Budak Ranjang Dosen

Budak Ranjang Dosen
23


__ADS_3

Tubuh Mikayla kini kembali sedikit berat, karena pagi tadi Theo terus membuat tubuhnya bergerak di bawah guyuran air shower.


“Nona apa kamu sakit?” Tanya Lili yang melihat jika Mikayla terlihat sangat lemas dan ngantuk.


“Aku hanya sedikit ngantuk, Mba Lili.” Ucap Mikayla lalu ia melebarkan senyumanya agar tidak membuat Mba Lili hawatir.


“Syukurlah, Mba kira Nona cantik kita ini sedang sakit.” Ucap Lili lagi dia kembali menyisir rambut Mikayla.


“Kay…” panggil Theo dan masuk begitu saja ke dalam kamar, ia sejak tadi menunggu wanita itu di ruang santai. Dirinya bahkan sudah selesai membaca koran dan menghabiskan dua cangkir teh hanya untuk menghilangkan bosan karena menunggu Mikayla yang sejak tadi berdandan.


Mikayla dan kedua pelayan itu menoleh ke arahnya.


“Kenapa aku harus menunggu mu berdandan sampai selama ini?!” Tanyanya dengan kesal, jika tau akan menunggu lama. Theo pasti membiarkan Mikayla mandi lebih dulu, tapi sayangnya hasratnya lebih tinggi sampai tidak mau melepaskan Mikayla mandi sendiri dan memilih mandi bersama sambil melakukan aktifitas di bawah guyuran air.


“Maaf Tuan, rambut Nona panjang dan tebal jadi saya harus mengeringkanya sedikit lebih lama.” Ucap Lili jujur, karena di banding merias wajah cantik Mikayla jauh lebih lama saat mengeringkan rambut Nonanya itu.


“Lalu bagaimana agar bisa cepat kering saat mengeringkan rambutnya?” Tanya Theo lagi karena dia tidak mau kedapanya rambut Mikayla membuatnya harus menunggu lebih lama lagi.

__ADS_1


“Satu-satunya cara hanya perlu di potong pendek.” Ucap Mba lili. Sementara Mikayla hanya menyentuh dan menatap rambut tebal dan panjangnya itu dengan bingung, karena memang dirinya pun bosan harus duduk lama hanya untuk mengeringkan rambutnya.


“Kalau begitu potong saja rambutku, Mba.” Pinta Mikayla.


“Jangan!” Bentak Theo membuat ketiga orang itu kaget, Theo menatap tajam Mikayla.


Mba Lala yang sadar dengan kemarahan tuanya dia langsung menarik saudaranya Lili untuk keluar perlahan dari kamar itu.


“Siapa yang menyuruhmu potong rambut?” Tanya Theo datar.


“Agar bapak tidak lama menungguku lagi.” Ucap Mikayla.


Tak.


Satu sentilan mendarat di jidat Mikayla sampai membuat wanita itu mengaduh sakit, Theo menarik tubuh ramping Mikayla dan menempelkanya di tubuh dirinya dengan kedua mata mereka yang saling tatap.


“Aku lebih senang kau menggeraikan rambut panjang mu saat bercinta, jadi jangan berani-berani memotong pendek rambutmu itu.” Ancam Theo.

__ADS_1


Wajah Mikayla langsung merah merona, ia sedikit menundukan wajahnya karena malu. Namun Theo menarik kembali dagu wanitanya agar kembali menatap wajahnya.


“Apa kau pernah minum alkohol?” Tanya Theo tiba-tiba membuat Mikayla kaget.


Mikayla mengangguk, dia memang sering diam-diam meminum alkohol milik Ayahnya saat beliau masih hidup.


“Kalau begitu malam ini kau harus menggantikanku minum bersama rekan bisnisku.” Ucap Theo dengan serius tanpa mau mendengar penolakan.


“Aku harus tetap sadar saat menemui mereka.” Ucap Theo lagi dengan sedikit tersenyum bahkan nyaris tak terlihat di mata Mikayla.


“Tapi pak—“ ucapanya terhenti saat telunjuk Theo menempel di bibirnya.


“Sssttt… aku tidak mau mendengar penolakan darimu. Kau hanya perlu patuh padaku jika tidak amu mendapat perlakuan kasar.” Ucap Theo jujur karena setiap mendengar penolakan dari Mikayla dia selalu ingin membuat wanita ini menderita dan menangis meminta ampun padanya.


.


To be continued…

__ADS_1


__ADS_2