
“Tuan anda sedang apa?” Tanya Ronal yang baru saja datang ke ruangan Theo, dia terkejut melihat posisi Theo yang terduduk di atas lantai sambil merapihkan celananya yang tadi sempat terbuka.
Namun karena ada hal yang jauh lebih penting asisten pribadinya itu tidak memberikan waktu pada Theo untuk menjawab, di lihat dari pertanyaan Ronal setelahnya.
“Saya melihat Nona Mikayla menangis sambil berlari, apa yang terjadi?” Tanya Ronal, pria itu jelas terlihat hawatir karena ia tau betapa jahatnya sifat Theo pada Mikayla walau sebelumnya Theo sempat bersikap baik, namun tetap saja tidak ada yang tau jika Theo akan kembali seperti sebelumnya.
Theo menatap ke sumber suara dengan posisi yang sama. “Dasar bodoh! Kenapa kau malah ke sini! Cepat kejar Mikayla!” Pekik Theo dengan raut wajah emosi.
Ronal yang mendengar itu pun bergegas berlari untuk mencari Mikayla, sementara Theo ia segera bangkit dari duduknya walau kedua kakinya terasa nyeri apalagi di bagian bokongnya. Ia menendang sofa dengan kesal melampiaskan amarah yang sejak tadi terpendam.
“Beraninya kamu melawanku, Kay!” Ucap Theo dengan sorot mata tajam, lenganya mengepal dengan sangat erat.
.
.
Mikayla terus berlari, ia bahkan tidak memperdulikan alas kaki yang sejak tadi di pakainya terlepas begitu saja.
Mobil mewah berwarna hitam tiba-tiba menghentikan langkah kaki Mikayla karena tiba-tiba berbelok dan menghalangi jalan wanita itu, dada Mikayla semakin berdebar karena ia kira secepat itu Theo menemukan dirinya.
__ADS_1
Dengan cepat wanita itu berbalik arah, namun lagi-lagi langkahnya terhenti saat lenganya di tahan oleh seseorang.
“Lepaskan! Aku tidak mau lagi melihat waj—“ ucapan Mikayla terhenti saat ia berbalik untuk melihat wajah Theo.
“Princes…” lirih Zayn.
Zayn sangat terkejut melihat eajah Mikayla yang sangat sembab dan memerah dengan air mata yang membasahi wajahnya.
“Kak Zayn?”
“Mau kemana?” Tanya Zayn tiba-tiba sampai menyadarkan Mikayla yang sempat terdiam untuk sesaat.
“Biar aku yang antar, kemana kamu pergi.” Ucap Zayn dengan nada tinggi agar wanita itu mendengar ucapan Zayn karena banyak suara bising dari kendaraan yang berlalu lalang.
Tanpa pikir panjang Mikayla berbalik dan segera berlari ke mobil milik Zayn tanpa memperdulikan Zayn yang masih terlihat bingung dan hanya menatap setiap pergerakanya.
Zayn pun tersenyum saat melihat Mikyala masuk ke dalam mobilnya dan segera memasuki mobilnya.
“Kamu ingin pergi ke mana Kay?” Tanya Zayn, walau ia sangat ingin tau apa yang terjadi pada wanita itu. Zayn berusaha bersikap biasa agar Mikayla tidak merasa risih kepadanya.
__ADS_1
“Aku ingin pergi menemui nenekku.” Ucap Mikayla. Zayn pun langsung mengendarai mobilnya saat Mikayla menyebutkan alamat tujuanya.
Peia itu tidak banyak bicara, dia membiarkan Mikayla agar bisa menenangkan dirinya sendiri. Tapi sat lu yang Zayn tau, Mikayla menangis karena Theo.
Zayn sempat melihat Mikayla keluar dari ruangan Theo sambil menangis, ia bahkan memanggil eanita itu namun karena terlalu pokus berlari sampai membuat Mikayla tidak menyadari jika Zayn ikut berlari menyusul dirinya.
Zayn mengulurkan lenganya untuk meraih pucuk kepala Mikayla, ia mengusap lembut rambut eanita cantik itu sampai membuat Mikayla yang sejak tadi menatap langit melalui jendeka mobil kini berali menatap ke arah pria yang sejak tadi Mikayla hiraukan.
“Apa aku terlihat jelek?” Pertanyaan seperti itu tiba-tiba keluar dari bibir eanita mungil di depanya sampai membuat Zayn terkekeh sendiri.
“Mau sesembab apapun wajahmu, kamu tetap cantik Kay.” Ucap Zayn, ia menarik lenganya agar tidka terus menyentuh wanita itu.
Zayn tidak mau membuat Mikayla merasa risih berada di sampingnya.
“Aku takut nenek hawatir saat melihat wajah sembab ku.” Ucap Mikayla. Zayn pun menoleh ke arahnya.
.
.
__ADS_1
To be continued…