
Mikayla segera menutup mulutnya dengan sebelah telapak lengannya, namun Theo menarik lengan itu pelan.
“Jangan di tahan,” ucap Theo sambil kembali menekankan pinggul wanita itu, hingga sedikit membuat Mikayla menggeliat tiba-tiba karena kaget.
“Aah…” lenguhnya lagi.
“Sial!” Pekik Theo kesal karena rupanya ia tidak tahan hanya dengan bermain-naik seperti itu. Theo menggendong tubuh Mikayla dan membaringkan wanita itu di atas ranjang.
Dada Mikayla berdegup sangat cepat, ia sudah melakukanya hal seperti ini dengan Theo tapi kenapa dirinya masih merasa sangat malu dan dadanya terus berdegup kencang.
Mikayla terkejut karena Theo tiba-tiba menarik kain tipis berbentuk segi tiga yang sejak tadi melekat di bagian bawahnya.
Matanya menbelalak saat melihat wajah Theo yang tenggelam di antara dua pangkal pahanya.
“Daddyhh auhh…” lenguh Mikayla saat hendak menatrik kepala Theo, pria itu lebih dulu membuat Mikayla berdesir. Kedua kakinya meremat hebat saat merasakan hisapan kuat di pangkah pahanya. “Ssshh euh… he-hentikan!”
Tubuh Mikayla bergetar seketika dengan kepalanya mendongak ke atas, dalam hidungan detik Theo dapat membuat bangkit gejolak panas dalam diri wanita itu.
Theo mengangkat wajahnya untuk melihat reaksi wanita itu, pipi Mikayla merona dengan mata yang mulai sayu akan gairahh.
__ADS_1
Ia menyunggingkan senyuman di bibirnya, merasa puas dengan pemandangan di depanya.
Theo menatap kain tipis yang membaluti tubuh Mikayla dengan gerakan cepat ia membuang pakaian yang di kenakan wanitanya.
Theo membalikan tubuh Mikayla, bibir pria itu mencumbu punggung mulus Mikayla dengan sensual dan membuat sensasi geli di punggung wanitanya. Lenganya terulur saling menautkan jari jemari dirinya dengan Mikayla dan berbisik si telinga wanitanya.
“Bagaimana? Apa kamu masih takut bercinta denganku?” Tanya Theo dengan sebelah lenganya yang sudah menggoda inti tubuh Mikayla.
Mikayla mendongak menikmati permainan jari pria yang berada di atas punggungnya.
“Tidak Dad, tolong lakukan segera.” Pinta Mikayla.
“Ugghh!” Lenguh Theo saat memasukan miliknya, rasanya seperti tersedot dan terjepit di dalam sana.
Theo memeluk tubuh Mikayla sambil memainkan kedua dada wanita itu, bibirnya terus memberi tanda merah di antara lekuk leher dan pundaknya.
“Aahhh pelan-pelan Dad, rasanya mmm… akan meledak!” Pekik Mikayla sambil meremat sprei ranjang itu karena punggul Theo terus menghentak keras dengan tempo cepat, bahkan hentakan itu menciptakan suara semakin menbuat suasana keduanya meremang.
Keduanya menggelit hebat dengan tubuh yang bergetar, otaknya mulai kosong seperti terbang ke langit ketujuh saat sama-sama mendapatkan klimaksnya.
__ADS_1
“Eeuuhh!!!” Pekik keduanya saat mendapatkan pelepasan yang menbuat tubuh keduanya ambruk.
Nafas keduanya terengah-engah, sambil memejamkan mata bibir atheo terus mengecup punggung Mikayla dan mengelus dada wanitanya pelan.
Kini lengan wanitanya di kecup lalu kembali memeluk tubuh Mikayla.
“Bagaimana?” Tanya Theo tiba-tiba pada wanita yang sedang mengatur nafasnya. “Apa kau puas?” Tanya Theo lagi, Mikayla tidak menjawab dan masih mengatur nafasnya.
Jangankan untuk menjawab, untuk bernafas saja rasanya sangat susah karena ia seperti habis di kejar masa sampai tubuhnya benar-benar lelah.
“Sayang?” Tanya Theo ia sedikit menarik tubuh Mikayla dan menatap wajah wanita itu yang rupanya sudah tertidur.
“Sial! Lagi-lagi aku yang di tinggalkan.” Gumamnya kesal.
Theo membalikan tubuh Mikayla dan menarik selimut untuk menutubi tubuh polos wanitanya, ia kecup bibir ranum wanita itu.
.
To be continued…
__ADS_1