
Berada di tempat yang baru membuat Sukma merasa terlahir kembali. Semenjak pertemuannya dengan Gilang, kini Sukma memutuskan untuk tidak meneruskan profesinya sebagai wanita penghibur.
Sukma ingin menjalani hari-harinya seperti wanita pada umumnya. Ia tidak ingin jatuh ke lubang yang sama. Cukup sudah Sukma menjalani hari-harinya yang kelam. Sukma tidak ingin mengecewakan ibunya lagi.
"Maafkan aku bu karena aku pernah membuat ibu kecewa," gumam batin Sukma yang merasa bersalah pada dirinya sendiri.
Perbuatan Sukma yang dulu seolah pelampiasan karena kehidupannya yang begitu rumit. Tapi tidak dengan kali ini, ia ingin benar-benar berhenti dari dunianya. Maka dari itu Sukma ingin mencari pekerjaan yang lain.
Sukma pun mulai membuat beberapa lamaran pekerjaan. Ijazah yang ia miliki merupakan modal yang ia punya saat ini. Kini Sukma tinggal disebuah rumah yang cukup sederhana. Rumah yang tidak terlalu besar, namun tidak terlalu kecil.
Sejak semalaman Sukma sibuk membuat beberapa buah lamaran pekerjaan. Seharian membuat membuat lamaran pekerjaan membuat Sukma merasa lelah. Akhinrya karena waktu yang sudah semakin larut Sukma pun memutuskan untuk segera berisitirahat.
Ditempat lain Amanda merasa begitu sangat bahagia dengan perannya yang baru sebagai seorang ibu. Meski Amanda tidak melahirkan anak itu tapi Amanda sangat menyanyanginya.
Ea.. Ea..
__ADS_1
"Cup.. cup.. sayang, sini mamah gendong," ujar Amanda sambil segera menggendong anaknya.
"Kenapa bangun sayang ini kan masih malam" tambah Amanda lagi.
Amanda pun mencoba memeriksa bayinya dan ternyata bayi itu buang air kecil. Bayi yang mereka beri nama Abian Mahendra. Abian yang berarti kegembiraan memang memberikan kegembiraan bagi keluarga Gilang dan Amanda.
"Ada apa sayang?" tanya Gilang dengan suara parau karena terbangun dari tidurnya.
"Abian bangun karena celananya basah sayang," jawab Amanda yang dengan telaten segera mengganti popok Abian yang basah.
"Sayang," ujar Gilang dari arah belakang yang memeluk istrinya. Meski Gilang tahu Amanda sedang menyusui anaknya, Gilang tetap saja tidak melepaskan Amanda dan malah meraba bagian Amanda yang empuk itu.
"Iya sayang jangan berisik, Abian baru saja terlelap nanti dia bangun lagi loh!" timpal Amanda.
Bukannya melepaskan pegangan tangan yang menempel pada dada Amanda, tangan Gilang justru meraba dada Amanda yang lain dari belakang.
__ADS_1
"Sayang ah," ujar Amanda yang menggelinjang.
Namun lagi-lagi Gilang malah mempererat pelukannya dan semakin membuat istrinya merasa terangsang.
"I love you," ujar Gilang sambil membisikan kata itu ditelinga Amanda.
Setelah puas meraba istrinya kini Gilang mulai mencumbu dan membelai Amanda. Hingga mereka pun melakukan apa yang biasa dilakukan oleh pasangan suami istri. Semenjak memiliki seorang bayi, Amanda mulai sibuk dengan pekerjaannya.
"Terima kasih sayang," ujar Gilang yang sudah merasa puas.
"Iya sayang sama-sama," tukas Amanda yang kini sudah merasa mengantuk.
Hari-harinya selalu ia habiskan untuk mengurus Abian putranya. Terkadang Gilang merasa cemburu karena perhatian Amanda kini teralihkan semenjak kehadiran bayi itu. Mereka hampir jarang menghabiskan waktu berdua saat ini.
Namun Amanda mencoba memberikan Gilang pengertian. Memang seperti inilah tugas sebagai seorang ibu. Meski terkadang merasa lelah namun Amanda mencoba untuk tetap memperhatikan anak dan juga suaminya.
__ADS_1