Bocil Imutnya Om Tentara

Bocil Imutnya Om Tentara
Part 16


__ADS_3

Nyatanya selama ini bersikap seolah semua baik-baik saja tak segampang itu. Cempaka harus menahan rasa sakit sendirian diam-diam.


Di tengah malam ia akan menangis mengenang jasa Adhila dan Toha kepada dirinya. Ia juga akan merindukan kedua orangtunya yang juga berada di sisi yang sama dengan Adhila.


"Mama! Bunda! Cempaka rindu. Sekarang Cempaka cuman punya Om Naskala. Ya Allah Cempaka harap Cempaka akan terus bersama dengan Om dan Cempaka tahu jika Cempaka salah berharap bahwa Om tidak akan menikah dengan siapapun. Cempaka memang sangat egois, dan Ya Allah maafkan Cempaka yang memberikan harapan seperti itu. Karena cuman om Naskala yang Cempaka punya," ucap Cempaka di dalam doanya.


Itu lah doa yang sering dipanjatkan oleh Cempaka setiap ia selesai menunaikan ibadah sholat. Cempaka menjadi orang yang sangat taat beragama, ia yang biasanya susah untuk mengaji akhirnya menjadi orang yang rutin mengaji dah mengirimkan doa untuk orang tuanya. Selain itu Cempaka juga rutin menunaikan ibadah sholat tahajud setiap malam tanpa diketahui oleh Naskala.


Contohnya seperti saat ini. Mulai sekarang ia tak pernah absen sama sekali untuk menunaikan ibadah tahajud.


Cempaka menghela napas sejenak dan melepaskan telekungnya. Setelah itu ia melipat dan menaruh ke tempat yang bersih. Cempaka pun duduk di atas ranjang sembari merenggangkan tubuhnya.


Ia menyentuh tenggorokannya yang terasa sangat gatal dan juga haus. Cempaka pun memutuskan untuk keluar kamar dengan mengenakan hijab.


Ia tak pernah lagi melepas hijab dan Cempaka bahkan kadang tidur berhijab. Ia pergi ke dapur mencari minuman segar.


Ternyata di sudut lain Naskala memperhatikan Cempaka yang tak kunjung tidur. Ia mengerutkan keningnya melihat itu.


Cempaka menghela napas gusar tatkala melihat minuman yang ia inginkan berada di kulkas yang cukup tinggi. Ia menggerang sebal karena tinggi badannya yang sangat rendah.


Naskala yang melihat itu tertawa kecil. Ia pun menghampiri wanita itu dan mengambilkan minuman yang diinginkan oleh Cempaka.


Cempaka terkejut dan berbalik ke belakang. Benar saja jika Naskala lah yang mengambilkan minum untuknya. Cempaka menerima minuman itu dengan canggung dan langsung pergi.


Naskala menatap punggung indah wanita itu. Ia menundukkan kepala dan beberapa kali beristighfar.


"Astaghfirullah apa yang sudah saya pikirkan." Naskala rasa ia harus cepat-cepat menghalalkan Cempaka sebelum kejadian yang tidak diinginkan terjadi.


Sementara itu Cempaka tak bisa menahan dekat jantungnya yang tak karuan. Ia dengan jelas melihat wajah berseri pria itu yang menggunakan baju muslim. Apa mungkin Naskala jiga habis selesai melaksanakan sholat tahajjud. Membayangkannya saja membuat atensi Cempaka tak bisa dikendalikan.


Pikiran liarnya untuk bersama Naskala semakin menjadi. Ia belum mengetahui jika dirinya akan menikah dengan Naskala.

__ADS_1


"Ya Allah apa yang hamba pikirkan. Om itu cuman kakak bagi Cempaka dan Cempaka gak boleh mikir lebih," ucap Cempaka menegur dirinya sendiri yang berhalu terlalu jauh.


Lagipula tidak akan mungkin Naskala mau menikah dengannya. Apalagi sikap dingin Naskala membuat harapan itu semakin jelas terlihat sangat kecil.


Cempaka bingung dengan hal itu. Di lain sisi ia juga menolak tapi di sisi lain juga dia sangat menginginkan Naskala.


"Sepertinya aku sudah gila memikirkan itu. Astaghfirullah, kenapa bisa-bisanya kamu berpikiran kotor. Sadar Cempaka! Sadar!" Cempaka menepuk pipinya beberapa kali dan menggelengkan kepala mengusir pikiran liar itu.


_________


Naskala menatap wanita itu yang tengah menunggunya di taman. Naskala menyakinkan diri untuk melakukan hal yang sudah sewajarnya ia lakukan dari dulu.


Tidak ada pilihan lain. Naskala merasa sangat gugup dan hampir tak bisa melangkah karena kakinya yang terasa sangat dingin. Ia pikir mungkin dia akan terbaring di sini karena saking gugupnya.


Naskala mengusir perasaan itu dan memberanikan diri untuk menghampiri Cempaka yang sudah sangat lama menunggu dirinya.


Ia tak ingin Cempaka kelelahan hanya menunggu dirinya. Nanti Cempaka akan sangat marah padanya.


Matanya pun berkaca-kaca takut jika Naskala hanya membohonginya. Cempaka juga tak mengerti kenapa dia disuruh ke tempat ini.


Terlebih lagi taman ini juga sangat indah dan dihiasi oleh beberapa lampu yang ditata sangat rapi. Dekornya yang seakan tak biasa tapi tetap saja tak membuat Cempaka sadar.


Wanita itu duduk di kursi dan tetap menunggu Naskala meskipun lelaki itu tak datang. Tak mungkin Naskala membohonginya. Terlebih lagi Cempaka tahu betul bahwa Naskala tak akan pernah berbohong kepada-nya.


Benar apa yang dipikirkan Cempaka, ia melihat Naskala yang datang padanya dengan senyum mengembang di wajahnya. Cempaka terpana melihat dandanan Naskala yang sangat formal dan juga tampan.


Tiba-tiba angan-angan itu kambuh lagi membuat Cempaka harus menelan pil kekecewaan. Ia terus beristighfar.


"Om! Tumben banget nyuruh Cempaka ke sini. Trus pake baju kek gini lagi, Om sendiri yang milih ini baju?" Naskala mengangguk memang ia yang memilihnya sendiri dan ingin melihat Cempaka mengenakan baju istimewa yang dibuat oleh ibunya.


"Kamu tahu baju itu dibuat oleh siapa?" Cempaka menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Baju itu adalah baju yang dibuat Bunda untuk kamu!" Cempaka terkejut dan langsung menatap baju itu dari bawah.


Ia pun merasa kagum dengan desain yang sangat luar biasa di baju ini. Tidak terlalu mewah tapi elegan dan Cempaka sangat senang memakai baju itu.


"Sangat cantik Cempaka suka." Cempaka tampak bahagia mengenakan baju itu. Sikap kekanak-kanakannya pun kambuh dan bertepuk tangan senang.


Naskala terdiam melihat itu. Bagaimana mungkin ia akan menikahi Cempaka yang bahkan belum dewasa. Naskala berharap jika dirinya bukanlah seorang pedofil.


"Cempaka!"


Cempaka pun berhenti dengan kegiatannya. "Hm?"


"Kamu tau kenapa saya suruh kamu ke sini?"


Cempaka mengerutkan kening bingung dan menggeleng.


Naskala tertawa kecil dan kemudian ia berlutut di depan Cempaka dan mengeluarkan sebuah kotak dan membukanya. Kotak kecil itu berisi sebuah cincin yang sangat indah.


Cempaka terkejut Naskala melakukan itu.


"Om! Om kenapa berlutut sambil keluarin cincin di depan Cempaka? Kaya mau ngelamar Cempaka aja."


Naskala menarik napas dan tersenyum tipis.


"Saya memang sedang melamar kamu." Naskala dengan sekali tarikan napas panjang pun berkata, "will you marry me?"


"HAH?"


_________


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.

__ADS_1


__ADS_2