
Chelsea berteriak memanggil nama kekasihnya tepat saat ia sampai di parkiran khusus tamu VVIP, ia menatap tajam ke arah Alex dengan penuh amarah.
“Apa lagi Chel? Aku ingin pulang.” Ucap Alex dengan kesal, ia tidak jadi masuk ke dalam mobil dan kembali menatap ke arah Chelsea.
“Aku tanya padamu! kenapa kamu bilang jika pertemuan ke tiga kalian berdua berjodoh?!” Pekik Chelsea dengan kesal. “Apa bagusnya wanita itu?” Tanya Chelsea lagi. Karena yang dia tau wanita yang di sebut kekasihnya Theo itu tidak lebih cantik dari dirinya, Chelsea juga heran kenapa Theo mau berpacaran dengan wanita seperti itu.
“Iya, dia cantik natural tanpa make up tebal sepertimu.” Ceplos Alex jujur. Chelsea membelalakan matanya dengan penuh amarah, ia tidak terima dengan ucapan Alex.
“Aku ini cantik! Aku juga kekasihmu! Apa kamu pikun Alex!” Pekik Chelsea kesal.
“Ah iya. Aku lupa jika kita pasangan kekasih.” Gumam Alex semakin membuat Chelsea kesal.
“Alex! Apa kamu sadar apa yang kamu ucapkan, kamu tidak menghargaiku sebagai kekasih!”
__ADS_1
“Aku? Menghargaimu? Chelsea, aku tau jika kamu cemburu pada pria itu kan? Siapa dia? Katakan saja apa dia peia yang kamu cintai?” Tanya Alex balik menyerang wanita itu, Alex bisa saja memutuskan Chelsea hanya dengan sebuah kalimat ‘putus’ tapi wanita seperti ini pasti tidak tahu diri dengan tetap mengejarnya. Karena itulah Alex lebih memilih berdebat untuk mengakhiri hubungan dengan wanita ular ini.
Chelsea tertegun, ia tidak mengira jika Alex akan mengetahui perasaanya terhadap Theo, dia bergegas memeluk kekasihnya.
“Sayang, kamu pasti salah paham. Aku tidak mengenalnya.” Ucap Chelsea dengan wajah sedihnya.
“Aku tidak peduli, aku ingin putus dengan mu!” Ucap Alex, ia sudah sangat muak melihat rayuan maut wanita ini yang ujung-ujungnya hanya mengarah ke hubungan intim.
Untuk apa dia berpacaran dengan Alex jika ujungnya dia hanya akan merusak citranya sendiri, ia mendekati Alex agar citranya di indrustri perfilman semakin melejit, tapi apa ini? Dia malah meminta putus sebelum cintranya naik lebih tinggi.
“Hah! Kau masih sempat memikirkan itu? Aku bahkan sudah muak dengan mu Chelsea! Aku muak aku sudah tidak tahan lagi ingin lepas dari mu!” Pekik Alex sambil meremat rambut di kepalanya dengan kesal karena rasa gatal ingin menampar wanita ini.
Alex tidak peduli jika kakaknya akan marah padanya karena memutuskan wanita ini di pertengahan rencananya. Rasa muaknya sudah terlalu besar pada Chelsea yang terus menempel di hidupnya.
__ADS_1
Alex ingin bebas.
“A-apa maksudmu Sayang? Kau bilang kau sangat mencintaiku? Apa itu semua—“
“Bulshit!! Pergilah, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi!” Pekik Alex dia pun bergegas masuk ke dalam mobil miliknya. Tanpa peduli Chelsea yang ia tinggalkan.
“Alex!!” Pekik Chelsea, dia tidak percaya pria yang sangat romantis itu tega berkata kasar dan meninggalaknya sendirian di temapt ini.
“Sial! Dasar badjingan!! Awas kau Alex!” Pekik Chelsea dengan emosi yang sudah meluap-luap. Ia menghapus air mata buaya yang sejak tadi berusaha ia keluarkan di depan Alex untuk membuat pria itu merasa bersalah padanya, namun sayangnya Alex tidak seperti Theo yang selalu luluh karena air matanya itu.
.
To be continued…
__ADS_1