
Beberapa hari kemudian akhirnya Gilang dan Amanda sudah tiba di tanah air. Ayah, ibu, kakek dan orang tua Amanda pun ternyata datang untuk menjemput kepulangan mereka. Mereka merasa sangat senang karena akhirnya mereka bisa kembali ke negeri asalnya.
"Amanda!" pekik pekik Silvia yang melihat kedatangan anaknya.
"Ibu? ibu disini?" tanya Amanda tak percaya.
"Iya nak, sejak tadi ibu menunggumu," jawab Silvia yang sejak tadi sangat mencemaskan anaknya. Sejak mengetahui kabar anaknya akan pulang Silvia memang sengaja datang untuk menemuinya. Beberapa hari tidak bertemu membuat Silvia sangat merindukan anaknya.
Meski dulu Amanda pernah pergi ke luar negeri untuk waktu yang cukup lama, tapi entah mengapa kini Silvia sangat merindukan anaknya. Setelah anaknya menikah membuat Silvia selalu merindukan Amanda.
Sebagai orang tua, ibu mana yang tidak akan merindukan putrinya saat akan pergi ke luar negeri. Sejak mengetahui kepulangan anaknya Bu Silvia dan suaminya segera bergegas untuk menjemputnya.
Begitupun dengan Bu Risma yang sama-sama merindukan putranya. Ia dan semua keluarganya segera menjemput anaknya juga ke bandara. Sesampainya di bandara mereka menyalami orang tua mereka satu per satu.
Selesai bersalaman Gilang dan keluarga pun memutuskan untuk segera pulang karena mereka merasa lelah. Sementara orang tua Amanda pulang ke rumahnya setelah puas bertemu dengan anaknya.
"Ibu langsung pulang ke rumah ya," pamit Silvia sebelum ia berpisah menuju mobil masing-masing.
"Loh kenapa ibu tidak kerumahku dulu? Kita bawa buah tangan untuk ibu loh!" ujar Amanda yang sebenarnya merasa kecewa karena ibunya malah pulang ke rumahnya.
"Ah nanti saja, lagi pula ayahmu ada pertemuan penting nak," timpal Bu Silvia yang melihat ke arah suaminya.
"Iya sayang, besok lagi kamu main ke rumah ya!" titah Pak Arya.
"Oke yah!" jawab Amanda sembari mengangkat jempolnya sebagai tanda setuju.
Akhirnya mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Sementara Bu Silvia dan suaminya pergi menuju arah yang berbeda. Di dalam perjalanan Amanda ketiduran dibahu suaminya, mungkin karena kelelahan.
"Kasihan kamu pasti kelelahan," gumam batin Gilang yang berada disebelah Amanda sambil mengusap pucuk kepalanya.
"Ekhem.. ekhem," terdengar suara kakek yang berdehem karena pura-pura batuk. Meski duduk dikursi depan kakek tak sengaja melihat cucunya sedang mengusap istrinya.
Gilang yang kaget pun seketika salah tingkah sesaat setelah memegang kepala istrinya.
"Bagaimana dengan bulan madu kalian?" tanya Kakek Bhaskara.
"Ya begitulah kek," jawab Gilang salah tingkah. Sebenarya Gilang merasa malu ketika ditanya tentang pertanyaan seperti itu. Namun kakeknya memang selalu senang saat menggoda cucunya.
__ADS_1
"Pasti indah kan," goda kakek Bhaskara lagi.
"Ish kakek apaan sih," ujar Gilang yang merasa semakin malu karena tingkah kakeknya.
"Kakek ini dari tadi godain terus cucunya," timpal Risma yang semenjak tadi memperhatikan mereka berdua. Risma hanya tersenyum mendengar percakapan antara cucu dan kakeknya itu.
Tak terasa satu jam kemudian akhirnya mereka tiba dirumah. Semua orang sudah turun dari mobil, namun Amanda masih tertidur pulas didalam mobil. Merasa tidak tega akhirnya Gilang membopong istrinya ke dalam kamar.
Perlahan tapi pasti Gilang membopong istrinya ke dalam kamar. Namun tak berapa lama setelah Gilang menidurkan istrinya, tiba-tiba saja Amanda terbangun.
"Loh kenapa aku bisa disini?" tanya Amanda yang baru terbangun dari tidurnya.
"Kenapa kamu tidak membangunkan aku?" tambah Amanda.
"Habis aku tidak tega jika harus membangunkan kamu," jawab Gilang.
Tak berapa lama ditengah pembicaraan mereka terdengar suara orang yang mengetuk pintu.
Tok... tok...
"Nak, ayo kita makan dulu. Makanan sudah siap," ajak Risma.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua pun bergegas turun. Sementara kakek dan ayah Gilang sudah menunggu di meja makan. Sedangkan Risma masih sibuk menyajikan makanan diatas meja.
"Ibu kenapa tidak memanggilku? Aku kan bisa bantu ibu," tanya Amanda yang merasa tidak enak melihat ibu mertuanya sibuk sendiri. Sebagai menantu Amanda sangat tahu jika seharusnya ia selalu membantu pekerjaan ibu mertuanya di dapur.
"Ah tidak apa-apa nak, lagi pula kamu juga kelelahan karena baru pulang nak," jawab Risma yang selalu bersikap baik dan bijaksana.
Sebagai ibu mertua, Risma memang ibu mertua yang sangat baik. Bahkan Risma susah menganggap Amanda sebagai putrinya sendiri, karena ia tidak memiliki anak perempuan. Amanda merasa bersyukur dan beruntung mendapatkan ibu mertua yang baik seperti Risma.
"Ayo cepat kita mulai makan, sampai kapan kalian akan terus berbicara," celetuk Kakek Bhaskara yang sudah merasa kelaparan sejak tadi.
"Iya yah maaf, ayo kita makan!" ujar Risma.
Sementara ditempat lain, Silvia dan Cakra merasa kesepian saat sedang makan malam bersama. Meski sudah beberapa hari Amanda tidak bersama mereka, namun mereka masih belum terbiasa dengan keadaan ini.
Sebagai orang tuanya, mereka masih belum bisa membiasakan diri untuk melepas Amanda. Sebab biasanya setiap malam mereka selalu makan bersama. Bahkan sampai sekarang Silvia masih sangat merindukan anaknya.
__ADS_1
"Ada apa Bu?" tanya Cakra yang melihat istrinya hanya mengaduk-aduk makanan yang ada dihadapannya.
"Ah tidak apa-apa yah," jawab Silvia.
"Ayah tahu, pasti ibu sedang merindukan Amanda kan?" tebak Arya.
"Mmh, iya yah," jawab Silvia.
"Kalau begitu besok ibu main saja ke rumah Amanda. Mau menginap juga boleh," tambah Arya.
"Wah beneran yah?" tanya Silvia antusias.
"Iya beneran," jawab Arya meyakinkan.
"Ya sudah kalau begitu, besok pagi-pagi sekali ibu akan berangkat ya," tukas Silvia yang kini merasa bersemangat karena besok akan menemui anaknya.
Arya pun hanya menggeleng melihat tingkah istrinya. Sebagai seorang suami, Arya tahu betul jika istrinya masih sangat merindukan anaknya. Walaupun tadi bertemu, namun itu masih dirasa belum cukup.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Silvia sudah tiba dirumah Amanda.
Ting.. tong..
"Siapa ya ada tamu pagi-pagi begini," ujar Risma sambil bergegas menuju pintu.
"Loh jeng, kenapa tidak mengabari dulu jika akan kesini," tanya Risma yang terkejut dengan kedatangan besarnya yang tiba-tiba.
"Hehe, maaf pagi-pagi begini sudah bertamu. Tapi saya sangat merindukan Amanda," kekeh Silvia yang merasa tidak enak.
"Loh ga apa-apa jeng, kenapa harus minta maaf segala. Silahkan masuk," ajak Risma.
"Terima kasih jeng," tukas Silvia yang perlahan tapi pasti mengekor di belakang Risma.
Silvia segera duduk diruang tamu, sementara Risma memanggilkan Amanda dikamarnya.
"Amanda sayang, dibawah ada ibumu sayang," pekik Risma dari luar kamar.
"Apa ibu? Ga salah pagi-pagi seperti ini sudah datang," gumam batin Amanda.
__ADS_1
"Iya Bu sebentar," teriak Amanda setelah ia berbicara sendiri dalam hatinya.
Amanda pun segera bergegas mandi dan segera menemui ibunya yang sudah sejak tadi menunggunya.