
Cempaka menekuk wajahnya di bandul jendela. Ia sudah tak mood di mana pagi hari yang indah nyatanya tak sebanding dengan suasana hatinya. Bukannya menikmati mentari yang baru saja terbit ia malah tampak tak kontras dengan keindahan tersebut.
Naskala yang baru saja selesai mengerjakan sholat duha pun mengerutkan keningnya. Kenapa Cempaka tampak cemas dan wanita itu terlihat tidak sedang baik-baik saja.
Naskala pun mendekati Cempaka untuk menannyakan perihal yang sudah menggangu hati wanita itu. Naskala mengusap rambut Cempaka dengan gemas membuat Cempaka langsung berubah merah padam. Ia melirik Naskala dengan tatapan mautnya seolah tengah menegaskan kepada Naskala jika ia sedang tak ingin diganggu.
Cempaka menarik napas panjang dan beralih tempat duduk. Naskala makin lagi heran karena baru saja ia duduk di samping wanita itu, tapi Cempaka seolah tengah menjauhinya.
"Ada apa Cempaka?" tanya Naskala dengan suara yang sangat lembut hampir saja meruntuhkan iman Cempaka.
Cempaka berusaha untuk membuang mukanya agar Naskala tak melihat semburat merah yang muncul di wajahnya saat mendengar Naskala menyapa dirinya dengan suara yang sangat romantis. Duh Naskala memang tipe suami idamannya.
Nyatanya apapun yang dilakukan oleh Cempaka tak luput dari amatan Naskala. Pria itu menyunggingkan senyum tipis melihat Cempaka tampak malu-malu kucing. Ia pun mengamati Cempaka dengan pandangan yang sangat dalam.
Cempaka yang merasa terganggu tak bisa lama-lama berakting di depan pria itu. Hancur sudah pertahanannya dan ia tertawa kecil sambil menutup wajahnya.
"Apaan sih Om?"
"Loh kok saya?"
"Emang Om yang salah." Untuk panggilan dirinya kepada Naskala belum bisa berubah. Karena sudah bertahun-tahun ia memanggil Naskala seperti itu dan tak akan segampang membalikkan telapak tangan untuk mengganti panggilannya meskipun Naskala sering memperingatinya, namun semua itu hanyalah masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Malahan Cempaka malah mengejek suaminya itu hingga membuat Naskala pun berakhir kesal kepadanya.
"Kenapa saya?"
"Om kemarin gak kasih uang sama Cempaka. Padahal kan Cempaka mau beli coklat 1 dus," ujarnya dengan wajah masam.
Naskala yang baru mendapatkan alasan kenapa cueknya Cempaka kepadanya di pagi ini yang tanpa ada angin dan ada asap itu lantas menarik napas panjang. Untuk urusan tersebut ia tak ingin mengaku salah, karena apa yang sudah dia lakukan adalah hal yang paling benar.
"Kamu tau kan kenapa saya larang kamu makan coklat? Nanti gigi kamu sakit dan nangis-nangis ke saya!"
Cempaka tampak tak terima. Ia menatap sengit suaminya tersebut. "Oh jadi Om gak senang kalau aku nangis-nangis ke Om? Jadi selama ini Om terganggu? Oke!"
Ketahuilah hal yang paling rumit di dunia ini adalah untuk mengerti isi otak seorang wanita. Dari dulu Naskala selalu salah di mata para wanita, tidak di mata Cempaka saja tapi di mata bundanya ia juga selalu salah. Ia dianggap tidak mengerti dengan isi hati wanita hingga Adhila mengomelinya sampai sore.
__ADS_1
Terkadang ia sering curhat dengan ayahnya mengenai masalah wanita. Kenapa mereka sangat rumit? Dan ia dan ayahnya belum menemukan jawaban itu, mungkin bagi wanita sendiri juga tidak tahu.
Naskala menggaruk kepalanya dan tersenyum simpul.
"Cempaka! Kamu dengerin saya! Saya suami kamu dan istri harus mendengar perkataan suaminya."
"Kalau Cempaka gak mau?"
"Berarti kamu adalah istri yang durhaka kepada suaminya!" ucap Naskala.
"Om selalu benar."
Cempaka pun pergi begitu saja dan Naskala yakin masalah ini akan semakin serius. Apalagi Cempaka belum bisa berpikir dewasa. Yang ada di otaknya hanyalah merajuk dan marah-marah. Berbeda dengan pikiran orang dewasa yang tak begitu menganggap pertengkaran ini hanya karena masalah yang sepele.
"Kenapa wanita harus diciptakan serumit itu?" tanya Naskala sembari ikut keluar dari kamar. Ia harus membujuk Cempaka sebelum akhirnya nanti akan menjadi semakin rumit.
__________
"Om ini beneran sunset?" tanya Cempaka kepada Naskala sambil melihat pemandangan sunset seraya terkagum-kagum.
Bagaimana tidak Naskala membawanya ke suatu tempat yang cukup tinggi dan menikmati sunset di waktu senja. Naskala tersenyum melihat Cempaka tampak sangat bahagia dengan pemandangan indah itu.
Diam-diam Cempaka juga memotret Naskala yang berdiri di sampingnya. Terkahir kali mereka ke sini saat Cempaka berusia 13 tahun. Ia datang bersama Naskala yang mengajaknya dulu. Namun kali ini mereka datang dengan status yang berbeda.
Di bawah langit yang menunjukkan keindahannya, Cempaka melihat betapa tampannya suaminya ini. Tapi Cempaka belum bisa menjadi istri yang sesungguhnya dan Naskala juga belum menjadi suami yang sesungguhnya.
Pernikahan mereka tampak seperti status, dan hubungan mereka tidak ada ubahnya dengan saat sebelum mereka menikah.
Naskala menoleh ke arah Cempaka dan tersenyum lebar. Namun dirinya langsung mengerutkan keningnya saat Cempaka tengah menatapnya terpana. Sementara itu Cempaka belum menyadari jika ia tertangkap basah.
Naskala yang awalnya bingung hanya memamerkan senyum bahagia setelahnya. Ia menyentil hidung Cempaka hingga wanita itu tersadar.
"Eh!"
"Kamu lagi ngapain? Ayo!!"
__ADS_1
"Jangan geer."
"Saya tidak geer."
"Cempaka tuh lagi ngamatin orang di sana!" ujar Cempaka mencari cara untuk mengelak.
"Lagi ngamatin dia atau lagi ngamatin wajah saya?" tanya Naskala sembari mengintimidasi. Tatapannya tajam dan ia menaikkan satu alisnya hingga Cempaka tak bisa lagi mencari pembenaran.
"Iya! Iya! Cempaka lagi ngamatin Om!"
"Bagaimana tampan tidak?"
"Enggak. Om tuh jelek!!" ucap Cempaka dan tertawa gelak.
"Masa iya? Tapi kenapa kamu liatin nya sambil senyum-senyum?"
"Mana ada senyum."
Naskala tertawa pelan dan memeluk tubuh Cempaka dengan sangat erat. Cempaka terdiam sejenak karena kehangatan ini sudah lama tak ia rasakan.
"Saya tau kamu bohong. Saya memang tampan, dan ketampanan saya ini hanya untuk kamu. Ingat untuk kamu seorang, Cempaka. Istri ku!"
Cempaka meleleh mendengar pernyataan yang baru saja keluar dari mulut Naskala. Begitu romantisnya seorang Naskala hingga mampu membuat dirinya melayang dan menembus lapisan awan.
Cempaka membalas pelukan Naskala dengan sangat erat. Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu.
"Makasih Om. Kali ini Cempaka ngaku kalau Om memang tampan."
"Saya senang mendengarnya. Setelah sekian tahun akhirnya kamu mengakui jika saya tampan. Saya memang tampan," ucapnya penuh percaya diri.
Cempaka yang menyadari jika Naskala semakin narsis rasanya wanita itu hendak muntah mendengar kalimat yang begitu sombong.
"Narsis!" Cempaka tertawa melihat ekspresi marah laki-laki tersebut.
___________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.