
Nenek Ratna menatap kesal pada seseorang yang sejak tadi terus mengikutinya, bahkan sesekali memeluk erat lengan kanannya.
“Lepaskan! Pergi sana kamu membuatku risih.” Ucap Nenek Ratna sambil menarik lengan yang kini di peluk Zayn.
“Nenek ayolah aku rindu padamu.” Ucap Zayn dengan manja, dia sengaja menyuruh seseorang untuk membawa Nenek Ratna pergi dari kediaman saudaranya.
Karena Zayn tidak sebodoh itu membuarkan Mikayla tinggal di tempat yang dapat di ketahui oleh sahabatnya itu.
“Aku tidak rindu, aku membencimu.” Ucap Nenek Ratna sambil memalingkan wajahnya kesal, sejujurnya Ratna sangat tindu dengan perlakuan Zayn yang selalu membuatnya nyaman sedari dulu.
“Aku tau itu, karena memang keluargaku yang salah. Karena itulah aku ada di sini, aku akan menebus semua kesalahan keluargaku.” Ucap Zayn dengan percaya diri, ia lalu meletakan beberapa kue yang paling di sukai oleh Nenek Ratna.
Mikayla hanya tersenyum sambil mengisi perutnya dengan beberapa cemilan, Mikayla sejak sejam lalu terus tersenyum melihat tingkah Neneknya yang selalu menolak nerdekatan dengan Zayn dan juga Zayn yang selalu mencari perhatian sang Nenek.
__ADS_1
“Pergilah, sekeras apapun kamu berusaha aku tidak akan mengijinkan mu mendekati cucuku.” Ucap Nenek Ratna karena dia sendiri sudah mendapatkan calon untuk cucunya.
Zayn terdiam, dadanya terasa tersayat mendengar ucapan itu, tapi tujuanya bukan hanya mendapatkan Mikayla. Dari dalam hatinya yang paling dalam Zayn juga kembali seperti dulu dimana dia dan Nenek Ratih kembali dekat.
“Aku tau, tapi tolong setidak nya terima niat baikku untuk mengurus kalian berdua dengan baik.” Ucap Zayn dengan nada hampir tidak bersemangat karena selama satu jam lalu mereka bertemu, Nenek Ratna terus bersikap dingin padanya.
Nenek Ratna berdiri. “Sudah ku bilang aku benci tempat ini.” Ucap Nenek Ratna jujur karena pulau ini mengingatkan dirinya pada saat-saat di mana keluarganya dekat dengan keluarga William.
Zayn menunduk lemas, sepertinya sidah tidak ada harapan untuknya pikir Zayn.
Zayn tersenyum sambil mengangkat wajahnya untuk menatap ke arah Mikayla.
“Sepertinya ada kesempatan untuk Kak Zayn.” Ucap Mikayla, ia berusaha menyemangati pria yang hampir menyerah itu.
__ADS_1
Zayn mengangguk. Tunggu aku nek, biar aku menyiapkan kasur yang nyaman untuk mu.” Ucapnya sambil berlari menyusul Nenek Ratna.
Mikayla hanya tersenyum menatap kepergian kedua orang yang sejak tadi snagat berisik smapai membuat dirinya lupa jika sedang bersedih.
Nenerapa jam lalu Zayn menceritakan semua kejadian di masa lalu, dan Mikayla menyetujui saat Zayn meminta ijin untuk membawa Nenek pergi karena ingin memperbaiki hubungan mereka.
Mikayla lalu melipat kedua lenganya di atas meja dan menyenderkan kepalanya di atas kedua tanganya. Fikiranya kembali teringat pada pria yang selalu membuatnya sakit hati.
“Apa dia sedang bersama Chelsea?” Tanya Mikayla pada dedaunan yang ia tatap. “Aku merindukan pria brengsek itu.” Ucapnya jujur, walau sering menyakitinya. Hati nya tidak dapat di pungkiri jika dirinya sedang merindukan pria yang mungkin saja sedang bersenang-senang dengan wanita lain.
“Tapi dia tidak mungkin merindukanku, kan?” Ucap Mikayla sambil meneteskan pelan cairan bening yang sudah tidak dapat di bendung lagi.
.
__ADS_1
To be continued…