
Theo duduk di ruang keluarga di apartemen nya saat sudah memastikan jika wanitanya sedang tertidur, ia kini sedang menatap serius layar ponsel milik Mikayla.
Keningnya mengerut saat melihat satu per satu pesan yang ada di ponsel wanitanya itu, dan berkali-kali mendengus saat membaca modus para buaya darat itu.
“Bilang saja jika ingin berdekatan dengan Kayla, malah beralasan ingin belajar bareng!” Pekik Theo, ia emosi melihat pesan dari salah satu mahasiswa nya yang sudah pasti Theo tidak mengingatnya. Karena Theo hanya mengingat mahasiswa/i yang pintar saja.
“Apa lagi ini? Pake alasan nyogok Kayla dengan makanan, padahal tidak mampu! Jangan berani mendekatinya!” Pekik Theo kesal.
Theo lalu mencari-cari orang yang mengaku dirinya Alex di ponsel itu, Theo tidak mau jika aktris superstar itu jadi saingan terberatnya. Sebelum itu terjadi Theo harus lebih dulu membasmi wabah seperti Alex, pikirnya.
Namun keningnya kembali mengerut, bukanya melihat pesan dari Alex. Ia justru melihat pesan dari salah satu mahasiswa nya lagi. Tapi yang membuatnya kesal adalah Mikayla meladeni pesan-pesan yang di kirimkan anak itu.
“Farel Nelson?” Ucap Theo lalu terdiam membaca pesan masuk di ponsel itu. Pesan biasa tapa modus dan kata-kata romantis seperti chat yang sebelumnya ia baca namun di sisi lain chat itu menunjukan kedekatan Mikayla dengan Farel.
Pesan Chat Farel dan Mikayla :
Farel : Mau Ramen?
Mikayla : Yee.. mau.
Farel : Ok.
….
Farel : pasti sudah tidur jam segini.
__ADS_1
….
Farel : Aku simpan cokelat kesukaanmu di meja biar gak bosen belajarnya.
Mikayla : Makasih :)
….
Farel : Udah makan?
Farel : Mika…
Farel : kok gak masuk kelas?
Farel : Kamu sakit?
Brak!
Theo membanting ponsel milik Mikayla dengan kesal, dadanya terasa panas membaca pesan singkat kedua orang itu.
Dengan segera ia merogoh ponselnya yang ada di kantong sakunya dan menghubungi asisten pribadinya itu.
“Iya Tuan?” Jawab Ronal dari sebrang sana.
“Cari tahu semua makanan yang di sukai Mikayla, sedetail mungkin dan jangan ada yang tersisa, bahkan makanan yang paling di bencinya pun aku harus tau.” Titah Theo pada orang yang baru bangun tidur itu.
__ADS_1
“Tuan, anda bisa langsung menanyakanya pada Nona Mikayla, dia ada di—“
“Aku menyuruhmu! Kenapa kau menyuruh aku balik!” Pekik Theo. “Catet semua tentang wanitaku! Jangan sampai ada yang tersisa dan…” Theo menatap ponsel Mikayla yang sudah tak berbentuk. “Belikan ponsel terbaru untuknya.”
“Baik Tu—“ ucapan Ronal berhenti tepat saat Theo mematikan ponselnya.
Theo yang hendak pergi untuk menemui wanitanya pun harus menghentikan langkahnya saat bel berbunyi, ia tersenyum karena mengira jika Ronal melakukan tugasnya dengan cepat namun rupanya orang lain lah yang berada di depan pintu apartemen miliknya.
Tepat saat Theo membuka pintu itu, Chelsea langsung memeluk tubuh pria yang sangat ia cintai. Chelsea menangis tersedu-sedu di pelukan Theo, ia bahkan memeluk pria itu dengan sangat erat.
“Apa hubungan kalian sudah berakhir?” Tanya Theo karena yang ia tahu jika Chelsea datang dengan air mata itu pasti karena hubungan percintaanya berakhir atau karena ia ingin meminta bantuan pada Theo.
“Dia pria brengsek, Theo. Aku membencinya…” ucap Chelsea sambil mendongak menatap wajah Theo yang biasanya menatap dengan tatapan sendu. “Hanya kamu seorang pria yang mencintaiku, kamu pria baik tidak ada yang seperti dirimu.” Ucap Chelsea, wanita itu menangis dengan terdedu-sedu.
Seolah mencurahkan isi hatinya yang sedang terluka, tanpa memperdulikan perasaan lawan bicaranya. “Aku mencintaimu Theo, aku sangat mencintaimu.” Ucap Chelsea lagi.
Deg!
Mikayla menghentikan langkahnya, dada Mikayla berdebar hebat saat melihat interaksi keduanya.
.
To be continued…
# NOTE
__ADS_1
Ini hanya cerita fiksi, kehaluan Author yang membagongkan. Jadi yang gak suka boleh skip, dan lanjutkan di novel yang kalian suka di author lain🙂