
Dada Mikayla tidak berhenti berdebar, belakangan ini Theo sering memperlakukannya dengan sangat baik bahkan pria ini selalu perhatian padanya. Mikayla masih tidak menyangka jika pria yang kini sedang mengeringkan rambutnya adalah pria yang selalu membentak dirinya.
“Sudah selesai.” Ucap Theo lalu ia melihat Mikayla dari pantulan cermin sambil merapihkan rambut wanitanya. “Cantik.” Ucapnya.
Lagi-lagi Mikayla berdebar-debar tidak karuan, padahal pujian seperti ini sudah sering ia dengar dari bibir pria ini, namun ia masih tidak bisa mengontrol jantungnya yang selalu berdebar di dekatnya.
“Bolehkah aku salah paham?” Tanya Mikayla namun hanya dalam hatinya karena wanita itu tidak berani bertanya, karena ia sadar dirinya hanya sebatas teman tidurnya.
Theo tiba-tiba terdiam saat menerima panggilan masuk, ia menatap layar ponsel itu dengan tatapan datar.
“Aku angkat telpon dulu.” Ucap Theo, Mikayla hanya mengangguk lalu menatap kepergian pria itu.
Entah mengapa Mikayla merasa sedih saat melihat Theo meninggalkanya, ia sudah terbiasa dengan kehadiran pria itu.
“Mikayla! Kamu harus tetap waras!” Pekiknya, karena perjanjian hanyalah perjanjian. Dia tidak boleh berharap lebih dan serakah seperti beberapa saat lalu saat dirinya ingin kembali menarik lengan pria itu untuk tidak pergi menerima panggilan telpon.
__ADS_1
Sementara Theo kini berjalan menuju ruang kerjanya, ia menatap layar ponselnya yang masih berdering.
“Tuan.” Ucap Ronal yang sejak tadi menunggunya di ruang kerja priabadi Tuan nya. Ronal menatap Theo yang melempar benda pipih itu di atas meja.
“Bagaimana? Apa dia sudah di campakan?” Tanya Theo pada asisten pribadinya itu sambil menunjuk ponsel yang sedang bergetar.
Ronal melihat ada panggilan dari Chelsea di ponsel Tuan nya, ia pun menganggukan kepalanya.
“Alex tidak benar-benar memacari nona Chelsea, hari ini ia hanya mengantarkan nona Chlesea pulang lalu ia sendiri pergi ke Club dan di temani banyak wanita di sana.” Ucap Ronal. Theo selama ini menyuruh Ronal untuk mengintai semua pergerakan wanita itu, di manapun dan apapun yang dia lakukan.
“Tuan, apa anda tidak akan menerima panggilan dari nona Chelsea?” Tanya Ronal, karena tidak biasanya Theo tidak menerima panggilan dari wanita itu.
Theo pun menatap ke arah Ronal, dan menyunggingkan sebelah bibirnya. “Aku tidak suka wanita bekas.” Gumam Theo sangat pelan, nyaris tak terdengar di telinga Ronal.
“Jadi maksud anda? Anda akan mulai mencampakan nona Chelsea?” Tanya Ronal dengan wajah antusiasnya, ia sungguh berharap jika ucapanya benar.
__ADS_1
Theo malah menatap tajam ke arahnya, Ronal pun langsung terdiam sambil menelan salivanya susah.
“Aku tidak bilang begitu.” Jawab Theo singkat. “Besok kita akan menjemput Nenek untuk tinggal di sini, jadi persiapkan kamar untuknya.”
“Tentang itu, Nenek Ratna bilang jika ia ingin pergi ke rumah adiknya dan tinggal di sana untuk beberapa waktu.” Ucap Ronal karena pria ini yang juga bertugas memenuhi setiap kebutuhan Nenek Ratna, Ronal bahkan sering banyak berbincang dengan wanita paruh baya itu.
“Kalau begitu besok kita antarkan nenek ke tempat adiknya.” Ucap Theo dia langsung berdiri untuk kembali menemui Mikayla.
“Tapi Tuan.”
“Apa lagi?!”
“Besok anda harus menghadiri acara…” ucap Ronal yang langsung terdiam saat melihat tatapan mata tajam dari tuanya. “Pesta ulang tahun pernikahan tuan Abraham, dia meminta anda datang dengan pasangan mu.”
.
__ADS_1
To be continued…