
"Oiya, dimana Amanda nak? Sejak tadi ibu tidak melihatnya?" timpal Silvia yang celingukan mencari keberadaan anaknya.
"Amanda sedang mandi bu, sebentar akan aku panggilkan. Kalian duduk saja dulu," pamit Gilang yang segera bergegas menuju kamarnya.
Gilang setengah berlari menuju kamarnya untuk mencari keberadaan istrinya. Meski sedikit khawatir namun Gilang berusaha tetap tenang dihadapan keluarganya. Ia segera bergegas masuk untuk menemui istrinya.
"Amanda," panggil Gilang sesaat setelah masuk ke dalam kamar.
"Iya Gilang, aku disini," pekik Amanda yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sini cepat cari sesuatu yang bisa membuat perut mu terlihat besar," ujar Gilang.
Gilang dan Amanda pun mencoba mencari sebuah benda yang bisa membuat perut Amanda terlihat membesar.
"Gimana kalau pakai ini," ujar Gilang sambil menunjuk pada sebuah bantal yang berukuran sedang.
"Boleh juga."
__ADS_1
Akhirnya karena kesepakatan bersama, perut Amanda dimasuki bantal agar ia terlihat sedang hamil besar. Gilang dan Amanda mencoba menutupi perutnya serapih mungkin agar lebih meyakinkan keluarganya.
Beberapa saat berkutat didalam kamar akhirnya Gilang dan Amanda bergegas keluar kamar untuk menemui keluarga besar mereka.
"Amanda sayang," pekik Silvia.
Silvia segera menghampiri anaknya karena mereka sudah sangat lama tidak bertemu. Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan, namun tidak ada kecurigaan sedikitpun dari ibunya.
Ibunya justru merasa sangat bahagia karena akhirnya anaknya sedang mengandung. Itu artinya sebentar lagi ia akan menjadi seorang nenek. Selesai berpelukan dengan ibunya, Amanda pun menyalami ayahnya dan juga kedua mertuanya serta kakek Bhaskara.
"Wah akhirnya tidak lama lagi aku akan menjadi seorang kakek buyut," ujar Bhaskara.
"Maafkan kami kek, kami terpaksa harus berbohong," gumam batin Amanda.
Tak berapa lama setelah mereka bercakap-cakap, Sukma tiba-tiba keluar dari kamarnya.
"Loh itu siapa?" tanya Risma.
__ADS_1
Semua orang tampak terkejut dan melihat ke arah Sukma dengan perut yang sama-sama besar. Sukma hanya tersenyum kikuk saat keluarga Amanda dan Gilang memperhatikannya.
"Perkenalkan ini istri temanku. Suaminya sedang bekerja di tempat yang lumayan jauh, maka dari itu dia dititipkan disini. Hari ini juga dia akan pergi dari sini, tapi dia akan tinggal sendiri dirumahnya," timpal Gilang yang segera menjelaskan kepada keluarganya.
"Oalah, kasian sekali kamu nak. Ya sudah kamu tinggal disini saja dengan Amanda," tukas Risma sambil mendekati Sukma dan mengusap perutnya.
"Iya nak, kamu tinggal disini saja. Kenapa kamu harus menyuruhnya pergi Gilang. Apa kamu tidak punya perasaan hah?" pekik Bhaskara yang merasa kesal dengan apa yang dikatakan Gilang.
"Iya kek, iya," ujar Gilang sambil menundukkan kepalanya.
Padahal Gilang mengatakan itu hanya karena agar keluarganya bisa menerima Sukma. Gilang pura-pura mengusir Sukma agar keluarganya memberikan izin untuk tinggal bersama mereka.
"Syukurlah rencanaku berhasil," gumam batin Gilang.
Sementara Amanda hanya melirik Gilang sesekali. Amanda seolah tahu tentang apa rencana suaminya. Setelah pembicaraan itu seluruh keluarga beristirahat lalu makan siang bersama.
Mereka berbincang satu sama lain dan membicarakan banyak hal. Namun berbeda dengan Sukma yang justru melamun saat melihat kebersamaan keluarga Amanda dan Gilang.
__ADS_1
"Ternyata seperti ini rasanya memiliki sebuah keluarga yang lengkap. Begitu hangat, begitu menyenangkan. Rasanya begitu bahagia saat bisa bersama mereka, padahal aku baru saja bertemu dengan mereka," gumam batin Sukma yang merasa sedih sekaligus senang.