Bocil Imutnya Om Tentara

Bocil Imutnya Om Tentara
Part 6


__ADS_3

Cempaka menarik napas beberapa kali dengan cukup panjang. Wajahnya terlihat sangat kesal apalagi makin terlihat saat wanita itu membanting tas sekolahnya ke atas meja.


Kemudian ia duduk dengan cara kasar di samping Nanda sang sahabat yang selalu sabar menghadapi kebobrokan Cempaka. Nanda yang berada di samping Cempaka bahkan sampai melongo.


"Kenapa?" tanya Nanda baik-baik sembari menenangkan wanita itu.


"Semua ini salah kamu."


"Hah? Kok salah aku?" tanya Nanda yang tiba-tiba kaget tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba dia dituduh oleh Cempaka oleh hal yang tak ia ketahui. "Kenapa sih? Coba cerita."


"Kan aku ungkapin perasaan aku ke Om Naskala. Eh malah aku yang malu."


"Cempaka?" tanya Nanda dengan wajah terheran-heran sambil menyentuh kening Cempaka. "Ada apa dengan kamu? Kamu sakit? Kamu beneran confes ke Kak Naskala? Kamu kok gitu. Kamu gak malu? Lagian juga mana mungkin kalian itu bisa saling suka. Atau salah satu di antara kalian yang gak cinta. Ingat umur kamu dan Kak Naskala itu berapa. Palingan kamu dianggap adeknya. Lagipula dia juga kan alim dan gak mungkin nikah sama adeknya sendiri."


Cempaka tampak tak terima dengan Nanda yang ia harapkan dapat membela dirinya malah tak berpihak padanya.


"Apaan sih. Aku juga gak pernah nanggep kalau aku keluarga mereka. Aku aja manggil Tante dan Om, bahkan Naskala juga pake om. Aku kan cuman numpang di keluarga dia bukan bagian keluarga mereka."


Nanda tertawa sumbang. Ia tak mengerti betapa polos dan lugunya Cempaka. Tapi di balik itu semua ada pula kejujuran yang diakui oleh Cempaka.


"Bagus deh kamu jujur. Aku kira kamu gak sadar."


Cempaka malah makin cemberut. Wanita itu berpikir akan sampai kapan dia bisa tahan dengan perasannya sendiri. Ia tak tahu sebenarnya cinta dengan Naskala atau tidak. Tapi dari penjabaran defenisi cinta membuatnya berpikir bahwasanya dia sebenarnya jatuh cinta kepada Naskala.


"Kamu kok gitu Nanda. Aku bingung banget, mana udah terlanjur ngomong ke Om lagi. Gimana kalau misalnya aku beneran gak cinta? Jangan-jangan abis ini om makin menjauh dari aku." Cempaka tampak makin putus asa.


"Ya salah siapa?"


"Salah Nanda."


"Kok aku?"


"Ya kamu."


Cempaka menarik napas beberapa kali. Ia mengeluarkan buku pelajarannya dari tasnya dan menatap PR yang tak ia kerjakan karena sangat susah untuk menjawabnya. Sementara ingin bertanya kepada Naskala tapi ia malu dan juga gengsi.


Habislah Cempaka kali ini. Ia akan menanggung malu selamnya dan tentunya hubungan seperti dulu tak lagi sama.


Ia malah memperburuk suasana. Hal itu membuat Cempaka mumet dan tak mengikuti pembelajaran dengan baik.


Ia lebih sering melamun hingga ditegur oleh guru.


"Cempaka!" bisik Nanda yang menyadarkan Cempaka agar tidak melamun di jam pelajaran guru killer.

__ADS_1


Ia pun tersadar dan menatap guru yang tengah memandangnya dengan intens di depan. Cempaka pun menarik napas panjang dan menundukkan kepalanya.


"Cempaka! Ini kali terakhirnya saya liat kamu melamun di jam pelajaran saya. Habis ini sampai kamu melamun lagi awas saja."


"Ba..baik Buk."


Guru tersebut hanya menatap Cempaka sekilas. "Mana pr kamu? Cuman kamu yang belum ngantar!"


Cempaka cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia melirik Nanda dengan wajah cemas dan berharap Nanda mau menolongnya.


"Nan!" bisik Cempaka.


"Kamu sih kenapa gak kerjain. Habislah kamu."


"MANA PR KAMU?"


"Anu Buk. Be..belum dikerjain," jujur Cempaka yang membuat emosi sang guru naik pitam.


"CEMPAKA IKUT SAYA KE RUANGAN KEPALA SEKOLAH!"


"Buk! Saya gak buat PR kok sampe masuk raungan kepala sekolah?"


"Kamu itu sudah keterlaluan. Semalam juga kamu tidak mengerjakan pr dari saya. Sampai kapan kamu akan seperti ini?"


Cempaka tak bisa membayangkan bagaimana nantinya Tante Adhila dan Om Toha yang akan memarahinya. Mungkin jika ia bersekolah di sekolah negeri masih dapat dimaafkan. Tapi karena ia sekolah di sekolah swasta dan juga sekolah yang sangat disiplin makanya ada kesalahan sedikit saja akan dipanggil orangtua.


___________


Cempaka memejamkan mata ketika pintu ruangan dibuka dan kepala sekolah sudah menyambut kedatangan wali yang akan hadir untuk membahas masalah dirinya.


Ia harap kali ini tidak akan dimarahi habis-habisan meksipun itu mustahil.


Apalagi saat wali dirinya telah duduk di sampingnya membuat Cempaka panas dingin. Ia belum berani membuka matanya dan melihat ekspresi om Toha atau Tante Adhila yang sangat kecewa padanya.


"Terima kasih sudah mau datang."


"Tidak masalah. Seharusnya saya yang berterima kasih karena Bapak telah menegur kesalahan yang dibuat oleh adik saya." Mendengar suara Naskala yang tengah berbicara dengan kepala sekolah sontak saja Cempaka langsung membuka mata dan sangat terkejut melihat jika Naskala lah yang menjadi walinya.


Cempaka menghela napas panjang dan makin ketakutan. Cempaka yang berusaha untuk menghindari Naskala malah pria itu yang menjadi walinya. Ia tak tahu bagaimana nanti Naskala akan memarahinya.


Tentunya Cempaka akan ditegur habis-habisan. Selama di ruang kepala sekolah Cempaka hanya bisa mendengarkan bagaimana guru menjelaskan kepada Naskala bagaimana ia di sekolah.


Tak lama mereka pun usia berbincang dan juga saling bersalaman.  Bel tanda pulang sekolah juga sudah berbunyi dan itu artinya Cempaka pun harus pulang.

__ADS_1


Naskala keluar dari ruangan itu dan dari lirikan matanya tampak pria itu tengah memintanya agar ikut dengannya.


Cempaka menundukkan kepala dan mengekor di belakang Naskala. Sesampainya di parkiran Naskala menoleh ke arah Cempaka yang masih  menundukkan kepala dan tampak takut-takut seolah menghindari dirinya.


"Apa yang sudah kamu lakukan Cempaka? Kamu tahu kesalahan kamu?"


"Iya."


"Mau diulangi lagi?" Cempaka menggelengkan kepalanya. "Sudah dewasa dan jangan manja. Kamu kaya bocil aja."


Cempaka yang tidak terima dengan pernyataan Naskala langsung mengangkat wajahnya.


"Bocil, bocil, enak aja Om bilang kaya gitu ke aku. Aku sudah besar Om," protes Cempaka yang tidak setuju dengan Naskala.


Naskala menatap dingin Cempaka. "Cempaka! Kamu sendiri yang bilang ke saya kalau kamu bukan bocil. Tapi kenapa kamu malah bersikap layaknya anak kecil. Melamun di kelas dan tidak mengerjakan Pr? Apa yang sedang kamu pikirkan Cempaka?"


"Cempaka itu lagi mikirin Om. Cempaka juga gak bisa ngerjainnya dan meminta ajarkan sama Om juga gak bisa."


"Kenapa kamu mesti bergantung sama saya? Kamu bisa minta ajarkan sama Bunda atau sama Ayah. Kamu juga bisa belajar dari internet. Kamu punya ponsel, kan?"


"Siap salah."


Cempaka memasang wajah cemberut.


Naskala pun masuk ke dalam mobil dan ia melihat ke arah Cempaka yang tak kunjung masuk.


"Cempaka! Apa yang kamu lakukan di luar. Kenapa belum masuk?"


"Hah? Cempaka bisa pulang sendiri."


"Kenapa kamu dibilangin malah ngeyel. Cepat masuk ke dalam mobil saya." Cempaka pun terpaksa untuk masuk ke dalam mobil dan duduk di bagian belakang.


Ia masih canggung apalagi setelah ungkapan cintanya kemarin.


"Om i-it-itu yang kemarin.... eu..m!"


"Tidak usah dibahas."


Cempaka pun mengangguk.


_______


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2