Budak Ranjang Dosen

Budak Ranjang Dosen
74


__ADS_3

Ronal berdeham, kenapa dirinya malah merasa gerah melihat interaksi keduanya. Apalagi obrolan yang harusnya mereka berdua yang tau, Ronal pun membenarkan posisi duduknya yang sudah terasa tidak nyaman.


“Bagaimana dengan anda Tuan?” Tanya Ronal.


Theo pun menoleh ke arah Ronal, ia takut jika permintaannya akan di tolak oleh Mikayla.


“Aku ingin kamu menjadi kekasihku yang sah tanpa adanya kontrak.” Ucap Theo tanpa mau menatap ke arah Mikayla, ia hanya menatap tajam Ronal.


Mikayla yang sejak tadi menatap Theo pun terkejut, dadanya bergerumuh. Ia tidak menyangka jika Theo akan meminta hal seperti itu.


“Bukan hal yang susah, aku bisa melakukannya.” Ucap Mikayla sampai membuat Theo menatap ke arahnya dengan tatapan serius.


“Pacaran beneran Kay, bukan kontrak seperti kemarin.” Ucap Theo memastikan jika Mikayla mengerti permintaannya.


“Ya aku tau.” Ucap Mikayla lagi.

__ADS_1


“Ma-maksudmu, jadi sekarang kita pacaran?” Tanya Theo lagi untuk memastikan.


“Iya.” Ucap Mikayla singkat, Theo pun tersenyum sennag dan hendak memeluk wanitanya. Namun dengan sigap Mikayla menahan dengan lengannya.


Theo mengerutkan keningnya bingung.


“Aku memang kekasihmu, tapi kamu tidak bisa seenaknya melakukan apapun padaku termasuk sikap kasarmu itu.” Ucap Mikayla, dia tidak mau jika Theo masih bersikap seenaknya kepada tubuhnya.


“Lalu aku tidak bisa memelukmu?” Tanya Theo dengan wajah sedihnya.


“Selagi kamu meminta ijin padaku akan aku pertimbangkan.” Ucap Mikayla, padahal dalam hatinya ia sangat ingin tertawa melihat Theo yang tidak bisa berkutik.


“Sebaiknya kita bakar kontrak ini sekarang juga.” Ucap Ronal yang sudah tidak tahan dengan drama di depannya ini.


“Ya bakarlah lalu segera pergi dari hadapanku.” Ucap Theo dengan sinis. Jika bukan di depan Mikayla dia pasti sudah memecat asisten sialannya itu yang sudah berlaku tidak sopan di depannya.

__ADS_1


Mikayla, Theo dan Ronal pun bisa bernapas dengan lega saat membakar kontrak itu, Ronal yang sudah tak tahan ingin segera pergi dari tempat yang membuatnya sesak pun akhirnya bisa pergi juga.


Kini hanya tinggal kedua orang itu, Theo menatap ke arah Mikayla. Mereka berdua sedikit canggung, perlahan tangan Theo mendekati tangan Mikayla yang ada di atas sofa. Kelingking pria itu perlahan menyentuh kelingking Mikayla.


“Kay, apa aku boleh memelukmu?” Tanya Theo. “Sebagai tanda jadi kita.” Lanjutnya lagi.


Entah mengapa Mikayla malah geli sendiri mendengar Theo yang meminta ijin terlebih dulu kepadanya, namun ia senang karena itu artinya pria di hadapannya bisa menghormati apa yang menjadi keputusannya.


Mikayla hanya mengangguk sambil mengulum senyum, Theo pun langsung menarik tubuh itu dan memeluk Mikayla dengan sangat erat.


Jujur Mikayla bahagia, ia senang karena bisa berpacaran dengan Theo. Pria yang tanpa sadar sudah di sukainya, entah kapan namun yang pasti Mikayla juga merasakan hal yang sama dengan pria itu ‘Tidak mau berpisah satu sama lain’.


Apalagi saat melihat isi galeri Theo yang ternyata memang tidak ada sesuatu yang aneh selain hanya terisi photo dan vidio dirinya, apalagi saat mendengar cerita dari Ronal jika Theo hanya di buat Chelsea sebagai pelariannya saja membuat Mikayla tidak rela membiarkan Chelsea mendekati Theo lagi.


“Kali ini aku yang akan membuatmu tak bisa lepas dariku.” Ucap Mikayla dalam hatinya.

__ADS_1


.


To be continued…


__ADS_2