Budak Ranjang Dosen

Budak Ranjang Dosen
42


__ADS_3

Theo mengulum senyumnya, akhirnya ia bisa berduaan dengan Mikayla karena kini mereka sedang menuju apartement. Namun seketika matanya mantap kesal Ke arah Ronal yang sedang mengendarai mobil.


“Ronal, kau tau kan kalau aku suka minum teh di pagi hari?” Tanya Theo. Ronal yang merasa dirinya di panggil langsung menoleh ke arah kaca spion.


“Iya tuan, saya tau.” Jawab Ronal bingung karena tidak biasanya Theo membicarakan hal sepele seperti itu.


Theo tersenyum lalu perlahan menoleh ke arah Mikayla yang sejak tadi tidak bersuara, Theo mengerutkan keningnya karena wanita itu pokus menatap ke arah luar jendela.


Theo menarik pinggang Mikayla sampai membuat wanita itu menatap ke arahnya dengan wajah kaget. “Jangan menatap ke luar terus.” Ucap Theo tanpa mengalihkan lengan yang ada di pinggang wanita itu.


“Aku juga suka roti, kau tau kan?” Tanya Theo pada Ronal.


Ronal yang tidak tau, dia hanya mengangguk-ngangguk dengan canggung.


“Roti rasa cokelat.” Lanjutnya lagi. Mikayla yang tidak mengerti maksud Theo dia malah menatap lurus ke depan. Karena di otaknya cuma ada satu, yaitu kesembuhan neneknya.


Dia juga berpikir bagaimana caranya agar segera memiliki hunian, karena cepat atau lambat nenek harus keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


“Ronal ku bilang aku juga suka roti cokelat,” pekik Theo karena Mikayla sama sekali tidak meladeni ucapanya.


“Iya Tuan, saya tau. Kalau Nona Mikayla biasa makan roti apa?” Tanya Ronal yang sedikit lebih paham sorot mata pria itu.


Mikayla yang di tanya pun seketika menoleh ke arahnya. “Aku? Aku suka roti cokelat.” Ucap Mikayla bingung arah topik pembicaraan mereka, karena sebelumnya ia sama sekali tidak mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


“Wah anda sangat berjodoh dengan Tuan Theo, dia juga suka dengan roti isi cokelat.” Ucap Ronal dengan tertawa yang terkesan di paksakan.


“Benarkah?” Tanya Mikayla kaget dia menatap ke arah Theo yang sejak tadi menatapnya.


“Apa yang mengganjal di pikiranmu?” Tanya Theo sambil mencolek hidung mancung wanitanya.


“Aku kekasihmu, jangan terus memanggilku pak.” Ucap Theo lalu menautkan rambut Mikayla di balik telinganya. “Nenek mu pasti cepat pulih, kamu sekarang mulai pokus lah kuliah jangan sampai mengecewakanya.” Ucap  Theo.


Mikayla langsung mengangguk sambil tersenyum ke arah pria yang kini semakin mendekatkan tubuh keduanya.


Mikayla membisu, tubuhnya menegang saat bibir tebal itu menempel di bibirnya, lengan Mikayla berada di kedua dada bidang Theo.

__ADS_1


Theo menarik lebih erat lagi tubuh Mikayla sampai membuat wanita itu sulit bernafas dengan jarak yang sangat dekat, lidah pria itu masuk menyelinap kedalam rongga mulut Mikayla. 


“Aahhh…” lenguh Mikayla saat lidahnya di gigit kecil Theo, sementara di depan sana Ronal sampai susah menelan salivanya. 


Matanya berkali-kali curi-curi pandang pada  spion mobil di bagian dalam, ia bahkan langsung memutar arah spion itu karena matanya tidak bisa berdiam diri untuk lurus maju kedepan.


“Jangan melamun saat bersamaku, katakan apa yang membuat mu jadi melamun?” Tanya Theo dia tidak mau jika raga wanita ini ada di sampingnya, namun pikiranya berkelana pada hal lain selain dirinya.


Mikayla menunduk sambil menggigit bibir bawahnya, Theo pun menarik dagu Mikayla agar kembali menatap ke arahnya. 


Theo melu-mat bibir Mikayla sampai beberapa detik, lalu kembali menatapnya dengan serius.


“Katakan, sebelum aku memaksamu untuk bicara.” Ucap Theo dia semakin hawatir dengan wanitanya ini. 


Apalagi jika yang Mikayla pikirkan adalah Zayn, Theo sudah pasti tidak akan rela membiarkan Mikayla memikirkan sahabatnya itu.


.

__ADS_1


To be continued…


__ADS_2