
Semua berlalu begitu saja melewati waktu yang terus mengalir bak air sungai. Menjalani bahtera rumah tangga di mana semuanya terpaksa untuk dilakukan secara sembunyi-sembunyi tentu tak mudah untuk melakukan itu. Harus menahan rasa sakit memendam itu dan tidak bisa dengan bebas memamerkan ke publik.
Tapi semua itu terbayarkan akan hari ini. Perjuangan mereka dan bertahan dari nafsu yang terus menggoda membuat mereka akhirnya bisa berada di tahap ini.
Cempaka menatap pengantinnya yang ada di sampingnya. Mereka telah melakukan pernikahan secara resmi dan sah di mata negara.
Rasa haru mengingat perjuangan dan memendam cinta sendirian di saat ia sama sekali tak mengenal cinta. Orang yang menjadi pasangan hidupnya adalah orang yang selalu menjaganya di saat ia sangat terpuruk.
Cempaka merasa bahagia akhirnya bukan orang lain yang akan menjadi pasangannya akan tetapi adalah orang yang benar-benar ada untuknya selama ini.
"Mas!"
Naskala menatap ke arah sang istri dengan wajah penuh haru. Sama seperti Naskala jika ia tak menyangka akan menikahi putri dari ajudan ayahnya. Mungkin jika orangtua mereka masih ada tentunya tak akan percaya dengan hari ini. Hari di mana kedua anaknya berpasangan duduk menjadi sepasang suami istri.
Di lain sisi jarak umur mereka juga lumayan jauh. Tapi itu tak menghalangi Naskala untuk mencintai Cempaka dan mempersuntingnya menjadi seorang istri.
Ia juga baru sadar jika ia tak akan pernah bisa jauh dengan orang yang sudah ada bersamanya di saat ia remaja.
"Cempaka!" Naskala menyentuh kepala Cempaka dengan mata yang berkaca-kaca. Lalu ia mengusapnya pelan penuh dengan makna yang tersembunyi.
"Mas hari ini beneran nyata?" tanya Cempaka dan memandang mengarah ke para undangan.
"Iya."
"Jangan tinggalin Cempaka."
"Mas tidak akan meninggalkan kamu," ucap Naskala dan tersenyum meyakinkan.
Janji itu akan dituntut oleh Cempaka di saat Naskala tak bisa menepatinya. Cintanya sangat besar dan ia tak bisa jika hidup tanpa Naskala.
Sementara itu di banyaknya para undangan yang hadir tidak ada yang menyangka jika di tengah-tengah mereka ada penjahat kelas kakap yang berbaur di sana tanpa diundang.
Dari bangku para undangan ia hanya menatap ke depan dan memperhatikan pasangan tersebut dengan ekspresi datar. Namun tangannya yang terkepal di bawah sana sudah menunjukkan reaksi pria itu.
__ADS_1
Ia pun menarik napas panjang dan menundukkan kepala. Wanita yang hanya sekali ia cintai seumur hidupnya sudah menjadi milik orang lain. Rasa sakit tentu tak bisa termaafkan.
Sementara itu wanita polos seperti Cempaka menyangka hidupnya tak pernah merasa memiliki ancaman. Ia adalah anak yang mengikuti alur kehidupan dengan penuh ikhlas tanpa mengenal dunia percintaan. Padahal di luar sana banyak orang yang berlomba-lomba ingin mendapatkan hati wanita itu.
Tapi sekeras apapun mereka berjuang akan dipatahkan dengan hari ini. Pengucapan janji suci yang dilakukan oleh Naskala dan Cempaka telah mengikat keduanya dalam sebuah pernikahan yang sah.
"Cempaka! Mungkin hari ini kau bersanding dengannya. Tapi ingat suatu hari nanti kau akan bersanding dengan ku."
Kata-kata itu seperti sebuah perintah yang harus dilaksanakan. Apapun resikonya ia akan menerimanya. Pria itu lantas berdiri dari kursi undangan ketika merasa bosan dengan pemandangan yang justru menyakiti perasaannya.
Tapi, langkah Omar terhenti saat ia melihat sepupunya, Reyhan. Reyhan datang bersama sang istri yang sebentar lagi akan melahirkan dan hanya menghitung hari.
Sudah lama ia tak melihat sepupunya itu yang telah melarikan diri. Sejujurnya Omar tak peduli tapi kali ini ia cukup tertarik dengan wajah masam Reyhan.
Selain itu ia juga menangkap ada ekspresi cemburu di wajah Reyhan saat memandang ke arah Cempaka. Sedangkan di samping pria itu ada seorang wanita yang sedang memandang suaminya dengan raut sedih.
Dan pada saat itu ia menyadari jika Reyhan dan dia menyukai perempuan yang sama.
"Drama yang cukup sulit." Omar menyeringai evil. Ia pun pergi meninggalkan tempat itu.
Ia sangat terkejut melihat jika Omar ada di sini, ia bingung kenapa Omar biasa hadir di acara pernikahan Cempaka dan Naskala, apakah Naskala mengenal Omar? Merasa tak nyaman Reyhan langsung menghampiri pasangan pengantin.
"Kamu mau ke mana?" tanya istrinya dan menahan tangan Reyhan.
Reyhan menatap tangannya lalu tersenyum tipis. "Aku ingin bertemu dengan mereka sebentar."
Ia hanya tersenyum pedih dan mengangguk.
_________
Setelah mendapatkan informasi dari Reyhan membuat perasaan Naskala tak tenang. Untungnya Reyhan hanya memberitahukan dirinya. Jika sampai Cempaka tahu dengan masalah ini, Naskala pikir ia tak akan bisa berbuat apa-apa melihat kesedihan wanita itu nantinya.
Cempaka menatap sang suami yang berdiri di tepi jendela. Ia mengerutkan keningnya, kenapa Naskala merasa cemas padahal malam ini adalah malam pertama mereka setelah sah menjadi suami istri di mata negara.
__ADS_1
"Mas kenapa? Seperti orang yang tidak tenang saja," ucap Cempaka dan mengusap lengan suaminya itu penuh akan kasih sayang.
Naskala menoleh ke arah Cempaka dan memamerkan senyum terbaiknya. Ia berusaha menutupi rasa takutnya itu dengan senyum tulus di wajahnya.
"Mas tidak apa-apa. Mas hanya gugup."
Naskala memperhatikan Cempaka dengan baik-baik. Wanita yang sangat cantik dan juga sudah tumbuh besar menjelma menjadi sang Dewi yang meruntuhkan hatinya.
"Tumben sekali. Padahal Mas jarang kaya gini."
"Cempaka! Kamu harus hati-hati. Di luar sana banyak marabahaya yang sedang mengincar hidup kita."
Cempaka menyatukan keningnya tak mengerti. Ia pun berusaha mencerna apa tujuan dari ucapan Naskala. Ia tahu kalimat itu hanyalah kalimat biasa. Akan tetapi Cempaka bisa merasakan jika ada suatu maksud yang terkandung dalam ucapan tersebut.
"Memang ada apa Mas? Katakan apa tangan sebenarnya terjadi? Mas jangan memendamnya sendirian."
Naskala pun harus mencari trik lain. Dalam hati ia menangis pilu karena lagi-lagi ia harus membohongi wanita lugu di depannya.
"Seorang tentara tentunya selalu siap siaga jika ada marabahaya. Umur tidak ada yang tahu, bisa saja kita besok sudah tidak ada di dunia. Jadi kita berdoa kepada yang kuasa serta pandai menjaga diri. Apalagi Mas, nyawa adalah taruhan di dalam anggota tentara ini. Mas tidak bisa membayangkan jika suatu hari kamu hidup tanpa Mas. Mas khawatir kamu kenapa-kenapa."
Mata Cempaka berkaca-kaca mendengar ucapan Naskala. Hatinya sakit dan teramat sakit yang tak bisa dijelaskan saat Naskala menyebut itu.
Cempaka menyambar bibir suaminya dan ********** dengan sangat dalam. Air mata terus berjatuhan, Naskala yang melihat itu rasanya tak tega.
"Mas Cempaka siap menyerahkan mahkota Cempaka kepada Mas."
Naskala ternganga dan tao bisa berkata-kata. Air mata yang sedari tadi ditahan olehnya akhirnya jatuh juga.
Naskala langsung menarik tubuh Cempaka dan menjatuhkannya ke atas tempat tidur.
_________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.