Budak Ranjang Dosen

Budak Ranjang Dosen
37


__ADS_3

Operasi berjalan dengan lancar, namun Nenek tak kunjung sadarkan diri ia kembali di rawat di kamar inap dengan berbagai jenis alat yang menempel di tubuhnya.


“Ayo makanlah dulu, jangan membuat Nenek sedih karena kamu tidak mau makan Kay.” Ucap Theo, sejak tadi ia membujuk Mikayla yang susah makan karena terus bersedih.


Mikayla menggelengkan kepalanya dan hanya menatap sendok yang ada di depan wajahnya,  Theo pun kembali menghela nafasnya.


Ia meletakan kembali sendok itu lalu mengangkat tubuh Mikayla ke pangkuanya.


“Pak, apa yang bapak lakukan?” Tanya Mikayla dengan wajah terkejut, karena berpikir jika Theo akan mengajaknya bercinta di depan Neneknya yang sedang tidak sadarkan diri.


“Diamlah,” ucap Theo dia memeluk wanita itu. “Menangislah jika kamu belum puas menangis, tapi setelah itu kamu harus makan. Nenek mu pasti tidak suka jika cucunya tidak mengurus dirinya dengan baik.” Ucap Teho sambil mengelus-elus punggung wanita itu.


Mikayla hanya memejamkan matanya, ia menikmati sentuhan yang Theo berikan. Pundak yang selama ini ia cari untuk bersandar, akhirnya ia dapatkan.


Theo sejak tadi berucap bagaimana pun caranya ia berjanji akan membuat Neneknya bangun, walau Mikayla tidak mempercayai ucapan pria itu karena hidup matinya seseorang ada di tangan Tuhan. Ia tetap menghargai niat baik dosennya itu, Mikayla bahkan tidak tau jika ada sisi Theo yang lembut.


“Princess…” lirih Nenek Ratna saat pertama kali membuka matanya.


Mikayla dan Theo terkejut, mereka berdua langsung saling menjauh dan segera mendekat ke arah ranjang pasien.

__ADS_1


“Nenek? Nenek ini Kayla.” Ucap Mikayla dengan wajah sendu dengan bibir yang tersenyum. Ia menggenggam dan menciumi lengan Neneknya, sementara Theo ia segera memencet tombol untuk memanggil Dokter.


“Kayla, kamu baik-baik saja Nak?” Tanya Nenek Ratna dengan suara yang masih terdengar lemas dan pelan.


Mikayla menangis bukan karena sedih, ia sangat bahagia akhirnya bisa melihat neneknya kembali membuka matanya.


“Iya. Kayla baik-baik saja Nek. Nenek jangan memikirkan apapun.” Ucap Mikayla wajahnya mendekati wanita paruh baya itu untuk menciumi pipi Neneknya.


Tiba-tiba Dokter berdatangan, setelah mendengar alarm dari ruangan VVIP ini mereka langsung memeriksa kondisi tubuh Nenek Ratna.


“Nona, tolong menunggu di luar kami akan memeriksa kondisi pasien.” Ucap salah satu perawat.


Theo langsung menarik Mikayla masuk ke dalam pelukanya, dan membawa wanita itu keluar dari ruangan Neneknya.


Beberapa waktu kemudian Dokter mengijinkan Mikayla dan Theo masuk ke dalam karena kondiri Nenek yang sudah lebih baik.


“Nek. Aku kangen.” Ucap Mikayla ia memeluk wanita tua yang sedang berbaring lemah di atas ranjang.


Nenek Ratna meneteskan air matanya, ia sangat rindu dengan cucunya. Namun matanya terus menatap sosok pria yang baru pertama kali di lihatnya.

__ADS_1


“Kayla, siapa pria itu?” Tanya Nenek yang sejak tadi sangat penasaran dengan sosok Theo.


Mikayla menatap ke belakang, lalu kembali menatap ke arah Neneknya.


“Dia Dosen di kampusku, beliau yang sudah membantuku membiayai operasi Nenek.” Ucap Mikayla.


Deg!


Dada Theo terasa nyeri, entah mengapa mendengar Mikayla mengenalkan dirinya hanya sebagai Dosen nya membuat Theo merasa tidak suka.


Theo tersenyum sambil menganggukan kepalanya, Theo melihat lengan Nenek Ratna yang terulur kepadanya. Dengan sigap Theo menerima uluran tangan itu dan mendekat pada wanita tua yang berbaring lemah.


“Terima kasih banyak, Nak.” Ucap Nenek sambil menggenggam erat lengan Theo.


Mikayla hanya diam itu, ia sedikit takut dengan reaksi yang akan di berikan Theo.


“Aku senang bisa membantu muridku sendiri, Nenek tidak perlu memikirkan apapun. Nenek hanya perlu kembali sehat agar cucu mu tidak sedih lagi.” Ucap Theo ia sekilah menoleh ke arah Mikayla.


Mikayla bisa sedikit lebih lega saat melihat reaksi normal Theo, setidaknya di depan Neneknya.

__ADS_1


.


To be continued…


__ADS_2