
Sudah hampir tiga hari Theo sama sekali tidak bisa tidur bahkan matanya terlihat seperti hewan bernama panda, Theo hampir terjatuh karena sejak tadi ia berjalan sempoyongan memaksakan diri untuk kembali mencari wanita bernama Mikayla.
Gon dengan sigap memeluk pria yang hampir terjatuh itu, selama tiga hari pula ia menemani pria yang selalu membentaknya.
“Lepaskan!” Sentak Theo sambil menepis lengan sahabatnya.
“Berhentilah berbuat bodoh seperti ini Theo! Untuk apa kamu menyiksa dirimu sendiri hanya karena kekasih bayaran mu itu.” Ucap Gon masih berushaa menyadarkan sifat bodoh sahabatnya.
“Jaga ucapanmu Gon!” Pekik Theo tidak terima, ia menatap tajam sosok pria di depannya.
“Kenapa? Aku memang mengatakan fakta yang sebenarnya, kamu tidak mencintainya jadi untuk apa kamu menyakiti dirimu sendiri hanya untuk wanita bayaran seperti dia?” Tanya Gon dan langsung di tarik paksa kerah bajunya dengan kedua lengan Theo yang tidak terima atas ucapan sahabatnya.
“Jangan pernah berani mengucapkan kata-kata seperti itu lagi di depanku!” Pekik Theo sambil mendorong tubuh Gon, Theo hendak melangkahkan kakinya lagi untuk mencari Mikayla.
Namun Gon segera menarik paksa Theo untuk masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
“Gon Sialan!” Pekiknya namun tubuhnya tidak bisa melawan pria itu, karena Theo sudah banyak ke hilangan tenaga.
“Duduk dan diamlah di sini.” Ucap Gon sambil memaksa Theo duduk di dalam mobil. “Kau harus mengisi tenaga agar bisa mencari wanita mu itu, lihatlah penampilan mu saat ini sungguh mengenaskan dan menyedihkan.” Sindirnya dengan sinis namun Theo tidak menanggapi ucapan Gon, ia menyenderkan tubuhnya di kursi mobil itu karena sudah terlalu lelah berjalan tanpa arah mencari keberadaan Mikayla.
Gon berdecak dan pergi meninggalkan Theo, ia mencari makanan yang bisa di makan pria yang sudha tiga hari ini susah makan. Bagaimana pun Gon tidak tega melihat sahabatnya tersiksa karena seorang wanita, namun bukan kah itu lebih bagus di banding Mikayla yang tersiksa, pikirnya.
Theo menatap sendu langit gelap itu, namun Theo sangat terganggu dengan suara ponsel yang sejak tadi berbunyi. Theo menatap ponsel milik Gon yang tergeletak di sampingnya, ia menatap notipikasi dari ponsel itu.
Keningnya mengerut dengan serius, Theo mengambil ponsel itu dan menatap pesan yang di kirim seseorang untuk sahabatnya.
“Iya Tuan?” Jawab Ronal di seberang sana.
“Bersiaplah, kita akan pergi menuju dermaga.” Ucap Theo lalu mematikan ponselnya. Theo keluar dari mobil itu saat melihat Gon yang berlari ke arah mobil dengan menenteng kantong kresek di tanganya.
Bugh..
__ADS_1
“Oh Shhhiit!!” Pekik Gon yang langsung tersungkur saat mendapat pukulan dari sahabatnya. Bahkan makanan yang di bawanya pun ikut berserakan di sekitarnya. “Theo apa yang kamu—“
“Kau tau tiga hari ini aku sampai gila mencari Mikayla, dan kau tau di mana dia tapi tidak memberi tahuku dan membiarkan ku seperti orang gila!” Pekik Theo dengan kesal, lalu untuk apa dia berada di sampingnya seolah sebagai pahlawan yang membantu dirinya.
Gon meringis nyeri, ia menatap ponselnya yang di lempar kepadanya. Sementara Theo dia sudah pergi begitu saja meninggalkan dirinya yang terjatuh di pinggir jalan, bahkan mobil miliknya di bawa pergi oleh Theo.
“Sungguh tega kau Theo! Meninggalakn sahabatmu pada pukul 5 pagi.” Pekiknya sambil menatap ke arah kiri dan kanan.
Gon pun segera menghubungi seseorang.
.
.
To be continued…
__ADS_1