Bocil Imutnya Om Tentara

Bocil Imutnya Om Tentara
Part 18


__ADS_3

Cempaka tersenyum riang dan berjalan sembari bersenandung untuk mengungkapkan kegembiraannya usai mendapatkan penghargaan dan kejutan di sekolah.


Cempaka merasa jika dia memiliki banyak teman yang peduli kepadanya. Senyum kebahagiaan itu tak pernah pudar sampai ia pulang ke rumah.


Naskala yang kebetulan pulang sebentar ke rumah heran menatap Cempaka yang tampak sumringah setelah pulang dari sekolah.


Ia pun bersedekap dada dan berjalan menghampiri wanita itu. Ia memicingkan matanya mencari jawaban dari rasa bingungnya di mata wanita tersebut.


Cempaka menarik napas panjang dan menundukkan kepalanya dengan salah tingkah. Ia pun tersenyum-senyum membuat kebingungan Naskala semakin meningkat.


"Kenapa dari tadi senyam senyum mulu?"


"Om tau gak?"


"Hah apa?"


"Jadi... Cempaka dapat ini!!" Cempaka mengeluarkan piala hasil dari kompetisinya dan juga piala yang diberikan oleh gurunya.


Cempaka sangat bahagia mendapatkan itu. Naskala tersenyum tipis adiknya tampak sangat gembira mendapat penghargaan serta hadiah yang membanggakan. Sebagai orang terdekat Cempaka, Naskala juga turut merasakan suka cita itu.


"Kamu memang hebat menggambar dan saya akui itu." Cempaka malah makin dibuat salaj tingkah ketika Naskala mengatakan itu.


Oh Tuhan rasanya Cempaka masih tak percaya orang ini adalah imamnya di masa depan.


Melihat sikap aneh yang ditunjukkan oleh Cempaka membuat Naskala pun sadar. Ia tahu Cempaka tengah diam-diam memperhatikannya.


"Cempaka! Ada apa dengan mu? Kenapa wajah mu tampak merah?" goda Naskala yang sengaja untuk menjahili sang adik. Cempaka pantang dikatai seperti itu. Maka wajahnya akan tampak semburat kemerah-merahan.


Wajahnya yang kian memerah membuat wanita itu panik sendiri ketika merasakannya. Lantas Cempaka yang tidak ingin semakin malu langsung berlari ke kamarnya.


Naskala tertawa melihat tingkah Cempaka yang sangat menggemaskan. Rasanya ia ingin menikahi wanita itu secepatnya.


"Ternyata dari dulu hingga sekarang kamu tidak berubah. Kamu tetap saja menjadi orang yang paling pemalu tapi sebenarnya sangat mengesalkan."


Naskala pun pergi dari ruang tamu menuju ke ruangannya. Ada beberapa berkas yang ia ingin ambil.

__ADS_1


Kebetulan ia juga sudah bebas dari tuduhan yang menyudutkan dirinya bahwa ia terlibat dalam pembunuhan temannya sendiri. Naskala tak mungkin melakukan itu, ia saja hampir terbunuh kemarin.


Kejanggalan yang kian hari semakin terlihat membuat Naskala selalu merasa khawatir. Ia takut jika para peneror itu sewaktu-waktu akan menyerang keluarganya.


Terlebih lagi mereka sudah bergerak jauh. Sampai saat ini Naskala belum mendapatkan bukti yang kongkrit untuk mengungkapkan kejahatan orang tersebut.


Naskala juga dendam kepada mereka karena Naskala tahu betul jika keluarganya dibunuh oleh para peneror tersebut.


Memang di dalam agama membalas dendam adalah perbuatan yang sangat diharamkan. Kita harus saling memaafkan, namun jika sudah menyangkut nyawa tidak ada hal yang mudah untuk dimaafkan.


Naskala menarik napas dan mengambil sebuah pistol yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ia mengamati pistol itu dan menelitinya.


Naskala mendapatkan itu di samping tempatnya bekerja. Naskala merasa ada yang aneh dengan pistol itu. Apalagi pistol tersebut merupakan pistol yang sangat hebat kekuatannya dan tak mudah untuk didapatkan di negara ini.


Pistol itu juga bukan pistol yang ada di kalangan tentara. Naskala yakin mereka sengaja membuangnya dan mengganti dengan barang bukti yang baru. Mereka ingin bermain cantik dan mungkin saja ingin menjebak dirinya.


Tentunya sebelum hal itu terjadi Naskala sudah mengantisipasi dan menyentuh pistol itu dengan baik supaya tak meninggalkan jejak seolah-olah dialah pemilik pistol itu. Selain itu ia harus menelitinya terlebih dahulu. Siapa yang terkahir kali membeli dan juga ia akan menyelidiki untuk menemukan jejak hal lain sebelum ia mengamankan pistol itu.


Bisa saja sewaktu-waktu mereka akan menuduh ia kembali dan menggunakan pistol ini sebagai senjatanya dan barang bukti.


_________


Ia menatap cincin yang sangat indah di tangannya. Tidak ada yang mengira jika itu adalah cincin pertunangan Cempaka baik itu teman-temannya sendiri.


Pernikahan mereka dilakukan sembunyi-sembunyi dan tentunya tak boleh ada yang mengetahui.


Cempaka mendukung keinginan Naskala demi mendapatkan reputasi yang baik di kemiliteran. Ia tak ingin Naskala dipandang rendah oleh kemiliteran karena telah menikahi gadis kecil sepertinya.


Mungkin ketika ia sudah berumur di atas 17 tahun nanti barulah Cempaka dan Naskala menikah secara resmi.


Huh tapi sungguh tidak sabar menunggu waktu itu. Cempaka menepuk kepalanya sendiri karena telah berani-beraninya berpikir hal itu. Ia masih sangat muda menikah secara siri saja belum dan ia sudah memikirkan untuk menikah secara negara.


Cempaka menghela napas panjang dan mengercutkan bibirnya.


"Kenapa aku akhir-akhir ini terlalu semangat. Om apa gak malu ya nikah sama aku?" tanya Cempaka heran. "Dan apakah Om cinta ya sama aku?"

__ADS_1


Pertanyaan itu belum Cempaka dapatkan jawabannya. Ia tak ingin Naskala menikah dengannya hanya karena terpaksa. Apalagi Cempaka sudah tahu bahwa Naskala menikah dengannya karena permintaan kedua orang tua mereka untuk yang terakhir kalinya.


"Kenapa sih selalu over thinking?" tanya Cempaka kepada dirinya yang tak bisa berpikir positif.


Ia pun turun dari ranjang dan keluar kamar. Cempaka menuju ke tempat kerja Naskala. Ia harus mempertanyakan hal itu kepada Naskala jika tidak dirinya akan terus merasa tak nyaman karena dihantui oleh bayang-bayang yang tak menyenangkan.


"Assalamualaikum!"


Naskala yang tengah menulis beberapa laporan lantas berhenti dan menjawab salam dari Cempaka.


"Wa'alaikumussalam! Masuk ada apa Cempaka?" tanya Naskala seraya menutup semua berkasnya.


Cempaka yang mendapatkan respon positif dari dalam lantas masuk dan melihat jika Naskala sedang sibuk. Ia pun tersenyum salah tingkah melihat pria itu.


Naskala menaikkan satu alisnya heran dengan Cempaka.


"Ada apa?"


"Anu.. gak jadi deh." Cempaka bingung ingin mulai bertanya dari mana dulu. Naskala benar-benar membuatnya menjadi orang bego dalam waktu singkat.


"Lah?"


"Cempaka bingung!"


"Ada tugas?"


"Anu.. Cempaka masih penasaran apakah Om mencintai Cempaka?"


Naskala terkejut ternyata Cempaka datang menannyakan hal yang masih ia cari jawabannya. Ia belum bisa mengkaji hatinya sendiri.


"Maafkan saya. Saya belum bisa menemukan jawabannya untuk kamu. Tapi saya sungguh menyayangi kamu."


___________


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2