
“Brengsek! Ku bilang cepat kejar dia! Kenapa kamu malah tidak mengejarnya?!” Tanya Theo dengan tatapan tajam pada asisten pribadinya itu.
Ronal hanya menunduk dan merasa bersalah karena tidak bisa menangkap Mikayla, namun ia sendiri senang melihat Mikayla pergi meninggalkan Theo. Karena Ronal sudah tidak tega melihat Mikayla yang terluka di antara Theo dan Chelsea, Ronal sendiri tidak tau isi hati Theo sesungguhnya.
“Maaf Tuan, aku sungguh minta maaf.” Ucap Ronal.
Theo mendelikan matanya kesal dan menatap ke sembarang arah sambil memijat pelipisnya yang terasa nyeri, Theo sendiri pusing karena memikirkan sikap Mikayla yang berani melawannya dan pusing karena hasrattnya yang tidak terpenuhi. Apalagi hatinya masih terasa panas karena rasa cemburunya pada Farel.
“Bagaimana dengan nenek? Apa Mikayla pergi ke sana?” Tanya Theo, karena beberapa saat lalu Theo menyuruh asistenya untuk mencari Mikayla di tempat neneknya berada.
Ronal menatap layar ponselnya yang kebetulan menerima kabar dari orang suruhanya.
“Nona Mikayla tidak ada di sana Tuan, nenek Ratna juga menghilang.” Ucap Ronal dengan tangan bergetar karena takut dengan reaksi pria yang kini tengah memegang pas bunga sambil menatap dirinya penuh amarah.
“Kurang ajar!” Pekik Theo sambil melempar pas bunga itu tepat di ujung kaki Ronal sampai membuat pria itu meloncat kaget.
“Bisa-bisa aku mati di sini!” Pekik Ronal dalam hatinya.
“Apa kerjamu selama ini Ronal! Mengurus dua wanita itu saja tidak becus!” Pekik Theo. “Aarrrggghh!!” Teriaknya kesal, Theo lalu menendang meja sofa single yang ada di depannya dan mengangkat tinggi pas bunga dan hendak melemparnya di atas kaca meja, namun seseorang kini berusaha mencegahnya.
__ADS_1
“Hentikan apa yang kamu lakukan, Theo?!” Ucap Gon yang tiba-tiba datang lalu menahan lengan Theo yang terangkat tinggi untuk melempar pas bunga. Theo menyiku Gon sampai tersungkur lalu melempar kuat pas bunga itu di atas kaca meja.
Prang!!
Kaca meja itu hancur dan berserakan sama seperti hatinya yang merasa hancur, Theo sungguh sakit hati melihat wanita yang sudah membuatnya berani membuka hatinya untuk wanita lain selain Chelsea malah pergi meninggalaknya dalam keadaan kacau seperti ini.
Sungguh Theo sangat murka, ia menatap Ronal dengan rahang yang mengeras dan sorot mata tajam dengan mata yang sudah mulai memerah karena menahan rasa amarahnya.
“Cepat cari dia sampai dapat! Dan—“ ucapanya di jeda lalu ia menatap ke arah Ronal dengan tajam. “Jangan berani menampakan wajah mu di depan ku jika tidak menemukan Mikayla dan Neneknya!” Pekik Theo dengan wajah murkanya.
Ronal mengangguk sambil menggidik ngeri, hanya dengan tatapan tajam pria itu saja sampai membuat Ronal merasa merinding. Ia bergegas pergi dan meninggalakn pria yang saat ini sedang di balut emosi.
“Ada apa kenapa kamu marah sampai seperti ini, Theo?” Tanya Gon, walau ia kesal dengan sahabatnya itu yang sudah berani mendoorngnya namun Gon berusaha bersabar karena sahabatnya itu sedang di balut emosi.
“Pergilah jangan menggangguku.” Ucap Theo dengan nada yang sedikit lebih rendah, ia pun duduk di atas sofa sambil menyenderkan punggungnya dan menatap langit-langit di ruang kerjanya itu.
Bukanya pergi, Gon malah ikut memposisikan dirinya seperti Theo. Ia menatap langit-langit ruangan kerja sahabatnya itu sambil menghela nafasnya kasar.
“Apa kamu pernah mencintai seseorang sampai segila ini?” Tanya Theo tiba-tiba, walau dengan suara kecil Gon bisa mendengar ucapan sahabatnya itu.
__ADS_1
“Bukankah kamu memang gila?” Jawab Gon apa adanya, Theo pun menatap ke arahnya dengan tajam, Gon yang merasa di tatap langsung balik menatap sahabatnya itu. “Oh salah, kamu bodoh karena selama ini mau di tipu oleh wanita ular itu.” Ucap Gon lagi.
“Chelsea?” Tanya Theo sambil mengerutkan keningnya.
Gon heran biasanya Theo sering marah jika dia dan Zayn menjelekan Chelsea, tapi kali ini Theo malah terlihat heran.
“Tentu saja, siapa lagi wanita yang kau cintai selain Chelsea?” Tanya Gon, namun sedetik kemudian Gon menutup mulutnya sambil membelalak saat mengingat jika ada Mikayla di sisinya akhir-akhir ini. “Jangan bilang kamu sudah berpaling dari wanita ular itu?” Tanya Gon sambil menggeleng tidak percaya.
Theo hanya mengangguk sampai membuat Gon semakin terkejut lalu ia bergegas duduk di sofa yang sama dengan Theo dan menatap pria itu dengan serius.
“Ada apa?” Tanya Theo bingung namun dengan wajah risih karena di tatap selekat ini oleh sahabatnya.
“Serius? Kamu sudah bisa lepas dari wanita ular itu?” Tanya Gon lagi.
.
.
To be continued…
__ADS_1