
Part 34


__ADS_3

Naskala merenung di tepi jendela setelah dirinya dirundung oleh beberapa tugas yang sangat banyak. Kekhawatirannya semakin jadi tatkala ia mendapatkan perintah untuk pergi ke perbatasan dan mengawal di sana.


Ini tak lagi menyangkut soal masalah pribadi tapi juga masalah negara. Naskala tak memiliki hak untuk menolak hanya karena semata-mata ia khawatir dengan istrinya. Meskipun beberapa bulan lagi tapi rasanya itu sangat cepat.


Ia pening memikirkan segala cara untuk mengatasi semua masalah itu. Ingin membawa Cempaka pergi ke sana jelas itu tak mungkin.


Naskala hanya bisa menunggu seraya memejamkan mata mencari jalan keluar yang sudah pasti tidak ada. Kerabat dekatnya tak ada yang tinggal di sini. Menyerahkan Cempaka kepada Nanda sama saja dengan menyerahkan wanita itu ke kandang buaya.


Yah ayah Nanda setelah ditelusuri oleh pria itu dan mengetahui beberapa fakta yang sengaja disimpan oleh Nanda ia merasa yakin jika ayah wanita itu yang merupakan sahabat istrinya tersebut terlibat.


Ternyata ini semua ada hubungannya dengan bisnis ilegal yang dibantu oleh orang dalam hingga berjalan dengan lancar. Ayahnya pun mengetahui hal itu dan ingin membongkar kebobrokan yang ada pada tubuh pengkhianat tersebut.


Naasnya setalah bertahun-tahun mengumpul bukti tetap saja ia tak bisa mengungkapnya dan malah membuat nyawanya melayang karena mengetahui hal itu.


Tak hanya karena masalah tersebut yang membuat ayahnya meninggal, akan tetap karena mereka menginginkan jabatan yang dimiliki ayahnya. Mungkin saat ini mereka telah berada di puncak awan dan memanfaatkan tempat yang dulu menjadi tahta ayahnya untuk kepentingan pribadi tanpa memikirkan hati rakyat sama sekali.


"Hayo Om lagi ngapain?" Teriakan Cempaka sukses mengagetkan Naskala.


Naskala beristighfar dan mengusap dadanya. Ia berbalik dan menoleh ke arah istri kecilnya yang benar-benar sangat menggemaskan tersebut. Senyum di wajahnya pun terbit dan menyentuh kepala Cempaka lalu memberikannya kecupan yang cukup dalam di kening wanita itu.


"Sudah belajar?" tanya Naskala seraya membenarkan letak hijab Cempaka.


"Malas belajar tapi tetap diusahakan untuk belajar. Yah walau hasilnya sudah pasti zonk dan tak berarti apa-apa."


Naskala terkekeh dan menyentil hidung istrinya hingga Cempaka terpejam, "kebiasaan!"


"Apaan deh Om suka main tangan."


"Apa iya?" Naskala pun malah makin niat menjahili istrinya tersebut.


Ia menggelitik perut sang istri tanpa aba-aba hingga Cempaka langsung kaget dan berteriak meminta ampun. Sudah pasti jika begini ia yang akan kalah dan tak akan bisa melawan suaminya tersebut.


"Om please!!!"

__ADS_1


"Panggil Mas dulu! Malas berhenti kalau manggil Om mulu! Emang aku Om kamu."


"Kakek!!" Bukannya menuruti apa yang diucapkan oleh Naskala malah wanita itu semakin menjadi mengejek suaminya.


Naskala tentu tak akan berhenti dengan mudah meksipun wanita yang ada di depannya adalah istri tercintanya.


"Mas!!"


Naskala pun tersenyum lebar dan berhenti menggelitik perut Cempaka. Ia pun membantu Cempaka duduk dengan benar dan membenahi pakaian Cempaka yang kusut dan berantakan.


Cempaka pun bernapas dengan lega setelah lepas dari kukungan pria itu. Situasi ini ia manfaatkan dengan baik untuk mencuri napas sebelum merencanakan penyerangan luar biasa. Naskala yang lengah dan sibuk memperhatikan sang istri tak begitu menyadari ketika Cempaka mendorong tubuh suaminya dan memberikan serangan yang sangat ganas.


Ia pun menghujani perut Naskala tersebut dengan jari-jarinya yang bergerak lincah menggelitik. Naskala tertawa dan berusaha untuk menghentikan sang istri.


Cempaka tak sengaja mengangkat baju Naskala hingga memperhatikan ototnya yang sering melakukan latihan militer. Roti yang berjajar di perut suaminya berhasil membuat Cempaka berhenti.


Naskala terheran dan melirik ke arah istrinya itu dan ia terkejut jika tatapan Cempaka tengah tertuju pada perutnya. Naskala langsung sadar dan menutup auratnya tersebut walau sebenarnya Cempaka halal untuk melihat, menyentuh, dan menikmatinya.


Cempaka menahan tangan Naskala dan melarang pria itu untuk menutupinya. Tatapan horor Cempaka membuat Naskala lemah tak berdaya untuk menyerang sang istri.


Cempaka tampak kagum dan memperhatikan roti sobek itu dengan seksama. Ini pengalaman kali pertamanya untuk melihat secara langsung.


"Ternyata bentuknya aneh. Emang bisa kaya gitu yah perut. Apa gak bahaya?"


Naskala menghela napas panjang dan menatap Cempaka dengan seksama.


"Ini gak bahaya tapi malah bagus di dalam dunia medis."


Cempaka mengangguk dan menyentuh lembut ABS Naskala. Naskala memejamkan matanya menahan desiran aneh di perutnya.


"Cempaka!" peringat Naskala dan malah wanita itu mengabaikannya. "Kamu tidak takut?"


Cempaka pun mengerutkan bibirnya dan menatap Naskala serius.

__ADS_1


"Tidak mungkin Om lakukan itu. Kan Om sayang banget sama Cempaka dan Cempaka juga udah kaya adiknya Om, apalagi Om kan sayang banget sama Cempaka. Mana tega, om udah kaya mau memperkosa Cempaka aja." Kata-kata itu dengan gampangnya keluar dari mulut Cempaka dan tak memikirkan nasib Naskala yang benar-benar naas.


"Kamu enteng banget bilang kaya gitu." Naskala pun bangun dan langsung menarik tengkuk Cempaka lalu menempelkan bibir mereka.


Mungkin ini adalah pengalaman pertama kalinya mereka berdua, berciuman dengan sangat lama. Baik Naskala dan Cempaka belum menyadari jika mereka tengah berada di tahap ini.


Mata Cempaka terus membulat dan seakan tak percaya dengan apa yang tengah mereka lakukan. Naskala menghela napas panjang dan menjauhkan wajahnya.


Ia tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya. Suasananya berubah canggung dan tak bisa berkata-kata.


"Itu..." Naskala benar-benar diam seribu bahasa. Wajahnya memerah dan ia langsung membuang mukanya karena menahan salting yang luar biasa.


Ia tertawa dan kemudian mendongak. Ia pun menatap Cempaka yang terdiam dengan mata yang berkaca-kaca.


Cempaka memukul dadanya dengan keras dan berusaha menyerang suaminya. Naskala terkejut dan menangkap tangan Cempaka. Malah posisi mereka berdua saat ini benar-benar dekat dan sangat ambigu.


Naskala menatap dalam mata sang istri sementara itu Cempaka yang semula ingin marah juga ikut terdiam. Alhasil mereka saling tatap.


Naskala mengerjapkan matanya dan kemudian ia pun dipukul tepat di kepala oleh istrinya tersebut.


"Kenapa dipukul?"


"Ishhh Om ngambil ciuman pertama Cempaka!!"


"Kamu juga ngambil ciuman pertama aku." Mereka pun terdiam berdua.


Naskala terkekeh dan mendongak. Oh Tuhan adakah situasi lain dari pada situasi keramat ini. Naskala benar-benar tak bisa menahan dirinya untuk tak tertawa. Ia selalu senyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi.


"Terserah."


Naskala pun menarik napas panjang dan menatap istrinya dengan prihatin. Adakah lagi masa-masa seperti ini suatu hari nanti?


__________

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2