
Theo pun mau tidak mau duduk di samping Mikayla karena Sherena memaksa mereka berdua untuk ikut bergabung.
“Kakak ingat kan? Sebelumnya kalian juga pernah bertemu, di acara ulang tahun Kak Lilac di Club.” Ucap Sherena, sejak tadi gadis berkaca mata itu berusaha mengingatkan keduanya. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab.
“Bukanya mereka datang bersama?” Ceplos Leon dengan sengaja, membuat Sherena menatap ke arahnya dan membuat Mikayla panik.
Sementara Theo hanya menatapnya dengan datar.
“Benarkah? Memangnya kalian berdua saling kenal?” Tanya Sherena lagi.
“Kami tidak sengaja bertemu di depan, dia mahasiswi di kampusku.” Ucap Theo dengan santai namun tatapan tajam terus tertuju pada Leon.
“Oh baguslah kalau kalian saling kenal, dengan begitu kita tidak perlu canggung lagi. Oh iya Kak, kenapa kakak gak bales chat aku saat minta ijin lasih nomor ponsel kak Mika buat temanku.” Ucap Sherena, karena Mikayla sudah beberapa kali tidak membalas pesanya setiap kali ia meminta ijin untuk memberikan nomor ponselnya pada temna prianya.
Theo seketika menatap ke arah Mikayla, raut wajahnya seolah meminta penjelasan dari wanita itu. Namun yang di tatap tidak kunjung menoleh ke arahnya, karena wanita itu pura-pura tidak melihatnya.
“Apa kakak sudah punya pacar? Padahal temanku itu baik, aku sangat ingin mengenalkan kakak padanya.” Ucap Sherena.
“Kamu tidak boleh memaksa orang Sherena, lebih baik kamu yang berpacaran denganya jika dia baik.” Ucap Theo akhirnya. Dia menatap kesal pada adik perempuan satu-satunya itu.
__ADS_1
“Hatiku sudah terisi pria yang jauh lebih baik dari temanku.” Ucap Sherena dengan kesal. “Dan dia tidak akan bisa tergantikan, karena aku menyukainya dari dulu.” Ucap Sherena sambil menoleh ke arah Leon yang sedang sibuk memeeiksa ponselnya.
Tak! Satu jitakan mendarat di kening Sherena, gadis itu langsung meringis ke sakitan.
“Jangan pacar-pacaran dulu Sherena!” Pekik Theo.
“Theo, berhentilah memperlakukan adik mu seperti anak kecil. Dia sudah dewasa sekarang.” Ucap Leon tidak terima. Pria itu bahkan mengelus kening adik sepupunya itu.
Sementara Theo, dia paling kesal melihat Leon yang terus bersikap baik pada adiknya. Karena sikap baik itulah yang membuat adiknya salah paham tentang perasaanya.
Theo tidak menjawab, karena adiknya pasti akan mengomeli dirinya jika pria yang dia cintai bertengkar dengan salah satu dari kedua kakaknya itu.
“Panggilan darurat.” Ucap Leon sambil menunjukan layar ponselnya pada Sherena, “aku kerja dulu.” Ucapnya sambil mengelus kepala Sherena lalu berlari keluar dari cafe itu.
“Sherena berhenti!” Pekik Theo, namun buka Sherena namanya jika mau mendengarkan ucapan kakaknya.
Theo pun menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia merasa sangat lelah memiliki adik seperti Sherena.
“Mereka sangat cocok.” Gumam Mikayla tanpa sadar. Theo pun langsung menatap ke arahnya.
__ADS_1
“Tidak boleh cocok! Mereka sepupu!” Tegas Theo.
“Memangnya kenapa jika sepupu kalau saling jatuh cinta.” Ucap Mikayla lagi, karena yanag ia tahu Sherena memang sangat mencintai kakak sepupunya itu.
“Leon tidak menyukainya, aku tidka mau adikku sakit hati oleh sepupunya sendiri.” Tegas Theo. “Lalu bagaimana denganmu? Kenapa ada pria lain yang meminta nomor ponselmu?” Tanya Theo dengan serius.
Mikayla pun memalingkan wajahnya, namun Theo menariknya kembali dengan perlahan agar tetap menatap ke arahnya. “Jawab aku!”
“Aku tidak tau, kata Sherena pria itu melihatku di club malam itu.” Ucap Mikayla.
“Ada berapa pria yang menghubungimu?”
Mikayla menggelengkan kepalanya cepat, namun Theo malah semakin curiga.
“Berikan padaku ponselmu.” Pinta Theo, namun Mikayla terlihat pura-pura tidak mendengarnya. Dengan segera Theo menarik kursi itu dan semakin merapatkan dengan kursi miliknya.
“Mikayla!” Panggi Theo dengan nada tinggi. “Apa aku harus mencium mu dulu agar—“
“Tidak perlu.” Jawab Mikayla dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya dan menarohnya di atas meja.
__ADS_1
.
To be continued…