
“Kau!” Pekik Theo hendak memukul sepupunya itu namun pandanganya beralih pada seseorang yang sejak tadi berdiri di ambang pintu.
“Kay…” lirih Theo. Ia pun berjalan mendekati Mikayla dengan perlahan.
“Jangan mendekat.” Ucap Mikayla sambil melangkah mundur. Wajahnya terlihat sedih dan benci bercampur aduk. Hatinya terasa tersayat, saat mendengar ucapan sepupu pria yang kini mendekatinya.
“Kay kamu salah paham, aku bisa jelaskan ini.” Ucap Theo sambil masuk kedalam kamar itu.
Mikayla menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.
“Tidak perlu, aku sadar sejak awal aku hanya pemuas nafsuu mu saja. Aku masih tau diri agar tidak jatuh cinta padamu.” Ucap Mikayla dengan sedikit histeris, ia berkata seolah memang tidka mencintai Theo, namun hatinya terluka oleh ucapanya sendiri.
“Kay jangan katakan seperti itu! Sejak awal memang salah ku, tapi itu dulu sebelum aku jatuh cinta padamu.” Ucap Theo akhirnya ia berkata jujur. Theo sebenarnya tidka mau mengungkapkan isi hatinya pada situasi seperti ini, namun kondisi yang mengahruskan dirinya mengucapkan kata itu.
__ADS_1
“Bohong!” Pekik Mikayla sambil melepar bantal yang ada di sampingnya. “Kau berbohong! Aku benci kamu! Aku benci!” Pekik Mikayla kesal, ia bahkan samapi berteriak dan memejamkan matanya.
Dada Theo terasa nyeri saat mendengar jika Mikayla membencinya, apa wanitanya sebenci itu sampai lebih memilih menenggelamkan dirinyadi dalam laut dari pada hidup bersamanya.
Theo segera memeluk Mikayla yang mulai histeris melapar-lemoar barang yang ada di sampingnya. Tubuhnya terduduk di atas lantai dengan Theo yang berusaha menahan tubuh Mikayla yang memberontak.
“Aku mohon dengarkan aku, Kay.” Ucap Theo sambil memeluk tubuh Mikayla dengan sangat erat. “Aku sangat mencintaimu Kay, aku mencintamu.” Ucap Theo, dia pun menangis di dalam pelukan Mikayla.
“Tolong biarkan aku pergi, dan hiduplah dengan bahagia bersama wanita yang selama ini kamu cintai.” Pinta Miakyla, ia berushaa menatap wajah Theo yang juga penuh dengan air mata di pipinya.
Theo menggeleng. “Tidak ada wanita yang ku cintai selain kamu, aku bisa gila jika kamu kembali menghilang Kay. Aku mohon tetap lah di sisiku.” Pinta Theo, ia bajkan menghilangkan rasa gengsi dan harga dirinya untuk memohon agar wanitanya tidka meningaglakn dirinya.
Mikayla terdiam. “Aku tidak bisa menjadi wanita pengganti yang harus pergi kapanpun ketika Chelsea kembali, aku punya harga diri! Aku punya perasaan! Aku sakit hati jika terus menjadi pelampiasan kekesalanmu padanya!” Pekik Mikayla lagi, tubuhnya bahkan smaapi bergetar menahan tangisan yang mulai kembali membanjiri pipinya.
__ADS_1
Theo menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak, tidak ada Chelsea lagi dalam hatiku, di hatiku cuma ada kamu Kay, kamu seorang.” Ucap Theo dengan serius. Theo menarik wajah Mikayla dengan kedua tanganya agar menatap ke arahnya, netra keduanya saling bertemu. “Maafkan aku jika selama ini aku selalu melampiaskan semua kekesalanku padamu, aku janji Kay, aku janji tidak akan mengulanginya lagi.” Ucap Theo masih berusaha membujuk wanitanya.
“Bohong, jika tidak ada Chelsea kamu tidak mungkin bermalam denganya bahkan pagi itu pun kalian pergi bersama ke kampus.” Ucap Mikayla dengan kesal, dalam situasi seperti ini pun Theo masih membohonginya pikirnya.
“Jika kamu tidka percaya, periksa saja sendiri.” Ucap Theo sambil merogoh ponselnya yang ada di saku celananya dan memberikannya pada Mikayla.
Mikayla menatap layar ponsel itu dengan bingung, lalu menatap ke arah Theo yang terlihat snagat berantakan, bahkan wajahnya pun terlihat tak terurus. Mikayla baru menyadari itu, saat Theo berusaha tersenyum di depannya.
“Theo!” Pekik Mikayla saat pria itu terjatuh dan tak sadarkan diri.”
.
To be continued…
__ADS_1