
Mikayla menatap wajah Theo, dia mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang sedang di pikirkannya. Sejujurnya Mikayla takut jika Theo malas meresponya, itu artinya ia percuma bercerita pada pria itu.
Theo menarik tubuh Mikayla agar duduk di pangkuanya, dan menatap lekat wajah cantik Mikayla.
“Apa boleh aku memakai uang yang kamu kasih untuk membellikan nenek rumah?” Tanya Mikayla pelan karena tidak mau membuat Theo marah, ia juga bingung sebenarnya uang itu untuk biaya operasi nenek dan juga membayar hutang-hutang yang di tinggalkan bibinya.
Namun Theo rupanya telah melunasi semua hutang yang ia miliki bahkan ia membiayai seluruh biaya rumah sakit neneknya.
Sebusa mungkin Theo menahan rasa senangnya, karena tidak mau terlihat di depan wanita ini. Theo sangat senang saat tau tidak ada Zayn di pikiran Mikayla, dia lalu memainkan rambut Mikayla.
“Kenapa harus cari rumah? Nenekmu bisa tinggal dengan kita.” Ucap Theo santai.
“What?!” Pekik Mikayla tidak sadar sampai membuat Theo mengerutkan keningnya.
“Kenapa?”
“Aku tidak mau nenek tau jika kita tidur bersama, dia pasti marah dna membawaku dari apartemenmu.” Ucap Mikayla.
Theo terdiam, jika benar demikian itu artinya niat baiknya untuk membuat Nenek tinggal denganya malah akan semakin membuatnya menderita.
__ADS_1
Ia langsung menoleh ke arah Ronal yang ternyata sedang melihat Theo dari kaca spion, mereka slaing tatap melalui kaca itu.
“Ronal.”
“Iya Tuan?”
“Cari rumah untuk Nenek, dan siapkan semua keperluanya.” Ucap Theo.
“Tidak, jangan pak. Aku akan mengurusnya sendiri, aku sudah terlalu banyak menyusahkanmu.” Ucap Mikayla merasa tidak enak.
Theo langsung menarik pinggang Mikayla lebih erat lagi, sampai kedua dada milik wanita itu terasa sesak.
“Kekasih kontrak.” Ucap Mikayla membenarkan ucapan Theo, namun itu hanya keluar dari batinya ia tidak berani berucap langsung di depanya.
“Jadi apa yang menjadi urusanmu, itu juga urusanku. Kamu paham?” Tanya Theo dengan jawak wajah yang sangat dekat.
Mikayla mengangguk menatap sorot mata tajam milik Theo, Theo pun mengusap pucuk kepala Mikayla.
“Anak pintar, cium aku.” Pintanya dengan datar membuat Ronal yang mendengarnya sampai menelan salivanya susah sambil menggidik ngeri.
__ADS_1
Mikayla pun mengecup bibir itu singkat, namun Theo kembali memoncongkan bibirnya karena kecupan itu saja tidak cukup.
Mikayla tersenyum lalu kembali mengecup pria itu, saat hendak berhenti Theo langsung menahan tengkuk wanitanya dan bertubi-tubi mengecup bibir wanitanya.
Bahkan kecupan itu tidak hanya di bibir wanitanya, tapi merambat juga ke bagian pipi, kening dan hidung milik Mikayla.
Mikayla yang di hujani kecupan langsung tertawa geli karena Theo sedikit menggelitiki ketiak wanita itu.
“Tuan kita sudah sampai.” Ucap Ronal sampai membuat Theo dna Mikayla seketika terdiam, mereka berdua seperti tidak sadar telah melakukan hal kekanak-kanakan seperti itu
Mikayla lebih dulu keluar dari mobil itu, sementara Theo ia menatap sinis ke arah Ronal yang sudah membuatnya kesal.
“Lebih bagus jikau kau tidak mengganggu bahkan mengintip Tuan mu, Ronal!” Ketus Theo lalu keluar dari mobil itu.
Ronal menelan salivanya susah, pria itu biasnaya slalu melibatkan dirinya dalam hal apapun termasuk urusan hati. Harusnya melihatnya sedang bermesraan pun bukan lagi masalah, karena Theo bahkan menceritakan semua hal tanpa terkecuali kepadanya.
Theo menyambar lengan Mikayla yang bergerak bebas, pria itu ingin bergandengan tangan selama perjalanan menuju unit apartemennya.
.
__ADS_1
To be continued…