
Mikayla yang sejak mendengar keributan di dalam kamar, ia pun mendekat dan memperhatikan Theo yang sedang marah pada Ronal dari jarak jauh.
“Nona, tolong saya.” Ucap Ronal saat menyadari kehadiran Mikayla yang berdiri di ambang pintu. Theo pun melirik ke arah belakang, di mana seorang wanita tengah berdiri di ambang pintu.
“Kay…” panggil Theo, ia segera melepas cengkraman di kerah baju asistennya. Dan berjalan gontai mendekati wanita itu, ada perasaan senang karena rupannya Mikayla tidak meninggalkan dirinya. Namun ada perasaan kecewa karena kini wanita itu berbalik membelakanginya dan hendak meninggalkan dirinya.
“Kay! Jangan pergi aku mohon.” Ucap Theo, ia bahkan terjatuh karena tidak bisa menahan bobot tubuhnya, namun tanganya berhasil meraih lengan wanitanya. “Aku janji akan melakukan apapun yang kamu inginkan, tapi aku mohon tetaplah bersamaku Kay.” Pinta Theo lagi.
Theo bahkan menurunkan go dan harga dirinya di depan Ronal, yang terpenting saat ini adalah wanitanya. Wanita yang sudah mengisi hari-harinya, mengisi otak dan pikirannya. Yang terpenting adalah hatinya, Theo sadar jika dirinya memiliki perasaan pada Mikayla.
Apalagi selama beberapa hari Mikayla menghilang, Theo takut jika wanita itu benar-benar meninggalakn dirinya dan pergi bersama pria lain.
Sungguh, saat Chelsea yang melakukannya Theo masih bisa membiarkan wanita itu berpacaran dengan pria lain. Tapi tidak dengan Mikayla, sedetik pun Theo tidak mau melihat wanitanya bersama pria lain.
Mikayla tak kunjung menjawab, ia berdiri membelakangi pria itu tanpa mau menoleh atau menatap pria yang nyaris bersujud di hadapannya.
__ADS_1
Theo menundukan kepalanya, nyeri di dadanya membuat jantungnya semakin berdegup kencang. Matanya mulai memanas menahan air yang hendak menetes dari sudut matanya.
“Maaf… aku menyesal sudah memperlakukan mu seenakku, aku mohon beri aku kesempatan ke dua.” Ucap Theo ia pun meneteskan air matanya.
Ronal yang sejak tadi berdiam diri di kamar itu menyaksikan betapa sedihnya kisah cinta Tuan nya, ia pun terhanyut dalam kesedihan yang di rasakan Tuannya.
Jantung Mikayla terus berdebar-debar sejak tadi, sejak Theo mengejar dirinya. Mendengar kata maaf dari pria itu membuat hatinya sedikit goyah, melihat pria itu menangis membuat hatinya terasa sakit.
Ia pun menoleh dan menatap Theo yang kini masih menunduk, Mikayla perlahan menurunkan tubuhnya dan mensejajarkan dengan tubuh Theo.
Theo mengangkat wajahnya untuk menatap wanitanya.
Mikayla pun menatap Theo dengan lekat, walau sedikit takut jika Theo menolak, tapi Mikayla akan tetap mencoba untuk berbicara pada dosennya itu.
“Bapak janji akan melakukan apapun?” Tanya Mikayla dengan hati-hati.
__ADS_1
Theo langsung mengangguk dengan mantap, karena mungkin ini kesempatan terakhir untuknya. Dia juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. “Iya aku janji.” Ucap Theo dengan mantap.
“Apa kontrak kita bisa di batalkan? Dan tidak ada denda di dalamnya.” Ucap Mikayla. Theo terdiam, bisa saja ia membatalkan kontrak itu. Tapi apakah Mikayla akan tetap berada di sampingnya? Atau malah meninggalkan dirinya setelah kontrak itu di batalkan, pikirnya.
“Ya kita bisa membatalkannya, tapi dengan satu syarat kamu tidak boleh pergi dariku.” Ucap Theo, dia tidak ingin membuat dirinya sendiri menderita hanya dengan syarat yang di minta Mikayla.
Karena tidak berada di sisi wanita itu sangat membuatnya frustasi dan snagat menderita.
“Kalau begitu kita bicarakan nanti.” Ucap Mikayla dan hendak berdiri.
“Jangan pergi, aku ikut.” Ucap Theo sambil menahan lengannya.
Mikayla menghela napasnya dengan kasar. “Aku hanya pergi ke dapur untuk mengambil segelas air untuk mu.” Ucap Mikayla dengan cukup sabar karena sejak tadi Theo terus meghalangi dirinya agar tidak pergi, padahal ia hanya akan pergi ke dapur dna kembali lagi.
.
__ADS_1
To be continued…
Jangan lupa tinggalkan jejak🤭