Budak Ranjang Dosen

Budak Ranjang Dosen
36


__ADS_3

Ia kini menatap Theo yang berlari ke arahnya dengan tatapan sendu, Theo yang hendak marah langsung duduk di depan Mikayla.


“Pak, Kak Willy tidak sadarkan diri.” Ucap Mikayla dia terlihat hawatir.


“Jangan hawatir dia hanya tertidur karena terlalu mabuk.” Ucap Theo ahirnya berkata seperti itu karena tidak mau membuat Mikayla hawatir pada pria lain.


Theo mengekus kepala Mikayla, lalu menarik tubuh sahabatnya dan beralih ke pangkuanya.


“Tapi—“


“Jangan menyentuhnya, biar aku yang menggendongnya.” Ucap Theo saat Mikayla hendak menolong Theo agar tidak kesusahan menarik pria itu ke gendonganya, untungnya Gon langsung sigap membantu Theo menaikan Zayn ke punggung Theo.


“Sial, kau sangat menyusahkan Zayn!” Pekik Theo kesal namun dengan suara kecilnya.


Gon membantu memegangi tubuh Zayn saat Theo mulai berjalan, sementara Mikayla berjalan di belakang ketiga orang itu.


Sesampainya di depan Villa mereka berjalan melalui pintu samping agar para tamu yang sedang berpesta tidak terganggu.


“Kamu kenapa ada di sini?” Tanya Theo seingatnya dia tidak menyuruh Asisten pribadinya itu datang ke pulau ini.

__ADS_1


Dengan sigap Ronal menggantikan Theo untuk menggendong Zayn, dan masuk ke dalam kamarnya.


“Ada apa?” Tanya Theo karena Ronal tidak akan darang jika bukan hal penting.


“Neneknya Nona Mikayla dia tadi mengalami kejang dan Dokter akan langsung memajukan jadwal operasinya.” Ucap Ronal.


“Apa?! Kenapa kau tidak langsung menghubungiku?!” Pekik Theo kesal karena dengan begitu waktu tidak akan terbuang sia-sia.


“Aku sudah siapkan Yarch agar kalian berdua bergegas pulang,” ucap Ronal lagi namun Theo malah mengerukan kening nya kesal menatap Asisten pribadi yang menurutnya bodoh itu.


“Kau bidoh?” Pekik Theo lagi, “siapkan Helikopter sekarang juga!” Pekik Theo dengan segera ia keluar dari kamar Zayn untuk mencari wanitanya.


Namun ia urungkan jika tidak mendapat peruntah dari tuan nya langsung, dia tidak akan berani. Apalagi ponsel kedua orang itu tertinggal di Apartemen, membuatnya semakin frustasi.


“Kay, ayo kita pergi sekarang juga.” Ucap Theo dia langsung menarik lengan Mikayla begitu saja.


“Tunggu, besok kami akan keliling pantai.” Ucap Gon menghentikan langkah Theo.


Theo menatap Mikayla yang terlihat tidak ingin ikut pergi bersamanya.

__ADS_1


“Nanti aku akan mengajakmu ke pulau milikku, sekarang kondisi Nenek munjauh lebih penting.” Ucap Theo dengan serius, dia langsung memeluk tubuh Mikayla saat melihat reaksi Mikayla yang berubah.


Mereka bertiga pun pergi meninggalkan pulau milik Zayn, dan mendarat di atas gedung rumah sakit.


Theo terus berada di sisi Mikayla dan menggandeng lengan wanitanya selama perjalanan menuju ruang operasi. 


Mikayla duduk di depan ruang operasi dalam keadaan sedih, sejak tadi ia sudah menangis di dalam pelukan Theo. 


Hari ini pria itu tidak banyak bicara, ia hanya diam memeluk Mikayla yang menangis di dadanya.


“Hanya dia keluargaku satu-satunya…” lirih Mikayla dia lalu menatap Theo yang juga balik menatapnya. “Tolong, apapun yang terjadi selamatkan Nenekku.” Pinta Mikayla dengan tatapan yang penuh harap pada Theo.


Sementara pria itu bukan Tuhan dan juga bukan Dokter, dia sendiri hanya bisa berdoa dalam hatinya. Walaupun dia tau jika dirinya pria brengsek yang doanya tidak mungkin di kabulkan tuhan.


“Kali ini saja, tolong jangan buat wanita ini terus menangis karena Neneknya. Kembalikan kebahagiaan nya melalui Nenenk nya.” Hanya itu yang bisa terucap dari dalam hati Theo.


.


To be continued…

__ADS_1


__ADS_2