Budak Ranjang Dosen

Budak Ranjang Dosen
56


__ADS_3

Mikayla membuka selimut yang sudah menutup tubuhnya selama dua jam ini, matanya terlihat sangat bengkak.


“Aku baik-baik saja, tapi kenapa mata ku terus keluar air.” Keluh Mikayla sambil menyeka ingus yang sejak tadi membuatnya susah bernapas.


“Tapi ini sudah lewat dua jam, apa Pak Theo masih dengan artis itu?” Tanya Mikayla pada dirinya sendiri, ia pun mencari ponselnya namun tidak ia temukan di manapun di kamar itu, yang ia lihat hanya ada ipad yang tergeletak di sana.


Dengan segera ia membuka aplikasi pencarian, ia mencari informasi tentang Chelsea. Lalu kembali menangis saat melihat foto-foto cantik Chelsea.


“Kenapa dia cantik sekali? Pasti Pak Theo menyukai tubuh itu, apa lagi dadanya…” ucapanya terjeda saat Mikayla melihat dadanya sendiri yang tidak lebih besar dari milik Chelsea. Akhirnya tangisan Mikayla semakin pecah. “Punyaku kecil!” Pekiknya.


“Apa pak Theo juga menyentuh artis itu sama seperti saat dia menyentuhku?” Tanya Mikayla sambil sesegukan ia kembali berselancar di kolom perncarian itu. Namun seketika Mikayla terdiam saat sadar dengan ucapanya barusan, jika Theo menyentuh Chelsea itu artinya Theo juga pasti bercinta dengan wanita itu.


“Tidak mungkin kan dia tidak bercinta dengan orang yang di cintainya?” Pertanyaanya itu malah membuat dirinya sendiri sakit hati, dengan segera Mikayla kembali menutup tubuhnya dengan selimut dan berusaha keras memejamkan matanya.

__ADS_1


Malam itu Mikayla akhirnya bisa tertidur walau harus menunggu beberapa jam hingga akhirnya ia terlelap dengan menahan sakit di kepalanya.


Keesokan harinya tubuh Mikayla tiba-tiba merasa berat, ia melihat sosok Theo yang baru saja datang dan langsung tidur memeluk tubuhnya. Mikayla sengaja berpura-pura tidur agar tidak banyak berinteraksi dengan Dosenya.


Ia perlahan turun dan bergegas mandi dan mengganti pakaian untuk pergi ke kampusnya, Mikayla tidak mau jika Theo melihat wajahnya yang sembab dan bengkak akibat semalaman suntuk menangisi pria itu.


Di kampus Mikayla bertemu dengan Lilac sahabat satu-satunya yang selalu ada untuknya, walau begitu ia tidak memberi tahu pada sahabatnya itu jika dirinya dalam masalah.


“Aku baik-baik saja, nenekku pergi dan tinggal dengan adiknya jadi aku sedih.” Elak Mikayla dia tidak ingin membuat sahabatnya menghawatirkan dirinya.


“Ya ampun, aku kira kenapa.” Ucap Lilac, sahabatnya itu bahkan tidak tau jika Neneknya sempat berbaring lama di rumah sakit. Seperti itulah Mikayla yang memendam semuanya sendiri.


“Ngomong-ngomong, aku ingin menjodohkan mu dengan sepupu suamiku. Kamu mau tidak?” Tanya Lilac, sejak tadi pagi ia tidak sabar ingin membicarakan ini pada sahabatnya.

__ADS_1


Mikayla terdiam, lalu menundukan kepalanya ia tak kuasa menahan air matanya. Mikayla teringat kejadian semalam di mana Theo tpergi semalaman dengan wanita lain.


“Kay? Kenapa? Ada apa? Kenapa nangis?” Tanya Lilac dengan panik karen tiba-tiba sahabatnya menangis.


“Ayo duduk di sini, tarik napas mu banyak-banyak dan buang perlahan.” Ucap Lilac sambil menarik napasnya sendiri.


“Aku sepertinya mulai mencintainya.” Ucap Mikayla tiba-tiba sampai membuat Lilac kaget, karena sejak awal ia tidak tau jika Mikayla sedang dekat dengan seorang pria.


“Oh maksudmu Farel?” Tanya Lilac saat mengingat jika hanya pria itu yang sedikit dekat dengan Mikayla, walau tidak terlalu nampak akrab tapi Farel memang selalu berusaha mendekati Mikayla selama ini.


.


To be continued…

__ADS_1


__ADS_2